
Dua hari telah berlalu dengan cepat Hellen yang masih tidur pulas di ranjang ICU tak kunjung bangun, tak ada tanda-tanda ia akan segera bangun dari tidur panjangnya. Kini gadis kecil itu hanya bisa meraka lihat dari kaca di luar ruangan itu, Akbar yang masih trauma akan kejadian yang menimpa Hellen tak menunjukkan barang hidungnya lagi semenjak prahara dengan Bima beberapa hari yang lalu, Velisa dan semua anggota geng yang berusaha menelfon juga tak di gurbis oleh Akbar.Bahkan, saat Kimberly menghampiri rumah pria itu hanya terdapat asisten rumah tangganya yang berada di rumah. Sedangkan Bima? Entah kemana perginya tu bocah.
"Vel! Gimana kalau kita pindahkan Hellen ke rumah sakit di Singapura? "Ujar Lintang membuat semua orang berfokus padanya.
" Betul Vel,Lagi pula orang tua Hellen juga gak ngurusin Hellen ! mereka malah sibuk dengan bisnis mereka sendiri. Anaknya koma antara hidup dan mati apa mereka peduli? Kalau bukan kita siapa lagi?" sahut Steven dengan nada kesal ketika dirinya harus mengingat bagaiamana sikap orang tua Hellen kepada putrinya sendiri itu.
"Iya gue tahu, mama gue juga nyaranin gitu, Tapi kan kita harus tetap stay di sini, untuk nyari Freya, kita gak tahu bagaimana keadaannya, udah makan atau belum, kita kan gak tahu ! " Ucapan Velisa membuat semua teman-temannya menjadi haru biru, kala mengingat kebersamaan mereka selama ini dengan Freya yang sampai saat ini belum juga di temukan.
"Tapi, lo kan udah nyuruh Bima buat nyari dimana keberadaan Freya? Dan lo juga udah nugaskan melisa kan? Untuk memata-matai Adizti?" Ujar Kimberly yang menyebut nama Melisa. Iya melisa, seorang tangan kanan dari keluarga Velisa tepatnya yang selalu menjadi kepercayaan nyokapnya, kalau bokap nya punya Sheren sebagai tangan kanannya, nyokap Velisa punya Melisa yang merupakan sepupu jauh Velisa yang selalu menjadi tangan kanan nyokapnya itu.
__ADS_1
"Gak, gue bilang kita tetep stay di sini!" Teriak Velisa membuat lorong rumah sakit itu menggema.
semua teman-teman Velisa hanya diam mendengar bos mereka berteriak sangat kencang.
"Permisi!" Tiba-tiba seorang perawat lewat di depan mereka dengan cara berjalan yang formal lalu masuk ke ruangan Hellen tanpa sedikit kata lagi yang keluar dari mulutnya tersebut..
"Suntikan ini, akan membuat kamu tak bisa bangun hingga racun ini membunuhmu secara perlahan! " Ucap wanita itu ketika jarum suntik lengkap dengan cairan yang ada di tanganya mulai di masukan kedalam selang infus Hellen.
Wanita itu dengan sigap pergi dari ruangan tersebut tanpa mengucapakan sepatah kata apapun.
__ADS_1
Semua teman-temannya yang berada di luar tak mencurigai dirinya, tak tahu kalau yang masuk tadi bukankah seorang suster/dokter tapi itu adalah orang yang menyimpan dendam terhadap seorang Hellen.
"Sudah sadar kah? " Tanya Betrix kepada Velisa yang masih menatap kaca dan melihat Hellen masih terbaring lemah di sertai tetesan air mata yang tiba-tiba membasahi pipi nya sendiri
Velisa hanya menganggukkan kepalanya pertanda apa yang di katakan Betrix itu memang benar adanya.
Betrix Amora, adalah seorang anggota tertua dari geng Devil, yang membangun bisnisnya di luar negeri,
Betapa kagetnya Betrix ketika mendengar kabar dari Velisa tentang keadaan Hellen yang mendapatkan musibah.
__ADS_1