
"jadi ada apa? kalo bukan mau beli baju. tumben kesini sendiri biasanya juga kan selalu bareng bang sandi." Sofi membuka suara setelah mereka semua duduk.
"ehmmm sebenernya saya mau cari zifa Bu." ucap Hasbi malu-malu.
dan raut wajah Syahnaz sudah berubah semakin cemberut dan mengumpat kesal.
Sofi juga agak terkejut namun entah kenapa ada rasa bahagia mendengar Hasbi mencari zifa.
"ada apa cari-cari zifa Hem? hayooo jangan-jangan kamu...." Bu Sofi menggoda Hasbi dengan nada bicaranya.
"oh zifa namanya." Syahnaz bicara tanpa menoleh ke arah siapapun. matanya mengarah ke ponsel yg ia genggam.
"ia sayang nama karyawan baru ibu itu zifa. kamu belum pernah ketemu dia ya. ya ampun ibu lupa mengenalkan kamu sama dia. padahal waktu kamu jemput ibu dia ada di toko." ucap Sofi sambil membelai rambut panjang Syahnaz.
"gak perlu Bu. aku juga GK keberatan kalau gak di kenalin. gak penting-penting banget kok." Syahnaz masih memandangi ponselnya tanpa menoleh kesiapapun.
"hey kok kamu gitu si. zifa itu anak baik ko, kamu pasti bisa berteman dengannya. zifa itu... " belum selesai Sofi bicara.
"gak perlu Bu. makasih, Syahnaz naik ke atas dulu ya Bu, mau ke toilet." ucapnya lalu pergi tanpa menghiraukan Sofi yg mencoba menahannya.
"Syahnaz kamu gak lagi ngambek kan." ucap Sofi yg mengikuti langkah Syahnaz namun tidak ikut naik ke tangga.
tidak ada jawaban dari atas. dan Sofi berpikir Syahnaz tidak mendengar nya karna sedang di dalam toilet.
Sofi kembali ke tempat duduknya. dan kembali memulai pembicaraan dengan Hasbi.
"Hasbi.. Syahnaz kenapa ya, ko tumben dia kaya gitu. apa jangan-jangan dia cemburu sama kamu." Sofi bicara dengan wajah sok polos dan kebingungan.
padahal jelas ia tahu Syahnaz menyukai Hasbi sejak pertama ia bertemu dengan Hasbi. saat Hasbi mulai jadi pelanggan setia sandi dan sekarang sudah sangat dekat dengan sandi.
tapi Syahnaz selalu menyembunyikan perasaannya itu dari Sofi dan sandi. dan ia selalu tidak mengaku saat di tanya tentang perasaan yg ia pendam untuk Hasbi.
"hah cemburu. kan tadi Syahnaz bilang mau ke toilet." Hasbi seakan tidak terima dengan tuduhan Sofi.
"oh ia ya." Sofi tertawa kecil melihat reaksi Hasbi yg ternyata malah tidak peka dengan sikap cemburunya Syahnaz padanya.
"jadi kenapa kamu cari zifa? apa dia ngelakuin kesalahan dalam bekerja nya?"
"enggak Bu bukan itu. hemm saya cuma mau ketemu zifa aja. zifa kemana Bu? ko gak ada?"
"zifa..." Sofi terdiam sejenak aku bilang gak ya tentang kejadian tadi pagi. tapi kenapa ya aku merasa Hasbi bisa menolongku dalam situasi ini. kalo aku bilang bang sandi naksir zifa. gimana ya reaksi Hasbi. Sofi malah larut dalam lamunannya yg membuat Hasbi menunggu jawaban Sofi.
"jadi zifa kemana Bu? Bu... ko malah bengong sih."
__ADS_1
Sofi agak terkejut mendengar Hasbi memanggilnya.
"eh ia maaf. ibu cuma lagi banyak pikiran aja, jadi gak fokus. tadi kamu nanya apa."
"ya ampun ibu bahkan sampai lupa saya tanya apa tadi. ibu lagi mikirin apa sih." Hasbi mencoba memberikan perhatian pada Sofi yg sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"gak ada ko. gak papa. tadi kamu tanya apa?"
"zifa.. tadi Hasbi tanya zifa kemana Bu ko gak ada?" ucap Hasbi mengulangi pertanyaannya.
"zifa tadi ada, cuman dia izin untuk libur karna ada keperluan mendadak." Sofi menjelaskan.
"emmm Hasbi. ibu boleh tanya sesuatu gak?"
"apa Bu? tanya aja."
"apa kamu menyukai zifa?"
Hasbi terkejut mendengarnya namun ada senyuman di bibirnya ketika mendengar pertanyaan Sofi.
"eh ko ibu nanyain itu. kenapa?"
"jawab dulu Hasbi baru kamu nanya. kamu suka gak sama zifa? gimana perasaan kamu ke zifa?"
