
"iya Bu, Hasbi cinta dan sayang sama zifa dalam waktu yg singkat. padahal waktu itu cuma beberapa jam saja Hasbi bersama zifa. tapi perasaan ini sudah mengatakan kalau menginginkan nama zifa ada di dalamnya."
Sofi semakin melebarkan senyumnya. dia benar-benar cinta sama zifa. ini berarti dia juga pasti mau berkorban untuk wanita yg ia cinta.
"Hasbi apa kamu bisa bantuin ibu?"
"bantu apa Bu?".
Sofi mulai menceritakan apa yg telah terjadi antara sandi dan zifa. ia mengatakan sandi ingin menikahi zifa dengan caranya. Hasbi sudah menduga kalau sandi memang menyukai zifa, tapi ia tidak akan menyangka kalau sandi sampai ingin menikahinya dan memiliki zifa seutuhnya. Hasbi sempat geram dan mengepalkan tangannya, namun ia lepas kembali setelah mendengar ucapan Sofi untuk melakukan rencana mereka dengan hati dan pikiran yg dingin. agar tidak terjadi perang dan permusuhan.
Di Rumah Sakit.
"dokter, Dimas sudah sadar." ucap zifa pada dokter tampan yg merawat Dimas. zifa begitu semangat memberikan kabar tersebut.
dokter itu pun mulai memeriksa detak jantung Dimas, pernapasannya. juga semua bekas lukanya.
"Alhamdulillah saudara Dimas sudah membaik dan bisa pulang besok pagi, karna malam ini akan ada kontrol sekali lagi untuk benar-benar memulihkan luka dalamnya." jelas sang dokter pada zifa dan Muzaki.
"Alhamdulillah terimakasih dok." ucap Muzaki.
"zifa kalau gitu sekarang kita pulang kerumah ya, kasian ibu dirumah pasti nungguin kita."
"tapi yah, nanti Dimas siapa yg jaga. dia disini tinggal sendiri yah, gak ada sanak saudara karna dia merantau dari P***ng kesini yah."
ohh jadi nama gadis manis ini zifa, benar-benar nama yg cantik seperti pemiliknya.
"dek zifa tenang saja, disini Dimas banyak yg menjaga. ada saya dan juga para perawat lainnya." jelas dokter tampan itu sambil menampilkan senyum manisnya.
DR. KEVIN DARMANSYAH PUTRA

"ia zifa. tuh dokter aja bilang begitu, kamu juga butuh istirahat nak. nanti kalau kamu sakit gimana? kamu juga belum makan dari tadi." ucap Muzaki membujuk putrinya.
__ADS_1
"ehmm ia ayah zifa pulang. dokter tolong jaga Dimas ya, saya pamit pulang dulu. nanti kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi ayah atau zifa langsung juga boleh."
"tapi saya belum memiliki nomor ponsel dek zifa dan pak Muzaki." ucap Kevin sang dokter tampan.
"oh ia bener. yaudah ni nomor zifa." tangan zifa menuliskan nomor nya di sebuah kertas kecil yg berada di meja dekat ranjang tempat Dimas berbaring.
"dan ini nomor ayah." ia menuliskan beberapa angka lagi. "ini dok nanti kabari zifa atau ayah ya, jika ada apa-apa dengan Dimas. makasih ya dok, zifa pulang dulu." zifa merasa sedang berbicara pada kakaknya sendiri.
Kevin tersenyum di belakang zifa dan Muzaki yg sedang melangkah keluar. ini kesempatan untuk bisa lebih kenal dan lebih dekat dengannya. gumam Kevin dengan penuh semangat dan percaya diri.
sedangkan Dimas sudah kembali tidur saat zifa hendak pergi.
zifa dan Muzaki keluar dari halaman rumah sakit dengan taksi online yg sudah dipesan oleh zifa. merekapun pulang untuk beristirahat karna hari sudah malam.
Kevin kembali keruang kerjanya dan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya yg berputar karna gerakan badannya. ia kembali membayangkan wajah zifa yg begitu manis dan menarik perhatiannya. Kevin mengambil ponselnya dari dalam saku dan kertas kecil yg tadi di berikan zifa padanya.
ia mengetikkan angka demi angka dan menuliskan nama Zifa Manis lalu ia save nomor itu di ponselnya. sambil sesekali ia tersenyum dan tertawa kecil dengan nama yg ia tulis untuk menyimpan nomor zifa.
"gak ada salahnya aku menyimpan nomornya dengan sedikit nama tambahan. toh dia memang manis, manissss sekali seperti madu hehe" ia tertawa sendiri sambil kembali mengingat-ingat sikap zifa yg sangat menggemaskan.
(...)
"Lo kenapa Naz? Lo nangis ya!"
(...)
"oke.. oke tenang dulu ya, gue bisa temui Lo sekarang tapi di kafe dekat rumah sakit tempat gua kerja ya. Lo mau kan kesana?"
