Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
42.Freya di Sekap


__ADS_3

"Gue harap Hellen tidak apa-apa. "


Jam terus berputar ,sudah 1 jam Hellen di periksa oleh dokter di ruang IGD .Tetapi belum juga ada dokter yang keluar untuk menyampaikan kondisi Hellen yang masih dalam penanganan. Semua orang cemas panik bahkan khawatir tentang keadaan Hellen, tak terkecuali Velisa, ia hanya bisa mondar-mandir di hadapan para cowok-cowok geng Devil, dalam fikiran wanita itu hanya ada 2 orang Hellen yang juga belum sadar dan Akbar yang ia sendiri tak tahu bagaimana keadaannya di rumah.


"Cil, sini duduk sama gue. " Ucap Bima sembari menarik tangan bocilnya yang terus mondar-mandir tanpa arah itu.


"Ihhh, malu. "


Posisi gadis itu sekarang berada di pangkuan Bima, membuat dirinya merasa malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang prianya itu, semua teman-temannya yang melihat hanya bisa tersenyum kecil, mereka tak menduga hubungan bos mereka sudah sejauh ini dan sudah berani bermesraan di depan publik.


"Kenapa harus malu, toh lo kadang juga anu sama gue."


"Apaan tuh. " Sahut Steven yang mulai berfikiran jorok tentang apa yang di katakan Bima barusan, semua hanya tertawa saat Steven dengan polosnya menggoda dua sejoli tersebut.


"Ih, itu lo kadang gue di suruh ngusap perut nya. " Ucapan Velisa yang ceplas-ceplos membuat Bima ketar-ketir dan berusaha menyembunyikan rasa malunya, karena ia sendiri tak ingin di cap cowok mesum, walau sebenarnya dia menahan godaan ketika bersama Velisa.


"Ada yang gerak gak tuh. " Ucap Edward sembari mecengirkan bibirnya ke atas.


"Punya Bima kecil tau, tapi panjang. " Ucapan Velisa semakin menjadi-jadi membuat suasana di rumah sakit itu menjadi sedikit ada suara tertawa dari pada sebelumnya yang sangat sepi gak kuburan karena terlalu memikirkan Hellen dan Akbar, walau Bima harus tahan dan telah berkorban sedikit saat kekasihnya itu membongkar semua yang ada pada dirinya.


"Masak kecil Vel itunya ?hahahahah." Sahut Lintang sembari menunjuk ke arah celana Bima di sertai tertawanya yang gak ada akhlak.


"Ih kok lo Lintang nunjuk situ maksud gue itu jarinya kecil kayak punya bayi. " Perkataan Velisa membuat semua tertawa terbahak-bahak mereka tak habis fikir di balik sifat Velisa yang bar-bar dan selalu berbicara arogan ternyata juga bisa bertingkah seperti bayi yang lugu dan polos, Bima yang Melihat teman-temannya bisa kembali tersenyum karena tingkah imut Velisa,membuat dirinya merasa lega tanpa ia sadari waktu dia tidak banyak lagi dak harus secepatnya mendapatkan darah suci Velisa.


"Sebaiknya lo jemput Kimberly sama Akbar kasian mereka. "


Niko yang sedari tadi hanya melamun akhirnya angkat bicara dan menyarankan agar Bima menjemput Kimberly dan Akbar yang sendirian di rumah.Bima yang sedang memangku Velisa akhirnya menurunkan gadisnya itu, dan beranjak bangun dari tempat duduk nya, untuk menjalankan apa yang Niko perintahkan pada dirinya.

__ADS_1


"Eits tunggu, kemana Freya dari tadi kita kok gak lihat barang hidungnya. "Ucapan Velisa yang tiba-tiba bertanya tentang Freya yang memang sama sekali tak menampakan diri sedari tadi membuat Bima sedikit terdiam tanpa menanggapi pertanyaan Velisa .


" Bukanya tadi kalian berangkat bareng?"Sekali lagi pertanyaan Velisa yang semakin detail membuat Bima dan hanya pura-pura tak tahu menahu tentang keberadaan Freya.


