Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Penggemar baru zifa


__ADS_3

setelah selesai merapikan tempat tidur ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kembali bekerja.


zifa sangat rajin dan semangat melakukan aktivitasnya entah karna cita-citanya yg ingin menjadi orang sukses dan membahagiakan kedua orang tuanya atau karna ada seseorang yg sudah memikat hatinya. tidak zifa tidak semudah itu terpikat oleh laki-laki mungkin ia hanya merasa nyaman.


setelah selesai mandi dan berdandan mengenakan pakaiannya juga hijab dan parfumnya. zifa keluar kamar untuk sarapan.


di meja makan hening tanpa suara semua sibuk dengan makanannya.


setelah selesai sarapan semua berpamitan untuk pergi.


ayah berangkat ke pondok untuk mengajar. Zakiah pun pamit untuk berangkat kerja. ayu adik zifa berangkat ke sekolah. dan Fauzi ia masih sip malam kerja tapi ia tetap pergi untuk menyelesaikan kuliahnya yg sudah mau semester akhir.


zifa pun berpamitan dengan ibunya. "Bu zifa berangkat dulu ya, assalamualaikum." ucap zifa lalu mencium punggung tangan ibunya.


"iya nak wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan jangan lupa makan dan jaga dirimu baik-baik ya," kata ibu panjang lebar dan masih menggenggam tangan zifa.


"iya bu, yaudah zifa berangkat dulu ya." dan ibu pun melepaskan genggaman nya setelah zifa memberi isyarat dengan matanya bahwa ibu belum melepaskan tangannya.


ibu ini kenapa si gak biasanya kaya gini, aku pamit kerja ke toko yg jaraknya cuma seperpat jam saja udah kaya mau lepasin aku kerja jauh keluar negri. gumam zifa sambil berjalan keluar rumah.


zifa selalu jalan kaki untuk berangkat ketempat ia bekerja. ia berjalan tanpa menengok kanan kiri walupun terkadang ada beberapa laki-laki yg menyapa zifa dan memanggilnya meskipun mereka tidak mengenal zifa.


mereka adalah laki-laki yg bekerja di ruko-ruko yg selalu zifa lewati.


"assalamualaikum ukhti." kata seseorang di sebrang sana. zifa masih diam dan terus berjalan tanpa menghiraukan asal suara itu.


"hai Gadis berkerudung merah." laki-laki diseberang berikutnya dengan sedikit berteriak dengan wajah tersenyum dan tangan yg melambai. ya yg mereka panggil itu zifa, karna hanya zifa yg memakai kerudung berwarna merah diantara para pejalan kaki yg lain. zifa masih tetap diam dan terus berjalan.


dan akhirnya sampai juga iya ketempat nya bekerja.


disana sudah ada Bu Sofi yg sedang membuka gembok pintu ruko yg terbuat dari besi besar dan lebar. "eh zifa udah Dateng, yuk bantu ibu." kata Bu Sofi sambil membuka pintu besi itu dibantu dengan zifa karna butuh cukup tenaga untuk membukanya.


mereka pun merapikan susunan pakaian, patung-patung model baju dan membersihkan setiap sudut toko agar bersih dan steril.


"selesai" kata zifa sambil tersenyum.


"zifa kamu udah sarapan belum?" kata Bu Sofi.


"sudah bu, ibu sudah sarapan?" tanya zifa balik.

__ADS_1


"sudah, yaudah ibu tinggal dulu ya. selamat bekerja dan semangat" kata Bu Sofi lalu mengangkat genggaman tangannya seraya menyemangati zifa.


"siap Bu." kata zifa mengangkat tangan kanannya hormat. Bu Sofi tersenyum lalu berlalu dengan sepeda motornya.


ini hari Senin jadi Bu Sofi harus pergi ke sekolah tempat ia mengajar.


dan zifa pun duduk sambil memainkan ponselnya sambil menunggu datangnya pembeli. biasanya kalo hari Senin setiap toko agak sepi karna orang-orang semua ada yg sekolah dan ada juga yg bekerja.


jadi zifa hanya duduk dan memainkan ponselnya mendengarkan beberapa lagu.


ia melihat ke sebrang toko sudah buka tapi belum terlihat seseorang yg ia ingin lihat. Dimas. sejak pertemuannya kemarin zifa merasa hatinya bersahabat dengan dimas.


tin sebuah motor berhenti didepan toko.


zifa berdiri dan melihat ke arahnya untuk menyambut, karna itu adalah seorang pembeli.


"silahkan ka ada yg bisa saya bantu." kata zifa sopan.


