Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Pengakuan Sandi


__ADS_3

Sofi menundukkan kepala merasa malu dengan pengakuan suaminya tentang dirinya. zifa masih memangku Dimas yg terbaring lemas.


zifa sudah membalut kening Dimas yg terluka dengan merobek sehelai kain dari kerudung pashmina yg ia pakai. ingin rasanya zifa segera mengakhiri perbincangan sandi pada istrinya. ia ingin segera mengobati luka Dimas. ia sangat khawatir dengan keadaan Dimas sekarang.


namun Dimas memberi isyarat agar zifa tenang dan tidak mengkhawatirkan dirinya. biarkan saja sandi berkoar-koar pada Sofi hingga ia puas.


"maaf bang, maafin aku. aku gak tau kalau ternyata Abang punya perasaan tidak nyaman sama aku. Abang gak pernah bilang kaya gitu sebelumnya ke aku. Abang selalu diam dan gak berkomentar dengan penampilan aku. Abang cuma senyum. dan aku fikir Abang menerima aku apa adanya. seperti aku yg menerima Abang apa adannya." jawab Sofi dengan suara bergetar ketakutan akan reaksi sandi berikutnya.


"Be*o lu." bentak sandi sambil mendorong kening Sofi dengan jarinya. hingga Sofi terdorong kebelakang. "sekolah doang lu tinggi. sarjana, bahkan jadi guru tapi otak lu kaga ada. lu gak pernah belajar ya gimana caranya buat jadi istri yg baik buat suami ha? gua senyum gua diem liat lu kaya gitu harus nya lu tau diri. gua udah coba buat ngejaga perasaan lu. tapi ternyata jelek lu dan kebodohan lu tuh nyata dan awet banget ya selama 12 tahun sof.. 12 tahun. lu gak mikir-mikir juga ya kenapa gua kasar sama lu. kenapa gua sering ngelirik cewe lain yg lebih cantik. lu gak peka-peka dan sok jadi wanita yg kuat dan taat tapi nyatanya lu gak sama sekali jadi istri yg baik buat gua. jadi jangan salahkan gua kalau nanti gua bakal nikah lagi." ucap sandi tegas disusul dengan seringai di bibirnya lalu melihat kearah zifa yg masih duduk memangku kepala Dimas di pangkuannya.


"heh bocah ingusan lu betah banget ya disitu. cari kesempatan dalam kesempitan lu." sandi menendang kaki Dimas. dan Dimas mulai bangun dari pangkuan zifa lalu duduk di sebelah zifa.


"bang zifa mohon ijin mau bawa Dimas berobat bang kasihan Dimas luka nya sudah semakin parah." Dimas memohon dengan wajah memelas.


"biarin aja dia pergi sendiri. ngapain kamu sok sok an mau bawa dia berobat. lupa kamu sekarang masih jam kerja?." ucap sandi


"bang.... Abang boleh menikah lagi jika itu bisa membahagiakan hati Abang." ucap Sofi yg sontak membuat zifa dan Dimas kaget dan sandi tersenyum puas.


"tapi Sofi mohon bang, jangan nikahi wanita yg jauh dari usia Abang. ingat bang, Abang punya 2 anak gadis yg masih remaja. kasihan mereka bang " lanjut Sofi yg mulai berdiri mendekati sandi.

__ADS_1


"kenapa harus kasihan sama mereka. apa pengaruhnya sama mereka. kalo gua nikah sama gadis muda hah?. lu kalo ngijinin gua nikah lagi, yaudah gak usah atur-atur gua buat nikah sama siapa." jelas sandi


" bang karma itu ada bang. apa Abang mau kelak anak gadis Abang di nikahi laki-laki yg jauh usianya dari mereka." ucap Sofi membujuk


Dimas dan zifa menatap mereka heran dan bingung. ingin rasanya mereka pergi dari situasi ini. dan keluar dari ruangan ini.


