
Pagi menyingsing.
"Vel, bangun! " Suara pria terdengar jelas di telinga Velisa, memanggil nama gadis mungil yang sedang tertidur lelap itu.
"Bima..!" Ucap Velisa sembari membuka matanya perlahan, melihat pria yang memanggilnya adalah Bima, pria yang membuatnya semalaman khawatir bahkan tak tidur hingga dini hari.
"Lo ngapain sih di luar, kenapa gak tidur di mobil." Bima mengangkat bocilnya itu disertai rasa bersalah karena meninggalkan bocilnya itu dan teman-temannya di hutan belantara.
Velisa hanya tersenyum sembari menduselkan kepalanya di dada bidang Bima titik ternyaman bagi Velisa.
Bima membawa gadis itu ke dalam mobil menaruhnya di tempat duduk depan sembari mengelus kepala bocil itu yang ia tinggal hampir satu malam.
"Lo, anak anjing dari mana aja. " Freya memaki-maki Bima yang tiba-tiba berada di dalam mobil bersama Velisa.
"Frey, tenang ntar gue jelasin gue mau bangunin yang lain dulu." Sahut Bima sembari berlari membangunkan ketiga temanya yang masih tidur di luar mobil hanya beralaskan daun dan berbantal kan potongan kayu yang mereka cari sewaktu mencari Bima .
"Bangun Nik. !" Menepuk pipi Niko.
"Tang, Kim. ..! " Bangun udah pagi.
"Lo dari mana aja astaga Bima.... " Teriak Kimberley membuat Bima hanya bisa tersenyum kecil.
"Lo, buat kita khwatir tau! kalau mau jadiin bos kita janda jangan gini caranya. " Ucap Niko sembari menggoda Bima yang pada baru muncul di hadapannya.
"Velisa mana velisa.? " Ucap Lintang yang panik karena Velisa tak bersama mereka.
"Tenang, udah gue bawa ke mobil." Ucap Bima sembari menepuk bahu Lintang yang panik.
"Semua naik mobil ntar gue ceritain."Perintah Bima sembari berjalan menuju arah mobil dan kembali ke perjalanan mereka.
...****************...
"Kamu masih marah sama papa kamu?" Vivi mengusap kepala putrinya yang sedang di landa api amarah karena papanya sendiri menolak untuk menuntut Akbar yang jelas-jelas melakukan kesalahan besar terhadap abangnya.
" Pasti gara-gara kerja sama antara papanya Akbar kan, jadi kalian gak mau nuntut Akbar."Bentak Adizti yang amarahnya semakin membara saat mengingat betapa kejamnya perbuatan Akbar ke abang satu-satunya nya yang ia miliki itu.Tetapi kedua orang tuanya tutup mata dan tak mau melanjutkan kasus ini ke meja hijau.
"Sini dengerin mama" Sambil menaruh kepala Adizti itu ke bahunya, agar putrinya itu bisa lebih tenang dan tidak termakan api amarah yang begitu bergejolak.
__ADS_1
"Kamu sama Akbar sudah bersahabat berapa lama? " Pertanyaan Vivi membuat Adizti menaikan sebelah alisnya.
"Emm, dari SMP. " Ucap Adizti dengan nada sangat lembut sembari memeluk sang mama yang memenangkannya.
"Dan kamu tahu, saat dia kehilangan adiknya, kamu tahu kan betapa dia sangat terpukul atas kejadian itu. "Ucapan Vivi sekali lagi membuat Adizti hanya bisa diam dan sejenak mengingat betapa terpukul nya Akbar saat itu.
"Mungkin apa yang di lakukan Akbar pada abangmu memang sudah kelewat batas, tapi itu sebanding dengan apa yang abang mu perbuat, mama sudah melarang dia gabung di geng Mark, dan mama sudah melarang dia untuk ikut balap liar, tapi apa? dia malah bandel dan ngelawan mama, bahkan saat di Paris pun dia masih ikut balapan liar. "Ucap Vivi yang tidak tahu kebenarannya kalau bukan Bruno yang menabrak Rojer saat itu.
" Tapi..! "
"Jangan bilang bukan abang mu pelakunya, karena di lokasi kejadian hanya ada abang mu dan mama gak bisa tutup mata atas kejadian itu, untung keluarga Akbar tak menuntut abangmu, karena memang saat itu ia belum cukup umur, jadi kamu Vel, harus belajar memaafkan sama seperti Akbar yang dulu memaafkan kesalahan abangmu, walau saat ini mungkin Akbar secara fisik belum memaafkan abangmu tetapi,setidaknya pada saat itu dia enggak bawa kasus ini ke ranah hukum. " Vivi mengecup kening Adizti lalu meninggalkan Adizti sendirian di depan ruangan tempat Bruno di rawat.
Akbar memang tidak menyeret Bruno ke ranah hukum saat itu, karena usia Bruno memang masih muda dan di tambah Bruno tak pernah menampakkan wajahnya setelah kejadian tabrakan itu, dia malah bersembunyi di paris dan memilih menetap di sana. Naasnya saat ia pulang malah bertemu Akbar di tempat kejadian dah langsung di hajar oleh Akbar habis-habisan.
Lain halnya dengan Adizti.Ia tak habis fikir dengan kedua orangtuanya terutama Vivi sang mama. Berulang kali ia mencoba menjelaskan, kalau bukan Bruno yang menabrak Rojer tetapi mereka tetep kekeh kalau Rojer lah pelakunya, karena memang saat itu hanya ada satu tersangka yang ada di lokasi kejadian yaitu Bruno.