"eh kamu baru ya disini ko saya baru liat si?" kata seorang pemuda dengan setelan kemeja pendek dan tas selempang kecil yg ia pakai melingkar di bahu hingga ke pinggang, juga celana jeans pendek dan topi Adidas berwarna hitam yg ia kenakan.


"iya kak saya baru. ada yg bisa saya bantu?" kata zifa mengulangi pertanyaannya yg belum di jawab.


"bang sandi belum datang kak." kata zifa singkat.


pemuda itu duduk di kursi panjang yg terletak di depan ruko tempat zifa duduk tadi.


"kira-kira kapan datangnya?" tanya pemuda itu, dan belum sempat zifa menjawab pemuda itu mengulurkan tangannya.


"aku Hasbi. kamu?"


zifa tidak membalas jabat tangan Hasbi.


"zifa. saya gak tau kapan bang sandi datang." kata zifa.


"kalau begitu aku tunggu disini gak papa kan."


Hasbi tersenyum dengan wajah hitam dan tidak manis sedikitpun dia bukanlah pemuda yg tampan. tinggi badannya bahkan kalah dengan tinggi badan zifa. rambut kriting namun tetap rapih tidak membuatnya terlihat keren.


tapi zifa sama sekali tidak memandangnya seperti itu, zifa memang tidak mudah berbaur dengan laki-laki kecuali sebuah keajaiban yg menyentuh hatinya hingga ia bisa berteman dengan dimas. mungkin karna Yg maha kuasa yg mengatur setiap hati manusia.

__ADS_1


"maaf ka bukannya saya ngusir tapi, bang sandi pasti lama datangnya karna kata Bu Sofi bang sandi jarang ke sini kalau bukan dia tidak sengaja datang, mungkin Kaka bisa hubungi bang sandi dan menunggunya ditempat lain atau gimana gitu." kata zifa mencoba membujuk Hasbi untuk pergi secara halus.


"ehmmm kalo gitu saya minta nomor handphone kamu aja gimana, nanti kamu kabari saya kalo sudah ada bang sandi. soalnya kebetulan saya gak punya nomor handphone bang sandi." kata Hasbi masih memandangi wajah zifa.


"gimana ya ka, saya gak bisa kasih nomor handphone saya." zifa.


"kenapa?" tanya Hasbi dengan wajah agak melas.


"itu privasi saya, jadi gak bisa ka maaf ya." kata zifa.


"yaudah kalo gitu aku tunggu sini aja ya." kata Hasbi lalu mengambil ponselnya di dalam tas dan memainkannya.


"eh kak gimana kalo saya hubungi Bu Sofi aja, soalnya saya juga gak punya nomor bang sandi tapi nomor Bu Sofi ada kok." kata zifa lalu menekan layar ponselnya dan menelpon Bu Sofi, tapi panggilan tidak dapat terjawab. haduh aku lupa Bu Sofi pasti lagi sibuk mengajar, gimana ini caranya ngusir orang ini. gumam zifa.


"yaudah saya minta nomor Kaka aja nanti saya hubungi kalo udah ada bang sandinya." kata zifa.


huh gimana ya sebenarnya gua lebih betah nunggu disini, abis cewek ini manis banget si, zifa zifa zifa namanya cantik. gumam Hasbi dan memandangi zifa sambil senyum-senyum.


"kak hei" zifa menyadarkan lamunan Hasbi karna suara zifa agak membentak tapi masih terdengar lembut.


"eh iya maaf, ni nomor nya" Hasbi menyerahkan secarik kertas. kartu nama Hasbi.


"yaudah kak nanti saya hubungi kalo bang sandi sudah datang, terima kasih atas kunjungannya silahkan." zifa mempersilahkan jalan untuk Hasbi padahal jalan begitu luas dan ia tidak menghalangi jalan sandi.


huh sorry ya kalo gua agak lancang gini. gumam zifa.


"eh ia nanti hubungi ya, jangan sampai enggak soalnya pesanan saya mau saya pakai nanti malam jadi harus cepat hubungi nya." kata Hasbi masih berdiri.


"iya nanti saya segera kabari kalo sudah ada bang sandi." kata zifa.


dan dengan berat hati Hasbi pun pergi berlalu meninggalkan toko dengan motornya.


HASBI ANDRIANSYAH.



**BERSAMBUNG......


disini kisah zifa memang sebagai seorang primadona yg di gemari banyak orang, tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan eittsss bukan LGBT ya perempuan itu hanya sebagi penggemar untuk sekedar menjadi sahabat atau saudara. 😊😊😊**

__ADS_1


__ADS_2