Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
36.Kaki Tangan Johan!


__ADS_3

...****************...


"Duh kita terlambat nih. " Ucap Velisa yang berlari bersama teman-teman gengnya ke arah gerbang masuk sekolahnya.


"Gara-gara Bima kutukupret tidur udah kayak orang mati jadi telat kan. " Ucap Niko sembari menyalahkan Bima.


Malam itu mereka semua tidur di rumah Velisa,mereka tidur larut malam karena Bima mengajak semuanya untuk berpesta di halaman belakang rumah Velisa,di temani musik Dj dan beberapa botol bir mereka berpesta ria di malam itu, meninggalkan Akbar dan Hellen yang tidur karena kecapean.Hingga pada pagi harinya mereka semua telat bangun hanya Akbar dan Hellen yang berhasil bangun pagi dan beranjak pulang dari rumah Velisa tanpa membangunkan yang lainya.


"La kok gue" Sahut Bima yang merasa dirinya terpojokan.


"Siapa lagi yang nyuruh kita minum kalau bukan lo dodol. " Bentak Lintang sembari memukul kepala Bima.


Akibat insiden yang di alami Akbar beberapa waktu lalu semua anggota geng Devil dan Angel sudah mulai akrab dengan Bima, tanpa mereka ketahui identitas Bima yang sebenarnya.


"Kita udah bolos berapa hari Vel. "Tanya Freya sembari mengikat rambutnya kebelakang.


" kagak tahu! 3 mungkin. "Jawab Velisa dengan nada sedikit binggung.Karena memang Velisa tidak masuk sekolah dari awal Akbar dibawa ke rumah sakit.


" Jangan banyak bicara cepat lari, keburu gerbang di tutup."Bentak Niko yang memberi aba-aba agar mereka berlari kembali ke arah gerbang pintu masuk sekolah.


"Kan ada gue , putri pemilik sekolah. " Ucap Velisa dengan sombongnya.


"Gak ada gunanya kali, tiap hari kita telat meskipun lo anak pemilik Sekolah tetap aja di hukum. "Ucap Kimberly sembari mengacak-acak rambut Velisa.


" Pak.. Pak! "Teriak Bima yang berusaha memanggil satpam penjaga gerbang sekolah agar tidak menutup gerbang nya.


" Pak, gue anak pemilik sekolah ini mau gue laporin bapak ke bokap gue, abis lo ntar pak." Teriak Velisa memerkan kalau dirinya anak pemilik sekolah.


"Cepetan non, bapak gak mau di kira pilih kasih."Teriak satpam itu dan mengurungkan niatnya menutup gerbang.


Velisa dan teman-temannya berlari hingga berhasil masuk ke sekolah walau jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, dapat di katakan mereka telat setengah jam.


"Gila, ini jam nya si Gres, bisa mampus kita." Ucap Freya yang menyadari kalau jam pertama adalah jam pelajaran Gres guru yang di benci Velisa.


"Yaudah kita ke KBS aja, lagian gue males kalau sama tu guru. " Ucap Velisa sembari menarik tangan Bima mengajak murid baru yang paling patuh di kelas itu untuk bolos bersama dua geng tersebut.


"Gak apa-apa nih kita bolos. " Ucap Freya dengan perasaan ragu-ragu.


"Dah, santuy aja. "Ucap Velisa dengan santainya.

__ADS_1


" Velisa Algelista! berhenti."Teriak seorang pria parubaya dari kejauhan.


" Mampus bokap gue. "


"Hah pak Johan. " Ucap Kimberly yang kaget karena tak jauh di depannya mereka mendengar pemilik sekolah yaitu Johan Algelista Setya Putra berteriak menghentikan langkah mereka menuju KBS.


Johan berjalan menghampiri 6 orang yang tertangkap basa bolos pelajaran dan malah pergi ke kantin saat jam pelajaran telah di mulai.


"Mampus kan. " Gumam Lintang dengan rasa ketakutan, karena bagaimanapun Johan adalah guru pengajar Lintang di kelasnya , dan hanya mengajar di kelas geng Devil. Johan tak mau mengajar di kelas putrinya karena ia tak ingin terlihat mengistimewakan putrinya.


"Velisa, ikut papa ke ruangan papa sekarang.! Bentak Johan membuat Velisa hanya tertunduk diam.


" Kalian semua balik ke kelas, atau engak kalian semua bapak hukum! " Ancaman Johan membuat semua lari terbirit-birit meninggalkan Velisa dengan bokapnya sendiri di koridor sekolah.


Johan membawa putri nakalnya itu ke ruangannya. Sampai di ruangan Johan muka Velisa dari yang ketakutan berubah menjadi bete karena ada sosok wanita yang ia sangat benci duduk di sofa di ruangan bokapnya.


"Gres." Gumam Velisa.


