Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
43 Jahat Tersembunyi di Balik Keluguan


__ADS_3

Hari semakin gelap, dari dalam ruangan IGD belum ada tanda-tanda dokter akan keluar, begitupun kabar dari Freya juga belum mereka dapat. Kecemasan dan ke khawatiran mereka saat ini mulai bertambah.Mencoba tuk tenang dan tidak gegabah adalah jalan yang mereka pilih saat ini.


Ting... tung...!


Suara bell rumah berbunyi,Bima yang di tugaskan untuk menjemput Kimberly dan Akbar akhirnya sampai ke tempat mereka berdua, mata yang sembab mengambarkan diri Kimberly saat ini,wanita itu pasti kelelahan menjaga Akbar yang kondisinya tak baik-baik saja saat ini.


"Bim yang lain mana?" Ucap Kimberly sembari mengusap kedua matanya yang terlihat sangat menahan lelah seharian


"Di rumah sakit, Hellen tadi gak sadarkan diri jadi kita bawa ke rumah sakit terdekat di ujung kota, dekat dengan tempat Hellen di temukan. " Jawaban Bima membuat seorang Kimberly yang selalu strong akhirnya terduduk lemas, ia tak mengira sahbat baiknya harus mengalami semua ini.


"Tenang dulu Kim. Semua akan baik-baik saja, kita ke sana bareng-bareng panggil dulu si Akbar lo jelasin sama dia, kalau gue yang jelasin yang ada malah kita adu jotos."Ucap Bima sembari mengusap kepala Kimberly sembari berusaha menenangkan gadis yang saat itu sedang shock berat mendengar keadaan hellen.


Kimberly berjalan dengan langkah kaki yang menunjukkan tak ada rasa strong di tubuhnya, bukan karena ia lemah bukan karena ia belum makan tapi bagi dirinya Hellen sudah ia anggap sebagai adik kecilnya, satu cuil aja sesuatu mengenai dan menggores seroang Hellen, Kimberly adalah orang pertama yang akan panik.


Kimberly wanita dengan sejuta rahasia itu tak ingin siapapun menyakiti Hellen termasuk Akabar, walaupun Kimberly tahu Akbar benar-benar mencintai Hellen, akan tetapi bagi dirinya Akbar tetaplah seorang cowok yang bagi Kimberly semua cowok itu sama saja, pandai dalam hal menyakiti berkedok rasa cinta.


"Bar, kata Bima dan anggota geng yang lain sudah menemukan Hellen. "


Bisikan lembut Kimberly di telinga Akbar membangunkan pria malang itu, tak menunggu waktu lama Akbar bergegas bangun dari tidurnya di sertai sisa air mata yang berada tepat di ujung matanya.


Kimberly hanya bisa diam dan tidak berbicara tentang keadaan Hellen sebenarnya.

__ADS_1


"Mana bocil gue. " Teriak Akbar sembari matanya melihat sekeliling memastikan apakah Hellen ada di ruangan itu atau tidak.


"Kita turun ke bawah, lo ganti baju dulu ntar kita jelasin kalau sudah sampai, buruan Bima udah nunggu kita di bawah. "


Kimberly beranjak dari tempat tidurnya dan pergi meninggalkan Akbar yang terlihat masih mencari-cari Hellen di sekelilingnya.


"Bocil." Teriak Akbar sembari memeluk boneka kelinci pemberian dari Hellen ketika aniversary mereka yang pertama, teriakan Akbar membuat Kimberly berhenti di depan pintu membalikan badanya dan tanpa ia sadari air matanya menetes perlahan kala melihat Akbar yang tersiksa dengan hilangnya Hellen.


"Gue gak tega kalau lo sampai tahu keadaan pacar lo Bar. " Ucap Kimberly sembari menyeka air matanya agar tidak terus membanjiri pipi manisnya.


Malam tiba Bima, Kimberly dan Akbar beranjak menuju rumah sakit tempat Hellen di rawat, suasana di dalam mobil sangatlah sepi Akbar yang biasanya banyak bercanda jika bersama Kimberly kini keduanya diam tanpa ada sepatah kata apapun yang keluar.