"Gue jemput Kimberly dulu. "Ucap Bima yang meninggalkan teman-teman nya yang masih di berondong pertanyaan oleh bocilnya itu.


" Lah, gue juga kagak tahu. Gue kira malah dia sama Kimberly jaga rumah. "


Suasana menjadi sedikit berubah mereka yang sedari tadi ketawa lepas kini terdiam saling menatap satu sama lain dengan fikiran yang beranekaragam.


"Jangan bilang, dia ngikut ngilang. " Sahut Niko yang tiba-tiba berkata hal yang membuat semua orang kembali panik.


"Coba Vel lo telfon. "


Tut...


"Gimana Vel? "Ucap Niko sembari menepuk bahu Velisa, melihat gadis itu dengan ekspresi yang tak enak membuat Niko berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi terhadap Freya, dilihat dari raut muka Velisa yang memang tak baik-baik saja.


Velisa berulang kali menelfon Freya tak juga ada jawaban, handphonenya pun tak aktif membuat semua orang kembali tak tenang karena Freya yang saat ini tak tahu entah kemana.


...****************...


"Maafin gue, gue hanya gak ingin rencana ini gagal." Gumam Bima sembari mengemudi mobil sport yang ia lajukan dengan sangat kencang, sembari memikirkan apa yang terjadi jika semua orang tahu kalau Freya akan di bunuh oleh bunda nya.


...****************...


Istana kegelapan menjadi pusat berkumpulnya para vampir yang memiliki missi yang sama.Darah suci.

__ADS_1


"Kamu akan mati hari ini juga persiapkan dirimu. "Ucap Valentina sembari mengusap kepala Freya yang pingsan tak sadarkan diri itu.


" Kamu akan mati di tangan putraku sendiri, bukan di tangan ku karena aku gak mau mengotori tanganku sendiri hanya untuk manusia ceroboh seperti kamu "


Valentina meninggalkan gadis itu yang saat ini sedang di ikat oleh rantai besi di dalam istana bawah tanah yang lembab dan gelap.


Usaha tak henti di lakukan Freya agar terbebas dari rantai yang membelenggunya. Tetapi sekuat apapun Freya berusaha ia tak bisa lepas dari rantai besi yang melilit dirinya itu.


Pasrah.?


Menyerah.?


Mungkin itu yang saat ini gadis itu rasakan, sesekali dia merintih kesakitan karena jeratan besi itu yang semakin mencengkram tubuh kecilnya.


...****************...


"Belum bisa juga kau telfon si Freya? " Ucap Steven yang mulai ikut memikirkan keberadaan Freya. Semua anggota geng lagi-lagi di buat resah karena permasalahan demi permasalahan selalu menimpa dua geng tersebut.


"Atau Jangan-jangan Freya di culik lagi sama orang yang dulu pernah menculik dia. " Ucap Edward yang mulai memperlihatkan rasa paniknya karena ssudah berkali-kali mereka mencoba menghubungi Freya tetapi tetap tak ada jawaban.


Perkataan Edward membuat semua orang hanya terdiam mata mereka saling menatap satu sama lain, berusaha mencerna kebenaran yang di ucapkan Edward.


"Gue aja yang cari Freya di tempat dulu ia di sekap. " Ucap Lintang yang berinisiatif mencari tahu keberadaan Freya, karena hanya dia dan Velisa serta Bima yang tahu tempat dimana Freya sebelumnya di sekap, jika memang betul dugaan mereka jika Freya di culik lagi, dan mereka berfikir bahwa penculiknya adalah penculik yang dulu sempat menculik Freya dan menyakap dia di gudang tak jauh dari sekolah mereka.


"Gue ikut, gue juga tahu kan tempat nya. " Ucapan Velisa tak di gubris oleh Lintang, Lintang hanya tak ingin sahabatnya dalam bahaya walaupun dia tahu Velisa juga sangat mahir dalam seni bela diri.


"Gak, lo disini sama mereka. " Bentak Lintang menyuruh Velisa untuk tetap tinggal di rumah sakit bersama Edward, Steven dan anggota geng lainya.

__ADS_1


__ADS_2