
"Hallo Bim lo udah jemput gue belum, buruan napa jangan kayak keong. " Bentak Velisa yang sudah menunggu kekasihnya itu di luar sekolah , tapi laki-laki itu belum juga menampakkan barang hidungnya.
Hari sudah berjalan sekitar 15 hari. Ini berarti waktu Bima sudah tidak lama lagi, ia harus segera mendapatkan darah suci Velisa atau jika ia tidak mendapatkan darah suci itu dalam waktu 100 hari dirinya akan hilang lenyap bak debu tanpa sisa.
"Iya bawel, nih gue udah mau sampai sabar napa cil, tunggu gue disitu 1tahun gue baru sampai, eh maksudnya 10 menit pasti gue nyampai. "Ucap Bima yang sedikit kesal karena bocilnyaa itu selalu punya sifat tak sabaran.
" Gue tunggu. "Ucap Velisa dan menutup telfonnya.
Hari begitu cerah , Velisa yang masih terlihat cantik menggunakan seragam sekolahnya duduk di taman sekolah sembari menunggu Bima datang menjemputnya, ia sesekali menatap layar ponselnya berharap ada kabar dari Hellen, tapi apa yang di harapan Velisa saat ini hanya sebuah harapan. Hellen tak juga ketemu bahkan teman-temannya yang duluan melakukan pencarian juga masih belum memberi kabar positif untuhk nya.
Seorang pria yang tidak lain adalah Arthan melihat Velisa sendirian duduk di kursi taman depan sekolahanya, Arthan menghampiri wanita itu berniag menemani sang pemilik darah suci tersebut.
" Vel, sendirian aja. "Ucap Arthan yang tiba-tiba duduk di samping Velisa.
" Iya kak lagi nunggu Bima, tumben kakak masih di sekolah Veli, gak balik ke kampus kah."Ucap Velisa sembari sedikit demi sesakit menjauhkan diri dari Arthan yang duduk di sampingnya dan semakin mendekat ke arah Velisa, membuat dirinya tak nyaman dan berusaha menghindar.
" Kakak, masih ada urusan disini,ngomong-ngomong kamu tahu siapa itu Bima? "Ucap Arthan yang memancing Velisa tentang identitas Bima yang sebenarnya.
" Hahha gue tau kok kak, dia murid pindahan dari Australia kan! "Jawaban Velisa membuat Arthan terbahak-bahak ternyata gadis polos itu belum mengetahui identitas Bima yang sebenarnya.
Di hari itu, dijam itu di waktu mereka berdua bertemu entah ada apa dengan Velisa, sikap Velisa benar-benar sangat dingin terhadap Arthan, Velisa yang di kenal bermulut ceplas-ceplos berubah menjadi Velisa yang formal dengan setiap perkataan yang ia ucapkan ke Arthan laki-laki yang baru ia kenal tak lama belakangan ini.
" Bima.!" Gumam Arthan lirih melihat mobil sport mewah berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk,
"Vel gue pergi dulu! " Ucap Arthan yang terlihat buru-buru ketika Bima turun dari mobil sport mewahnya.
__ADS_1
Menghindari?
Menjauh?
Mungkin itu yang Arthan lakukan saat ini untuk menyusun strategi merebut Velisa dari tangan musuh bebuyutannya.
Laki-laki yang berbadan kekar bermata tajam bak mata elang, menghampiri gadis kecil yang sedang duduk sendirian di taman menunggu kedatangannya.
"Lo tadi ngomong sama siapa cil? " Ucap Bima yang saat ini sudah berdiri di depan gadisnya itu.
"Oh itu teman baru mahasiswa di kampus papa gue. " Ucap Velisa dengan sangat santai kepada Bima yang berada di hadapannya saat ini.
"Yaudah yuk cabut. " Ucap Bima sembari mengangkat tubuh kecil Velisa menggendongnya bak koala yang sedang tidur. Tak ada penolakan dari Velisa. Gadis kecil itu malah makin menduselkan kepalanya ke dada bidang Bima, yang merupakan tempat dan titik ternyaman saat laki-laki itu menggendongnya.