"Huft."


Sorot mata Kimberly yang terlihat sangat lelah tiba-tiba tertidur dan bersender di kaca mobil Bima, begitupun Akbar yang akhirnya tertidur di kursi belakang. Bima hanya diam menatap kedua temanya itu seperti orang yang tak punya rasa semangat lagi, apalagi Kimberly yang baru saja mendengar kabar tentang Hellen. Bagi Bima mungkin mereka berdua sangat menyanyangi Hellen seperti Velisa menyanyangi gadis kecil yang kini terbaring lemah itu.


"Anjir, bisa-bisanya Hellen lepas. "Teriak adizti sembari mengacak-acak rambutnya sendiri, melihat Hellen sudah tidak ada di tempat yang seharusnya. Dan yang membuat amarah Adizti memuncak saat semua penjaganya tak ada di ruangan tersebut.


"Gue yakin Bima dan geng lainya yang bebasin Hellen".Gumam Adizti sembari menendang kursi di depanya hingga kursi itu terpental cukup jauh.


"Dadar penjaga gak guna, kemana mereka suruh jaga bocil aja gak becus. "Amarah Adizti semakin menjadi-jadi saat dirinya berusaha menelfon semua penjaganya tetapi tak ada satupun yang terhubung.

__ADS_1


" Gue gak bisa tinggal diam, jangan sampai Hellen ngadu ke semua anggota geng, gue harus cepat singkirkan dia. "Dengan perasaan ketakutan, lagi-lagi Adizti memiliki rencana untuk menyingkirkan Hellen agar semua yang ia lakukan pada gadis itu tak sampai bocor ke seluruh anggota geng Devil dan Angel, walau tanpa Adizti ketahui mereka semua sudah tahu bahwa dirinya lah yang menculik dan menyekap sahabatnya sendiri. Dengan senyuman jahatnya serta sorot mata penuh dendam Adizti menyimpan semua dendamnya yang ia simpan selama ini di balik paras lugunya dan rela berteman dengan wanita yang membuat abangnya harus menderita.


...****************...


"Gue sudah tahu apa yang terjadi, kalian jangan khawatirkan gue, ini semua salah gue dan akhirnya pacar gue yang jadi korban nya. " Ucapan Akbar yang keluar dari mulutnya, membuat Bima kaget dan sedikit mengerem mendadak membuat Kimberly terbangun.


"Jadi lo, tahu Hellen di culik Adziti." Sahut Kimberly yang terbangun dari tidurnya karena mendengar ucapan Akbar.


"Gue tahu saat Bima datang dan nemuin lo di ruang tamu, kebetulan gue ada di depan pintu kamar denger pembicaraan kalian. Ini semua salah gue andai gue gak gegabah hajar bruno, pasti Adizti gak akan marah dan dendam sama gue. " Ucap Akbar sembari terus menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti.


"Huft."


Bima menghela nafasnya karena merasa sedikit lega .


"Setidaknya untuk saat ini lo gak tahu kalau yang bunuh saudara lo adalah cewek lo sendri." Gumam Bima sembari menatap mata Akbar dari kaca mobilnya.


"Gue takut lo tahu yang sebenarnya. " Gumam Bima sembari melanjutkan menyetir menuju rumah sakit yang sudah tak jauh dari posisi mereka saat ini.


...****************...


jam sudah menunjukkan pukul 23.10 WIB, sudah berjam-jam Hellen di periksa namun, belum juga ada dokter yang keluar ruangan hanya suster yang wara-wiri keluar masuk hanya untuk mengambil alat medis yang entah apa kegunaannya.

__ADS_1


"Nah kalau gini gue pasti aman, tinggal nyari dimana rumah sakit yang merawat Hellen, gak mungkin dia di bawa pulang , melihat kondisi dia seperti itu. " Gumam Adizti di depan kaca yang kini berdandan layaknya dokter rumah sakit lengkap dengan id card yang ia kalungkan di lehernya.


__ADS_2