Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
26.Liontin dari Nenek!


__ADS_3

"Sialan, gue gak akan biarin Bima dapetin darah suci itu, gue harus rebut darah suci itu agar kekuatan gue kekal dan tak terkalahkan. "


Amarah Arthan memuncak, ia yang sudah di buat babak belur oleh Bima tak akan tinggal diam, bagi dirinya membuat Bima menderita seperti 300 tahun yang lalu adalah hal yang menyenangkan.


"Gue akan buat lo menderita. "Gumam Arthan sembari mengusap bibirnya yang sedikit berdarah akibat perkelahian tadi.


...****************...


Velisa membawa Freya keluar dari kamar mandi, dan membawa gadis kecil itu untuk menemui Akbar, karena Freya dari tadi pagi memang belum sempat bertemu dengan Akbar,Ia takut kalau Akbar khwatir karena tak melihat Freya. Apalagi jarak rumah sakit tempat Akbar di rawat jauh dari tempat tinggal mereka semua.


" Masih tidur Hell.? " Ucap Velisa yang masuk perlahan ke ruangan Akbar, Niko dan Lintang pun sudah tertidur pulas mungkin karena perjalanan dan mencari Freya sangat menguras tenaga dua pria itu.


"Em... " Ucap Hellen yang terlihat letih karena seharian harus menjaga prianya itu.


"Yaudah gue sama Bima dan Freya yang akan jaga, sedangkan lo Hell. " Sambil menunjuk Hellen. "Lo bisa pulang duluan sama Niko dan Lintang, pinjam aja mobil Bima." Ucap Velisa sembari kepalanya menoleh ke arah Bima, bermaksud agar Bima mau meminjamkan mobilnya kepada Lintang ,Hellen dan Niko.


"Iya lo pulang aja,nih pakai mobil gue suruh Lintang yang nyetir jangan lo," Sambil melemparkan kunci ke arah Lintang yang sedang pulas tertidur di sofa.


"La lo sendiri? Lintang terbangun dan ia berbalik bertanya pada cowok yang menyuruhnya untuk pulang.


"Gue disini aja biar bisa jaga si Vel dan Frey."


Sambil merangkul pundak Velisa. "Besok gantian kalian pulang sekolah kesini, gue dan Vel akan pulang. " Ucapan Bima membuat Lintang sedikit berfikir.

__ADS_1


"Yaudah ide bagus, gue juga udah ngantuk berat. " Sahut Niko yang terbangun karena mendengar pembicaraan teman-temanya.


"Tapi gue mau jaga Akbar. " Perkataan Hellen membuat Akbar terbangun dari tidurnya. Bocil itu memang sulit di pisahkan dari Akbar apalagi melihat kondisi Akbar saat ini membuat Hellen engan meninggalkan kekasihnya itu.


"Cil lo jangan bandel deh, lo harus pulang istirahat besok kan bisa kesini lagi. " Ucap Akbar sembari mengelus rambut Hellen yang mulai berantakan itu.


"Tauk nih anak satu, bandel amat, kan lo bisa Vc bodo. " Ketus Velisa yang pusing merasakan kebucinan satu temannya itu.


"Tapi.... Hellen... "


"Muah, pulang ya sayang, kasian nanti mama nyariin kamu. " Belum sempat menyelesaikan perkataannya. Akbar dengan cepat mengecup jidad bocil yang terus merengek itu, membuat pipi bakpao Hellen memerah.


"Aduh, nih dua bocah kadang berantem kadang buat gue pusing. " Niko yang sudah merapikan tas punggung nya hanya bisa menyindir kelakuan sahabatnya yang tak bisa ia tebak itu.


" Eh tunggu dulu. " Hellen berdiri sembari mendekati Freya. Semua hanya bisa diam di sertai rasa was-was . Karena ia mereka merasa bahwa Hellen mulai curiga tentang apa yang di alami Freya.


"Paan sih. " Jawab Freya yang sedikit menjauh dari Hellen.


"Lo, dari mana aja katanya izin ke kantin jam segini baru balik, lo pasti udah makan duluan kan di sana, ihhhh. " Teriak Hellen sembari menghentakan kakinya ke lantai.


"Huft.. Hampir" Batin Velisa.


"Engak lah gue tadi habis cari udara segar eh nyasar untuk di tolong sama Bima. " Ucap Freya yang berbohong kepada Hellen.

__ADS_1


"Yaudah kalian buruan pulang, keburu malam, kalian mau di gigit vampir. " perkataan Velisa membuat Bima yang di belakangnya terdiam.


Suasana menjadi sunyi ketika Velisa membicarakan tentang vampir.


"Ih apaan sih, mana ada vampir. " Ucap Hellen sembari menghentakan kakinya kembali ke lantai.


"Ada nih satu di belakang gue. " Velisa membalikkan badanya sembari menatap Bima, sekarang Velisa dengan jelas bisa menatap mata pria itu ,mata yang terkadang menyorotnya penuh cinta, kadang juga tatapan mata seorang Bima bisa membuat dirinya menjadi ketakutan.


Bima hanya bisa diam ia menyembunyikan rasa paniknya.Saat melihat gadis yang sedang menatapnya dan mengatai nya sebagai vampir.


"Lo apaan sih Vel. " Freya menegur perkataan Velisa yang menakut-nakuti Hellen dan menyebut Bima vampir.


"Ih santai aja kalik, gue cuma beranda, ya lagian mana ada vampir di era modern kalau pun ada tenang aja nenek gue udah ngasih jimat ke gue. " Ucap Velisa sembari memegang lehernya .


"Hahahha mana, liontin itu gak lo pakai. " Freya hanya terkekeh saat melihat Velisa memegang lehernya yang hendak menunjukkan liontin pemberian neneknya, tetapi ternyata Velisa tak memakainya.


"Liontin.? Bima yang sendiri tadi hanya diam akhirnya buka suara dan penasaran tentang liontin yang mereka bicarakan.


" Iya, dulu Velisa di beri nenek moyangnya liontin, katanya sih sebagai penghalang agar tak ada vampir yang mendekat, dia kan keturunan darah suci katanya. "Freya menjelaskan kepada Bima tentang Velisa yang sebenarnya keturunan keluarga pemilik darah suci.


" Iya tuh, gue dulu aja kagak percaya tapi melihat warna darah bu bos yang beda dengan kita gue jadi percaya. "Hellen menambahkan apa yang Freya katakan kepada Bima, membuat Bima semakin sulit mengerti tentang Velisa yang memiliki darah suci ternyata semua teman-temanya tahu, dan bagi Bima ini bisa jadi penghambatnya untuk meminum darah suci milik wanita yang saat ini sudah mulai ada perasaan dengannya itu.


Sebenarnya Bima lambat laun sudah mulai mencintai Velisa, akan tetapi rasa di dalam hati vampir gagah itu terus berubah-ubah kadang di alibi jatuh cinta kadang juga alibi ingin cepat memusnahkan gadis itu.

__ADS_1


" Cukup ceritanya, gue jadi malu, dah sama cepet pulang jangan melawan perintah bos."Ucap Velisa sembari mengusir sahabat-sahabatnya agar cepat pulang.


__ADS_2