"Jaga cara bicara kamu, bagaimanapun itu gurumu panggil yang sopan".Bentak Johan yang mendengar apa yang Velisa ucapkan barusan.


" Duduk.! Perintah Johan yang langsung di turuti oleh Velisa, ia terpaksa duduk di samping Gres dari pada harus adu mulut sama pria yang tak pernah sayang padanya itu.


"Papa gak habis fikir, kamu sudah kelas 12 sikap kamu masih aja kayak bocil, kelayapan gak jelas mau jadi apa kamu. " Bentak Johan membuat Gres sedikit tersenyum melihat Johan membentak putrinya sendiri.


Plak...


Tamparan keras mengenai pipi putrinya.


"Kurang ajar! " Bentakan Johan membuat Velisa hampir meneteskan air mata, tetapi ia tahan ia hanya tak mau terlihat lemah di hadapan papa busuknya dan pelakor yang bersamanya saat ini.


"Lagi pa, tampar Veli lagi biar puas! " Bentak Velisa sembari berdiri menantang papanya.


Gres hanya duduk sembari meminum jus dan menyaksikan drama tersebut di sertai senyuman jahatnya.


"Papa lebih mentingin nih pelakor dari pada anak papa sendiri. " Bentak Velisa membuat Johan hanya diam dan menatap Gres yang ada tepat di sebelah putrinya itu.


"Jaga bicaramu, atau engak... " Bentak Johan sembari mengangkat tangannya mencoba menampar Velisa tetapi di tahan oleh suara siswi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Johan mencarinya.


"Tampar pa, kenapa diam. " Bentak Velisa yang melihat Johan mengurungkan niatnya untuk menampar dirinya.

__ADS_1


"Bapak, nyari saya." Ucap seorang siswi itu


"Iya betul Sheren, bapak mau menyuruh mu untuk satu kelas sama Velisa putri bapak, bapak hanya ingin dia ada yang mengawasi agar ia bisa lebih fokus dalam pendidikannya. " Ucapan Johan membuat Velisa kaget, bahkan Gres yang hanya duduk tiba-tiba juga kaget mendengar keputusan Johan.


Sheren terlihat kebingungan, karena ia merupakan murid pindahan yang belum lama pindah ke sekolah Pelita Indah, tetapi sama pemilik sekolah sudah di percaya untuk menjaga putri satu-satunya yang gurunya itu miliki.


"Bukankah kamu kemarin mau di masukan ke kelas Veli? " Ucap Johan ke Sheren yang masih menunjukkan muka bingungnya.


"Iya, tapi ibu gres memindahkan saya di kelas lain karena kelas kak Velisa putri bapak saat itu penuh " Ucap Sheren sembari menjelaskan alasan ia tak jadi di tempatkan di kelas Velisa saat pertama kali ia datang ke Indonesia.


"Yaudah mulai hari ini kamu akan masuk ke kelas Velisa jagain di buat bapak, jika ada sesuatu langsung hubungi bapak. " Ucapan Johan membuat Velisa marah.


"Pa, Velisa bukan anak kecil. " Bentak Velisa sembari menatap Sheren.


Velisa menyembunyikan rasa kekecewaannya karena bokapnya sendiri malah menyuruh orang lain untuk menjaga dirinya.


"Cukup jangan bantah papa, atau engak kamu papa pindahkan ke Paris. " Bentak Johan yang menegaskan keputusannya tidak bisa putrinya ganggu gugat.


Velisa hanya diam karena dalam dirinya ia tak ingin pisah dengan sahabat-sahabatnya, ia takut kalau tak menuruti perintah papa nya dirinya akan di pisahkan oleh semua orang yang sudah dekat dengan dirinya.


Gres tiba-tiba keluar ruangan tanpa berpamitan kepada Johan.


"Gres." Teriak Johan memanggil wanita itu, wanita yang selalu Velisa tuduh menjadi pelakor, wanita yang menyebabkan dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


"Sheren, tahu kan tugas Sheren. " Ucap Johan yang memastikan kalau Sheren tahu akan tugasnya.


Sheren hanya tersenyum tanda ia faham akan tugas yang di berikan Johan yaitu mengawasi semua kegiatan Velisa.


...****************...


"Gimana nasib Veli ya. " Ucap Kimberly yang khawatir terhadap Velisa yang saat ini berada dengan bokapnya.


Drett...


Dret.


Suara handphone Kimberly berbunyi.


"Hah..... Hellen hilang. "Teriak Kimberly yang mendapat kabar kalau Hellen hilang.

__ADS_1


" Kok bisa. "Ucap Freya dan Bima bersamaan dengan perasaan kaget ketika mendengar kabar itu.


Kabar hilangnya Hellen membuat semua panik kecuali Velisa yang belum tahu tentang kabar hilang nya Hellen saat ini.


__ADS_2