
...****************...
"Hallo... " Suara manis itu bergema di telinga Akbar.
"Alhamdulillah Cil, lo angkat telpon gue juga, dari mana aja lo sedari tadi pagi gue hubungin kagak di angkat-angkat, centil kan lo pasti di sekolah. "
" Ya Allah Bar,handphone gue tuh tadi lowbat mana semua sibuk nyari bu bos lagi." Suara sayu itu masuk ke telinga Akbar membuat Akbar tak tega untuk memarahi bocil nya itu,yang sedari tadi berusaha ia hubungin tetapi tidak bisa-bisa.Cara Hellen dan Akbar terkesan berbeda dari pasangan lainya, mereka lebih suka manggil satu sama lain dengan nama mereka masing-masing. Tak ada embel-embel sayang ,atau apapun itu, kecuali si Akbar yang suka manggil Hellen dengan panggilan bocil.
"Maaf deh, habisnya lo sih ngilang mulu, gue mau ngasih tau Velisa dimana jadi enggak bisa kan. " Ucap Akbar yang berkata manis agar tidak menyakiti hati bocil nya itu.
"Emang Akbar tahu dimana bu bos? " Suara Hellen pun kembali seperti sedia kala yang cempreng dan suka ngegas.
"Ya iya lah gue Akbar gitu ya pasti tahu lah." Ucap Akbar sembari memuji dirinya sendiri.
Huft.... Helaan nafas Hellen terdengar jelas di telinga pria nya itu, membuat Akbar sedikit tenang ,itu berarti Hellen sudah tidak khawatir lagi dengan Velisa.
"Jadi dimana bu bos? ".Belum sempat mendapatkan jawaban dari Akbar, Freya tiba-tiba memanggilnya dari ujung koridor kelas.
"Hell yuk cabut. " Suara tegas dari Freya membuat Hellen berhenti sejenak berbicara dengan Akbar.
"Bentar ini adat telpon dari Akbar dia tahu dimana bubos sekarang. "Teriak Hellen membalas teriakan Freya yang suaranya sebelas duabelas dengan dirinya.
" Hah.... Yang bener lo. "
Teriak Freya karena tak percaya kalau Velisa bersama Akbar.
"Budeg deh lama-lama kuping ganteng kue ntar." Cetus Akbar yang mendengar teriakan kedua wanita itu dari telpon.
"Maaf, gue kira Akbar udah pulang. " Ucap Hellen dengan polosnya.
__ADS_1
"Matamu." Bentak Akbar karena sifat polos Hellen.
"Dah gue buru-buru sampaikan ke yang lain kalau Velisa tadi di markas, lalu sekarang pulang dianterin Bima." Ucap Akbar yang terburu-buru karena akan ada acara baku hantam dengan geng mark, yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.
Tut.....
Telpon pun di tutup oleh Akbar, membuat Hellen sedikit kesal karena main tutup begitu saja tanpa berpamitan denganya.Tapi bagi Hellen ini bukan waktunya kesal karena ia harus memberitahu tentang bu bos yang baik-baik saja kepada anggota geng lainnya.
Freya , Adizti dan Kimberly berlari menuju Hellen yang duduk di depan kelas 12A yang tidak jauh dari kelas mereka.
"Jadi dimana Velisa? " Ucap Adizti sembari menguncir rambutnya ke belakang.
"Tadi kata Akbar, bu bos ada di markasnya tapi udah pulang di anterin sama Bima. "
Perkataan Hellen membuat Adizti seperti menahan amarahnya, ketika mendengar kata Bima yang barusan Hellen ucap.
Kimberly menepuk pundak Adziti yang sebentar lagi mungkin amarahnya akan meledak.
"Emm benar tuh, kita juga salah ngapain kita ikut campur, toh sepertinya Bima orang baik, ya walaupun kita baru kenal, buktinya dia nyamperin Velisa, dan mau mengantarkannya pulang. "Tambah Freya sembari menyenderkan kepalanya ke kepala Hellen.
" Yaudah yok pulang, ntar malam kita ke rumah Velisa. "Ucap Adizti yang mulai tenang karena perkataan dua sahabatnya yang membuat dirinya agak sadar.