(..)
"oke gue tunggu Lo disana ya. Lo jangan nangis terus dong. kita ketemu sekarang. Lo hapus air mata Lo dan tenangkan diri Lo sebelum lo keluar dari rumah oke."
setelah menutup panggilan teleponnya, Kevin keluar dari ruang kerjanya dan meminta pada sekretarisnya untuk berjaga selagi ia pergi keluar.
__ADS_1
DI KAFE.
Kevin duduk di kursi dekat jendela, dan tak lama kemudian seorang gadis berambut panjang yg terurai dengan kacamata hitam yg ia pakai untuk menutupi mata sembabnya. wanita itu datang menghampiri Kevin dan duduk di kursi depan Kevin hingga posisi mereka berhadapan.
Kevin menunggu gadis di hadapannya ini yg memulai pembicaraan karna ia takut salah-salah kata bila bertanya lebih dulu padanya.
"Kevin..."
"ya Syahnaz."
"Kevin gue benci dia. gue benci sama dia Kevin hiks.. hiks.." Syahnaz menitikan air matanya. lalu Kevin beranjak dari tempat duduknya dan duduk di sebelah syahnaz, ia memeluk pundak gadis itu. "apa yg harus gue lakukan buat Lo Syahnaz?" Kevin bicara dengan tatapan kedepan sambil tangannya membelai rambut Syahnaz yg panjang dan lembut.
"gue cuma mau dia ngerti sama perasaan gue. selama ini gue selalu bersikap baik dan manis di depannya, mencoba memberikan isyarat tentang perasaan gue, tapi dia sama sekali gak merespon. dan sekarang tiba-tiba dia datang ke toko untuk mencari wanita lain. dia bahkan mengakui perasaannya pada wanita itu di depan ibu. hiks.. hiks.. kevin gue benci sama dia huaaaaaa" tangisan Syahnaz semakin menjadi sampai beberapa pengunjung yg lain pun mulai memperhatikan mereka.
"tenang Syahnaz tenang. gue bakal bantuin Lo. tapi Lo jangan nangis kaya gini dong. liat tuh orang-orang pada ngeliatin kita." huh gue salah milih tempat ini, harusnya gue pilih ke tempat yg lebih privasi ketimbang tempat umum.
"Lo mau bantuin apa hah? Lo kenal juga enggak sama laki-laki yg gue maksud." Syahnaz melepaskan pundaknya dari pelukan Kevin.
"ya Lo kenalin gue dulu lah. baru ntar kita menyusun rencana. biasanya laki-laki itu tidak mudah menolak jika ada yg mencintainya dengan tulus." Kevin menyunggingkan bibirnya.
"Lo tau dari mana? emang iya kaya gitu?"
"ya tau lah kan gua juga laki-laki nanaz haha"
"ah itu mah elo kali vin, "
"eh bukan gue aja Naz, tapi hampir semua laki-laki begitu. hampir... hampir ya Naz, tergantung seperti apa wanita yg mencintainya, ya kalo modelnya kayak Lo gini sih, gue yakin tuh si doi gak bakalan nolak. secara temen gue yg satu ini kan cuaaaanttiikkh sejagat raya. setelah ibu gue dan..."
"lebay Lo!!! hahaha eh tunggu Lo bilang gua paling cantik setelah ibu Lo dan siapa tadi? wah.. wah wah.. berarti Lo menempatkan gue di posisi terakhir ya." wajah Syahnaz kembali ceria.
sekilas info.
Syahnaz dan Kevin adalah sahabat dekat sejak duduk di bangku taman kanak-kanak mereka selalu bersama hingga lulus dari sekolah menengah pertama dan mereka memutuskan untuk sekolah di tempat yg berbeda karna tujuan dan cita-cita mereka yg juga berbeda. Kevin melanjutkan sekolah SMK jurusan kedokteran, dan setelah lulus ia melanjutkan kuliahnya di luar negri khusus kedokteran. sedangkan Syahnaz melanjutkan sekolah SMK jurusan multimedia dan sekarang ia masih kuliah jurusan multimedia. Syahnaz bercita-cita ingin menjadi seorang reporter. dan kenapa sampai sekarang ia belum juga mewujudkan cita-citanya Karana dulu ia sempat mogok kuliah sehingga ia terlewat jauh oleh Kevin sahabatnya yg kini sudah menjadi kepala dokter di rumah sakit milik ayahnya.
__ADS_1
**BERSAMBUNG.....
Sebenarnya aku sudah menulis 2 episode kemarin, episode 22 dan 23 tapi yg berhasil melewati review baru episode 22 dan sekarang aku menulis episode 24 padahal yg 23 aja belum berhasil lewat di review.😁 aku semangat kok. makasih yg udah baca novel ku dan yg udah kasih like juga komentarnya. jangan lupa vote aku juga ya dengan poin kalian, jika kalian tidak punya koin. pakai poin aja juga gak papa😁🙏**