Sofi tersenyum mendengarnya. namun tidak untuk seseorang yg sedari tadi bersembunyi di tengah-tengah tangga antara di atas dan di bawah. ia mendengar kan semuanya dan membuat hatinya hancur dan terluka.
jadi dia suka sama yg namanya zifa. sia-sia gue nungguin dia. suka sama dia sejak lama. sejak dia dan gue masih sekolah. huh melelahkan. untuk apa Lo suka sama orang yg gak perduli sedikitpun sama perasaan Lo Syahnaz. bodoh... bodoh...
tanpa diminta butiran-butiran bening mengalir di pipinya. ia kembali ke ruangan lantai atas dan menjatuhkan diri di ranjang. Syahnaz menangis dengan menutup wajahnya dengan bantal dan memposisikan badannya tengkurap. menangis tanpa suara itu yg ia lakukan agar tidak ada yg menyadarinya.
"gue benci sama Lo Hasbi gue benci.... " Syahnaz berteriak namun ia bekap suaranya dengan bantal yg ia peluk.
"bener kamu suka sama zifa? maksud ibu suka dalam arti cinta. sayang gitu, bukan hanya sekedar mengagumi fisik saja." Sofi mencoba meyakinkan Hasbi.
"iya Bu, Hasbi cinta dan sayang sama zifa dalam waktu yg singkat. padahal waktu itu cuma beberapa jam saja Hasbi bersama zifa. tapi perasaan ini sudah mengatakan kalau menginginkan nama zifa ada di dalamnya."
Sofi semakin melebarkan senyumnya. di benar-benar cinta sama zifa. ini berarti dia juga pasti mau berkorban untuk wanita yg ia cinta.
"Hasbi apa kamu bisa bantuin ibu?"
"bantu apa Bu?".
------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
ditempat lain.
"bang aku gak mau bang." ucap gadis kecil yg sedang menangis dalam genggaman sandi.
"kamu harus mau, ini tuh kenikmatan dunia." ucap sandi dengan nada menggoda.
kalimat itu terdengar sangat menjijikan di telinga sang gadis. ia bahkan baru berumur 15 tahun dan sudah dipaksa melakukan hal seperti itu.
sandi pun menarik lengan gadis malang itu. menuju kamarnya.
"bang saya mohon jangan lakukan itu."
"diam dinda, setelah ini aku kan berikan apapun yg kamu mau. kamu minta smartphone terbaru, motor, baju-baju bagus atau apa? kamu bilang aja. aku akan berikan semua untuk kamu. jadi kamu harus nurut ya. sayang."
sandi melakukan aksi bejatnya di dalam rumahnya. tanpa ada siapapun yg menyadari perbuatan biadabnya pada gadis malang yg bernama Dinda.
dia adalah gadis cantik yg tinggal di sebrang rumah sandi. sejak awal sandi memang sudah mengincarnya. saat usia Dinda masih 10 tahun. dan sudah lama ia mendekati Dinda. bermodus menjadi tetangga yg ramah untuk keluarga Dinda.
dan menganggap Dinda sebagai anaknya bila di hadapan orang tua Dinda, hingga kedua orang tua Dinda tidak pernah melarangnya untuk mendekati Dinda Karana mereka tau kalau sandi sudah lama tidak mendapatkan anak dari Sofi.
"bang sakit bang lepasin Dinda."
"diam dinda.. sebentar lagi yah."
Dinda hanya bisa pasrah dan menangis. entah apa yg sedang terjadi. Dinda merasa dirinya tidak bisa berontak dengan kuat, ia merasa seakan menyukai apa yg di lakukan sandi, namun sesekali ia menangis dan memohon untuk di lepaskan.
tapi ia tidak berani untuk berteriak meminta tolong. seperti ada yg sedang menahan pita suaranya untuk berteriak. dan seperti ada yg membisikkan telinganya agar ia menyukai apa yg dilakukan sandi padanya.
sandi selesai melakukan aksi bejatnya dan terbaring lemas di sebelah Dinda yg masih dalam pelukannya. Dinda mencoba melepaskan pelukan sandi hingga ia terduduk masih dalam pelukan sandi di perutnya.
Dinda menutup mulutnya terkejut ketika ia melihat ada bercak darah di seprei yg ia tiduri. iapun menjerit dan menangis histeris hingga membangunkan sandi yg baru saja hendak terlelap.
"kamu kenapa menangis? ada apa sayang?" ucap sandi membelai rambut panjang Dinda.
Dinda tidak menjawab dan terus melihat ke arah sprei yg sudah di penuhi bercak darah.
sandi melihat apa yg Dinda lihat, ia tersenyum licik di belakang Dinda. itu yg gue cari... darah perawan. makasih Dinda sayang, aku akan menanggung semua keperluanmu setelah ini. gumamnya dalam hati.
"ya ampun dinda jadi ini yg bikin kamu menangis, maafin Abang ya Dinda.. Abang gak sengaja, tadi Abang bener-bener gak kuat pas liat kamu datang kerumah Abang pake rok mini." ucap sandi sambil memeluk tubuh Dinda dan membaringkan nya di dadanya.
BERSAMBUNG......
INI CAST UNTUK DINDA ANJANI
__ADS_1