
20.
Tut..
Tut....
"Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi. "
Hanya suara itu yang terdengar saat Velisa berusaha menelfon Adizti.
Freya menepuk pundak Velisa dari belakang yang sudah mulai khawatir dengan keberadaan Adizti dan Bruno.
"Gimana Vel. "
Velisa hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah mencoba menelfon Adizti tetapi tak ada jawaban.
"Semua salah gue. "
Akbar terus menyalahkan dirinya sendiri sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, perjalanan sudah mereka tempuh hampir 1 jam, tetapi rumah sakit tak kunjung nampak, gedung tempat mereka melakukan observasi memang jauh dari pusat kota tak heran jika mereka kesulitan menemukan rumah sakit di sekitar daerah tersebut.
"Emang salah lo, lo yang gegabah, kalau kayak gini siapa yang repot. "
Velisa membentak Akbar yang tak bisa diam dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang ia perbuat.
__ADS_1
...****************...
"Bang lo harus kuat. " Adizti membawa Bruno ke rumah sakit ,air matanya terus mengalir melihat abangnya yang tak sadarkan diri sejak di perjalanan tadi.
"Dok,...! " Teriak Adizti sembari memapah abangnya yang sudah babak belur itu.
Tak lama dokter dan perawat lainya berlari menuju arah Adizti dan mereka mengangkat Bruno yang hidungnya mulai keluar darah ,dokter beserta perawat lainya mengangkat pria malang itu ke atas ranjang dorong dan membawanya ke ruang instalasi gawat darurat.
"Dok tolong abang saya. " Hanya kata itu yang terucap dari mulut seorang Adizti , walau ia dikenal sebagai wanita galak di sekolah, tetapi ia sangat menyanyangi abangnya, bahkan saat abangnya sakit, ia rela bolos demi menjaga abang nya, walau ia sendiri belum tahu kebenaran tentang Bruno yang hanya abang angkatnya.
"Mbak tunggu di luar sebentar ,biar dokter yang menangani. " seorang suster berbalik ke arah Adizti dan berusaha mencegah Adizti agar tidak ikut masuk ke dalam ruangan emergency itu.
"Tapi saya ingin masuk sus. " Air mata Adizti terus mengalir dan ia tak hentinya memohon kepada suster itu agar ia bisa ikut masuk untuk menemani sang abang.
Adizti hanya mengangguk pasrah dan selangkah demi selangkah ia mundur meninggalkan pintu Igd yang sedari tadi ia halangi agar tidak di tutup.
Suster cantik itu hanya tersenyum ke arah Adizti berusaha membuat gadis yang saat ini shock itu tenang, lalu perlahan menutup pintu IGD tersebut.
Adizti sesekali mengecek handphonenya, ia mendapat 25 panggilan tak terjawab dari Velisa, Adizti yang masih tak terima atas perbuatan Akbar enggan menelfon balik Velisa yang saat ini sedang khawatir pada dirinya, ia memilih tuk menonaktifkan handphone nya dari pada harus berbicara pada sahabatnya yang sedari tadi mencoba menghubunginya itu.
"Biarin dulu, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. " Ucap Bima sembari mengusap tangan bocilnya yang dari tadi gelisah karena tak bisa menghubungi Adizti.
Perjalanan yang mereka tempuh sudah sangat jauh hampir satu jam setengah mereka baru sampai di salah satu rumah sakit yang cukup besar di kota tersebut. Hellen dibantu Lintang dan Niko membawa Akbar yang sudah sangat tak berdaya itu ke ruang rawat, sedangkan Freya memilih untuk membeli makanan ringan yang tersedia di kantin dekat rumah sakit tersebut,
__ADS_1
Berbeda dengan teman-temannya, Velisa justru terus mencoba menghubungi Adizti yang sedari tadi sudah berkali-kali ia telfon tapi tak juga di angkat, malah sekarang handphone sahabatnya itu di nonaktifkan, membuat Velisa semakin kepikiran.
"Nih, minum dulu, ntar lo pingsan lagi."Bima menyodorkan minuman instan ke bocilnya itu, yang terlihat memang sangat kacau, entah apa yang difikirkan oleh bocilnya itu. Membuat Bima semakin tak tenang dan dirinya terus berusaha membuat agar bisa Velisa bisa lebih tenang. Dan tidak berfikiran berlebihan tentang Adizti yang sama sekali sulit di hubungi oleh siapapun saat ini.
Velisa pun menyambar minuman itu dan langsung meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Hati-hati Cil kalau minum, ampe tumpah-tumpah gitu!."Ucap Bima sembari membawa Velisa untuk duduk, karena sedari tadi ia hanya berdiri dan terus mondar-mandir membuat Bima pusing sendiri melihat kegelisahan Velisa.
"Gue haus! dah lo jangan banyak bac*t, atau Gue siram lo pakai nih soda. " Bentak Velisa yang moodnya sedang kacau itu.
Bima hanya bisa menelan ludah melihat bocilnya yang sifatnya selalu tak bisa di tebak
Bima yang duduk di dekat Velisa mengangkat bocilnya itu dan menaruh nya di atas pangkuannya,ia sekarang tahu cara menjinakan bocil manjanya itu.
"Ih Bim..! " Teriak Velisa sembari mencoba melepaskan diri dari Bima yang saat ini mendekap nya.
"Diem, dah nikmatin aja, sekarang gue tahu kalau saat lo marah lo hanya butuh pelukan gue. "Perkataan Bima membuat pipinya memerah dan berusaha menyembunyikannya, Bima hanya tersenyum genit ketika ia melihat expresi wajah bocilnya itu yang akhirnya berubah dari galak menjadi imut.
Velisapun akhirnya tertidur di atas pangkuan Bima ,kepalanya bersender di titik yang menurut Velisa sangat nyaman yaitu dada bidang Bima,sontak hal itu membuat diri Bima semakin nyaman berda di dekat gadus pemilik darah suci itu.
Sudah sejam lamanya mereka berdua menunggu di depan pintu masuk ruang rawat Akbar, dimana bocah bar-bar itu saat ini masih di periksa tim medis di temani Hellen dan Lintang. Dan belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan tersebut, sontak membuat Bima bertanya-tanya apakah Akbar bisa di selamatkan, di sisi lain ia juga belum bertemu dengan Freya, membuat dirinya sendiri kebingungan harus bagaimana karena memang Freya sudah satu jam belum juga balik dari kantin, ia pun tak tega jika harus membangunkan Velisa yang saat ini masih tertidur pulas di pangkuannya.
πA****nnyeonghaseyo π΄π΄πππ°π°jangan lupa terus baca karya aku maaf kalau ada typo atau masalah fell lainya, semoga next bisa lebih baik ππ΄ππ΄π
__ADS_1