Dimas belum juga pergi karna ia masih mengkhawatirkan zifa jika ia tinggal nanti. maka Dimas masih berusaha untuk kuat menahan semua luka-luka di tubuh dan wajahnya demi menjaga zifa.


sedangkan zifa sangat berharap Dimas segera pergi untuk cepat mengobati semua luka-luka nya itu. zifa sudah sangat khawatir dan gak tega melihat Dimas masih duduk disampingnya dengan penuh luka.


"gua gak masalah kalau nanti anak gua nikah sama laki-laki yg jauh beda usiannya dari mereka yg penting mereka bahagia dan saling cinta. karna cinta itu kan gak Mandang usia. ia kan zifa" ucap sandi lalu menatap zifa dengan senyum khasnya yg sok imut tapi malah menyeramkan di mata zifa.


"eh gak tau bang. tapi kalau zifa pribadi akan memilih pendamping yg sebaya dengan zifa. seperti." zifa melihat ke arah dimas dan tersenyum.


"ohh jadi gitu ya.. jadi kamu udah jatuh cinta sama bocah ingusan ini?" ucap sandi yg mulai mendekati Dimas dan melayangkan tangannya hendak menampar Dimas. namun dengan sigap zifa menggeser duduknya menutupi Dimas hingga ia lah yg kena sasaran dari tamparan sandi.


sandi segera duduk di hadapan zifa dan mencoba mengelus pipinya yg tadi kena tampar. namun zifa menepis tangan itu dan menyeret Dimas keluar dari ruangan menuju ke lantai bawah.


"zifa mau kemana kamu. zifa Abang minta maaf." sandi mengikuti langkah mereka.

__ADS_1


Sofi masih terduduk diam dengan air mata yg tiada hentinya mengalir. ia begitu hancur dan sakit merasa tidak berguna. karena melihat suaminya menunjukkan rasa cemburunya pada wanita lain di hadapan matanya.


"aaarrrrgghhh aku mau mati aja ya Allah. aku gak kuat aku gak sanggup dengan semua ini." Sofi menangis dan memukuli kepala dan perutnya. ia benci dan marah pada dirinya sendiri.


Dilantai bawah


zifa sudah keluar dari halaman toko dan masih menarik lengan Dimas. "zifa... zifa kamu gak boleh pergi. kamu masih ada kontrak kerja sama saya zifa." teriak sandi yg berhenti mengejar zifa.


zifa berbalik dan berkata sambil menahan air mata yg sudah terlanjur mengalir sedari tadi saat ia kena tamparan sandi yg seharusnya untuk Dimas.


"saya berhenti bekerja disini. dan saya akan mengurus pembatalan kontrak kerja saya. saya akan bawa keluarga saya untuk membantu membereskan semua ini." kata-kata zifa terdengar mengerikan dan mengancam di telinga sandi.


seketika kaki sandi bergetar dan mulai terasa lemas. ia bukan takut akan ancaman zifa yg akan mengadukan pada keluarganya tentang perlakuannya pada zifa. tapi ia sudah terlanjur sangat mencintai zifa.


ia sangat ingin memiliki zifa seutuhnya. ia tidak perduli dengan usia atau apapun yg menghalanginya. dan ia hanya takut akan kehilangan zifa.


sandi merasa dirinya kembali muda saat pertama ia melihat zifa. dan ia juga semakin melupakan perasaannya pada Sofi. karna rasa cinta yg terus bertambah setiap ia melihat zifa. ia juga merasakan sakit hati dan cemburu setiap melihat zifa dekat dengan laki-laki lain.


sandi terdiam dan terhanyut dalam lamunannya. apa yg harus ia lakukan agar zifa jatuh ke pelukan nya. dan menerimanya sebagai pendampingnya.

__ADS_1


sandi terus berfikir hingga akhirnya ia tersadar dari lamunannya dan segera pergi dengan motornya meninggalkan Sofi yg masih berada di dalam toko. ia bahkan tidak memikirkan wanita itu sama sekali. yg ada dalam pikirannya hanyalah zifa. bagaimana ia bisa mendapatkan zifa dan memilikinya seutuhnya.


Bersambung.....


__ADS_2