...****************...
"Mana nih rumah lo cil? " Bima bertanya kepada Velisa namun Velisa tak kunjung menjawabnya.
"Cil.. " Bima mengeraskan suaranya tetap tak di gubris oleh Velisa.
Bima menolehkan kepalanya dan melihat ternyata gadis kecil yang sedari tadi rewel sekarang malah tertidur di sampingnya,
__ADS_1
"Cantik juga nih cewek. " Ucapan Bima membuat dirinya sendiri merasakan sesuatu yang aneh, walapun ia tak punya jantung yang bisa berdetak tapi, ia masih punya perasaan yang tak bisa ia sembunyikan yaitu perasaan benar-benar suka kepada Velisa gadis pemilik darah suci itu.
"Gak lo harus fokus pada misi lo, lo cuma harus buat dia jatuh cinta sama lo dan minum darah suci nya. " Bima mencoba menyadarkan dirinya sendiri agar tidak benar-benar jatuh hati pada gadis pemilik darah suci itu. Dengan injakan gas yang kuat Bima melanjutkan perjalanan mengantarkan bocil itu pulang. Sebenarnya Bima tahu rumah Velisa itu dimana , karena jauh sebelum Velisa lahir Valentina ibunda Bima sudah memata-matai orang tua gadis itu. Bima hanya pura-pura tidak mengetahui rumah Velisa agar ia tak curiga kepadanya.
...****************...
"Arthan Ervanda Nandaleon, kesini kamu . " suara pria yang lantang memanggilnya dengan sebutan Arthan, Vampir jahat yang di tugaskan untuk mencari darah suci, demi sebuah kekuatan yang abadi.
"Ada apa ayahanda. " Pria bernama arthan berjalan turun dari atas berbalutkan pakaian bernuansa merah, berjalan perlahan menghampiri pria yang memanggilnya , pria itu adalah Valex ayah dari seorang Arthan.
"Ayah sudah menemukan keberadaan gadis pemilik darah suci tersebut. " Valex memberitahu putranya tentang keberadaan pemilik darah suci yang sudah ia cari selama 300 tahun.
"Lalu, apa yang harus Arthan lakukan untuk ayah, haruskah Arthan menculik gadis itu dan membawanya ke hadapan ayah. " Ucapan Arthan membuat Valex sedikit tercengang, ia merasa tak sia-sia ia membesarkan Arthan dengan tangannya sendiri tanpa seorang istri.
"Jangan, Ayah tugaskan kamu untuk mendekati gadis itu, buat dia jatuh hati padamu, agar khasiat darah suci itu tidak hilang. " Ucapan sang ayah sedikit membuat Arthan kaget tetapi ia berusaha memahaminya, karena hanya dengan meminum darah suci lah mereka akan mendapatkan kekuatan yang abadi.
"Baik lah ayah, Arthan akan mendekati gadis itu. "
"Tapi kamu harus hati-hati , saat ini gadis itu sedang di dekati oleh vampir biru yang memiliki niatan sama seperti kita, pesan ayah ,jangan tunjukan kekuatan mu di depan manusia, jangan gegah kalau kamu ingin selamat. "
Arthan di lahirkan dari keluarga Vampir merah ,ibunya meninggal karena ulah manusia sehingga membuat Arthan membenci apa itu manusia, hanya Valex lah yang ia miliki, Valex dunianya apapun yang Valex katakan pasti Arthan mematuhinya,
Tatapan tajam muncul dari sorot matanya, bibir Arthan tersenyum jahat mendengar nasihat ayah tercintanya. Ia tak ingin misi yang Ayah-nya berikan gagal sia-sia karena rasa bencinya ia dengan manusia,.
"Baik ayah, Artan akan berhati-hati dan merebut darah suci kita dari Vampir biru itu."
apakah akan ada cinta segitiga antara Arthan dan Bima yang saling berebut darah suci Velisa ? apakah Arthan benar-benar mencintai Velisa. Atau justru malah ingin membunuhnya?
tunggu bab selanjutnya:🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
terimakasih...