...****************...
...****************...
Akbar pria yang di kenal sangat tegas duduk terdiam di pojok tempat tidurnya,beberapa botol minuman keras tergeletak kosong di samping pria itu, pria yang sangat menjaga Hellen dengan baik, kini tak bisa berbuat apa-apa. Rambut acak-acakan mata merah membengkak bahkan suara serak menggambarkan pria itu untuk saat ini.
"Astaga Akbar!" Teriak Velisa ketika sampai di rumah anak orang terkaya di kotanya tersebut, rumah bak istana hanya di isi oleh seoarang Akbar dan asisten rumah tangganya. Membuat semua teman-temannya bisa datang kapan aja tak terkecuali Velisa yang sering datang berkunjung ke rumah Akbar yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.
Velisa gadis periang nan tegas berlari menghampiri laki-laki sudah tak karuan tampilannya itu.
Frustasi?
__ADS_1
Mungkin hanya itu perasaan Akbar yang ia rasakan saat ini.
"Lo kenapa kayak gini. " Ucap Velisa sembari mengangkat kepala Akbar yang di sendirian di tempat tidur, melemah bak orang yang tak punya harapan untuk hidup lagi.
"Lo, gak boleh lemah, kita harus cari Hellen , kita sama-sama cari sampai ketemu, dan siapa penculiknya nanti biar gue yang adepin. " Ucapan Velisa tak mampu membuat Akbar bangkit dari keterpurukanya, ia melanjutkan minum dan minum hingga botol terakhir habis ia embat tak tersisa satu tetes pun.
Prank....
Bima yang ikut masuk ke dalam kamar Akbar mengambil paksa botol minuman dari tangan Akbar dan membantingnya ke lantai, suara pecahan botol itu terdengar sampai keluar rumah,membuat Lintang dan teman-temannya yang baru sampai menghentikan langkah mereka sejenak di depan pintu masuk rumah Akbar yang kebetulan terbuka.
"Gue gagal jaga pacar gue Vel! " Ucap Akbar sembari memeluk Velisa. Velisa hanya diam sembari menatap ke arah Bima ia takut Bima marah ketika Akbar memeluknya.
Reaksi Bima hanya mengedipkan matanya pertanda ia tak masalah saat Velisa mencoba menenangkan Akbar dengan mengusap punggungnya.
"Hellen baik-baik saja, pasti dia biasa lewatin semua ini. " Ucap Velisa sembari tanpa hentinya menenangkan Akbar yang terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
"Bunda! " Gumam Bima memanggil Velantina.
"Kenpa bunda lo? " Sahut Velisa yang mendengarkan Bima memanggil bunda.
Tanpa berfikir panjang bahkan tanpa berpamitan dengan Velisa. Bima lagi-lagi pergi begitu saja membuat Velisa semakin curiga karena tingkah Bima yang semakin aneh.
Ia ingin mengejar tapi apa daya dia harus menenangkan Akbar yang terpukul karena hilangnya Hellen.
"Kalian jangan diam aja masuk! " Bentak Bima yang berlari keluar meninggalkan Velisa di kamar Akbar tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Lintang dan anggota geng lainya yang sempat menghentikan langkahnya karena mendengar suara pecahan botol itu, berlari masuk menuju kamar Akbar setelah Bima menyuruh mereka masuk, walau dengan sedikit bentakan yang membuat Freya bertanya tanya tentang ke anehan Bima.Semua orang masuk ke dalam dan menghampiri sahabat mereka yang sedang terpukul. Meninggalkan Freya yang masih terdiam menatap ke arah Bima berlari.
"Mau kemana dia? " Ucap Freya Sembari berlari mengikuti kemana perginya Bima, dan memilih meninggalkan anggota geng nya di rumah Akbar .Demi mengungkapkan sesuatu yang selama ini Freya anggap ada rahasia yang di sembunyikan oleh pria yang saat ini sedang dekat dengan sahabatnya itu.