...****************...
"Pada akhirnya sampai rumah juga. " Teriak senang Freya dan kawan-kawan karena telah sampai ke kota tempat mereka tinggal, setelah sekian lamanya mereka menempuh perjalanan yang lumayan jauh di tambah menguras banyak tenaga karena mencari seorang Bima yang hilang entah kemana saat itu.
"Bima ntar mampir ke rumah gue, biar semua bisa istirahat di sana!" Perintah Velisa menyuruh Bima untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu.
Tak selang beberapa lama,akhirnya mereka sampai di rumah anak konglomerat itu, rumah yang sangat besar dan luas. Tak heran bagi mereka karena memang Velisa itu anak sultan.Jadi bagi mereka sangat wajar jika rumah Velisa begitu besar dan luas.
"Kalian masuk aja dulu ke rumah gue, biar gue bantu bawa barang-barang Akbar. " Ucap Velisa sembari membuka bakasi belakang mobil Bima.
"Lo harus jelasin ke kita di dalam. " Bentak Akbar sembari di papah oleh Hellen, karena kondisi sang pacar memang belum fit sepenuhnya saat itu.
"Tante.! "Teriak Freya memanggil Lina.
" Eh ya ampun kalian udah sampai,buruan masuk, ntar makan malam sekalian di sini sama tante."Lina yang baru saja selesai masak tanpa basa-basi langsung menyambut kedua geng yang sudah Lina anggap sebagai keluarga sendiri, dan menemani mereka di ruang tamu.
" Aduh, Tante kaget banget sewaktu mendengar kejadian yang menimpa Akbar, walaupun tante pribadi tahu sifat Akbar ini memang bandel dari kecil. "Ucap Lina sembari menjewet telinga Akbar.
"Akbar gak bandel ya tan, Akbar tuh ganteng dari kecil ya kan. " Balas Akbar sambari tersenyum kecil kepada Lina yang sudah ia anggap sebagai mamanya sendiri.
"Ini kurang..! "
__ADS_1
"Tan, tante istirahat aja, biar kita yang bantuin masak ya boleh yaa. " Ucap Hellen yang menyambar ucapan Lina ,yang belum selesai bicara itu. Hellen peka kalau Lina akan menanyakan soal Adizti karena bagaimanapun di antara semua sahabat Velisa, hanya Adizti yang Lina kenal sejak masih bayi.
Lina hanya mengangguk dan tak banyak bicara ia tahu bahwa pasti ada sesuatu antara teman-teman Velisa dengan Adizti saat ini, tetapi Lina memilih diam dan tidak membahasnya kembali.
Semua duduk terdiam di ruang tamu yang cukup luas itu, kecuali Hellen yang membantu Lina memasak menu makan malam untuk semua teman-teman putrinya itu.
"Jelasin dari mana aja lo, semalaman hilang tanpa jejak." Ucap Kimberly yang menginterogasi Bima.
Velisa yang duduk di samping Bima hanya bisa diam, ia pun ingin tahu cerita sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa dia menghilang begitu saja.
"Jadi gue, kemarin nyetir tuh agak ngantuk, dan tanpa sengaja gue lihat sosok pria misterius yang ciri-cirinya tuh sama persis seperti orang yang nyekap Freya, jadi gue kejar. "Ucap Bima yang mengarang cerita agar semua orang tidak curiga pada dirinya dan tidak beralibi pada dirinya.
" Lalu? "Tanya Freya sedikit menyimpan rasa curiga pada Bima.
" Gue kejar orang itu sampai masuk ke dalam hutan, tapi apesnya gue gak nemuin tuh pria, malah gue yang tersesat. "Balas Bima dengan seribu alasan.
" Ok, mulai masuk akal, tapi kok bisa lo ngilang tanpa kita tahu lo keluar dari mobil, dan kenapa bisa lo keluar padahal pintu masih keadaan terkunci."Ucapan Kimberly membuat Bima kehabisan kata-kata. Tapi vampir itu tak kehabisan akal untuk membodohi para manusia itu.
"Sebelum kalian menyadari mobil gue nabrak pohon, gue dah kelaur dan langsung ngunci pintu mobil gue, gue takut terjadi apa-apa sama kalian sewaktu gue tinggal apalagi sampai terjadi sesuatu sama bocil gue. " Ucap Bima sembari mencubit pipi gembul Velisa. Membuat semua orang yang berkumpul mulai percaya dengan kebohongan yang Bima buat.
Tok.. !
Tok... !
Suara ketukan pintu membuyarkan acara interogasi itu.
Velisa berjalan mendekat ke arah pintu sembari sesekali menghadap ke belakang melihat semua teman-temanya yang asik bercengkrama satu sama lain terlepas dari kejadian hilangnya Bima.
Klek...!
Suara pintu terbuka.
"Kakak...!" Teriak Velisa sembari memeluk wanita yang kira-kira 2 tahun lebih muda darinya yang ia panggil kakak.
Semua orang melihat ke arah Velisa di sertai tatapan ke arah Wanita yang memeluk erat Velisa, membuat semua orang tertegun diam melihat paras cantik wanita itu.
Siapakah wanita itu?
__ADS_1
Kenapa Velisa memanggilnya dengan sebutan kakak?
Di benak mereka hanya itu yang ingin mereka cari tahu? bukankah selama ini Velisa hanya anak tunggal kalau siapakah wanita yang memeluknya itu.