Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
32.Rumit !


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit.


"Ma, pa...! " Teriak Adizti sembari berlari keluar ke arah mama papanya yang berada di ruang tunggu pasien tepat berada di depan ruang ICU tempat Bruno di rawat.


"Ma, pa..! " Teriak Adizti mengulang dengan suara semakin keras.


"Ada apa sayang. " Vivi dan Abraham bergegas berdiri menghampiri sang putri yang berteriak-teriak memanggil mereka.


"Abang ma. " Sambil memeluk mama nya.


"Kenapa sayang." Ucap Vivi sembari memeluk putri kecilnya itu.


Tak menunggu lama Abraham bergegas masuk ke ruangan Putranya dan melihat apa yang terjadi kenapa sampai membuat Adizti berteriak-teriak histeris seperti itu.


"Ngapain papa di sana, kalau mau jenguk Bruno ya kesini. " Ucap pria di atas ranjang itu dengan senyuman manisnya sembari menatap sang ayah yang hanya berdiri di menatapnya.


"Putra papa..! " Teriak Abraham sembari menghampiri putranya dan memeluknya.


Adizti dan Vivi yang ikut menyusul masuk ke dalam akhirnya bisa tersenyum lega karena melihat Bruno yang sudah siuman.


"Syukurlah nak kamu sudah sadar. " Ucap Abraham sembari memeluk sang putra satu-satunya itu.


Abraham memang di kenal sebagai sosok yang sangat sayang terhadap anak-anaknya. Bahkan, semua aset kekayaannya miliknya sudah atas nama Adizti dan Bruno sejak mereka masih berusia 10 tahun.


"Abang..! "Teriak Adizti sembari tersenyum manis kepada abangnya yang ia sayang itu.

__ADS_1


"Heh, lu adek gue anggota geng angel, jangan cengeng baru juga juga tinggal tidur bentar dah cengeng aja lo. " Ucap Bruno menjaili sang adik perempuan satu-satunya itu yang matanya terlihat berkaca-kaca di pelukan Vivi .


...****************...


"Ya ampun, kenapa mereka lama sekali, apa Bima dimakan biawak. " Gumam Hellen di pelukan sang pria yang telah tertidur pulas karena efek dari obat yang dokter berikan sebelum ia meninggalkan rumah sakit tadi.


"Ngaco kamu. " Bentak Freya sembari memukul bahu Hellen yang berbicara aneh-aneh terhadap Bima.


"Atau mungkin Bima terpental ke jurang. "


Hellen terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena merasa penasaran kemana laki-laki itu menghilang dan kenapa belum juga ketemu.


...****************...


"Vel, kita balik ke mobil yuk. " Ajak Kimberly yang mulai kelelahan karena mencari Bima yang tak kunjung ketemu.


Lintang dak Niko hanya bisa diam dan saling bersender di bawah pohon, mereka tak ingin berkeluh kesah apalagi perkataan Velisa sangat menyentuh hati kedua pria itu.


Bagaimana tidak, seroang Velisa yang pastinya sudah sangat lelah karena pencarian Bima yang belum ketemu, di tambah Velisa sudah berharap hari di rumah sakit jagain Akbar. Masih memikirkan sahabat-sahabatnya yang berada di dalam mobil. Tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri yang pastinya sudah mulai down.


"Udah coba lo telfon belum Vel. "Ucap Niko sembari meregangkan tubuhnya yang mulai kecapekan.


" Kalau handphon nya dia kagak ketinggalan di mobil, udah gue telfon kali dari tadi. "Sahut Velisa sembari menekuk kedua lututnya yang sepertinya sudah mulai kram, karena harus berjalan menyusuri hutan yang gelap di tambah ia juga sempat terjatuh tadi.


Suasana bulan purnama mulai menghilang tertutup awan, sesekali Velisa melihat jam tangan miliknya. Jam baru menunjukan pukul 03.00 dini hari, sebentar lagi waktu fajar. Ia berharap Bima segera ketemu saat matahari terbit nanti, jika belum juga ketemu mereka akan sepakat untuk melaporkan ke pihak yang berwajib.

__ADS_1


...****************...


"Gue heran sama si Akbar kenapa dia sampai brutal ke lo sih bang. " Ucap Adizti sembari menyuapi abangnya buah jeruk kesukaannya.


"Ya lo tahu sendiri lah, salah gue waktu kecelakaan yang nimpa si Rojer, padahal ko tahu kan siapa pelaku yang nabrak Rojer hingga tewas. "


"Emmm."


Adizti hanya mengangguk karena ia tahu insiden kecelakaan itu tetapi memang untuk saat ini dirinya dan sang abang belum bisa menjelaskannya kepada Akbar, kalau yang nabrak saudaranya itu bukanlah Bruno melainkan sahabat dekat Akbar sendiri. Akan tetapi di lokasi kejadian memang mobil Bruno saat itu yang berada di dekat Rojer yang tubuhnya tergeletak di jalan, Bruno berniat menolong Rojer akan tetapi saat Akbar melihat posisi Bruno, ia langsung berfikiran Bruno lah yang menabrak Rojer, karena bagaimanapun disisi Bruno adalah anggota geng Mark yang membenci geng Devil termasuk membenci Akbar,Akbar saat itu hanya punya pemikiran pasti Bruno ingin balas dendam denhanya dengan mencelakai Rojer. Dari situlah awal mulai beralibi bahwa Bruno lah buang dari kematian sang adik.


"Lo belum ngasih tau temen-temen lo? " Tanya Bruno sembari menyerahkan menyingkap rambut Adizti yang menutupi mata cantiknya itu.


Adizti hanya menggelengkan kepala, sembari memainkan handphone yang ia pegang. Sesekali ia mengecek handphone itu, terlihat 20 panggilan tak terjawab dari Velisa, 10 dadi Hellen dan 5 dari Freya.


"Tuh, temen-temen lo pasti panik. "Ucap Bruno sembari menunjuk ke arah handphone Adizti.


" Lo gak coba hubungin mereka sayang, ntar malah buat mereka khawatir loh, mama sama papa gak akan usut kasus ini kok, lagian abang mu itu juga salah. "Ucap Vivi yang duduk di sofa bersama Abraham.


Adizti yang mendengar kalau mama dan papanya engak akan menuntut Akbar sontak membuat Adizti kaget dan tidak Terima, bagi Adizti kalau bisa Akbar harus di penjara se umur hidupnya.


" Gak bisa gitu kita harus tuntut Akbar pa, ma. "Bentak Adizti di ruangan tersebut.


Abraham mendekat dan berusaha menjelaskan pada putri tercintanya itu.


" Sayang ini bukan maslah dendam atau tidak, papa sama mama oke kita marah sama kelakuan Akbar, tapi ingat bagaimanapun Akbar itu sahabat kamu, dan sudah bertahun-tahun sama kamu, ini pun juga salah mama papa gak ngasih tahu kalau Bruno kakak kamu, seandainya papa sama mama jujur sama Akbar pasti masalahnya gak se rumit ini. "

__ADS_1


Abraham berusaha membuat putrinya itu mengerti akan keadaan saat ini. Bagaimanapun Akbar juga tidak tahu bahwa Bruno saudaranya Adizti. Semenjak kenal dengan Adizti memang Abraham dan Vivi tak pernah cerita kepada siapapun kecuali sama Velisa tentang Bruno yang merupakan saudaranya Adizti. Bahkan Vivi dan Abraham menyuruh Velisa untuk tutup mulut mengenai Bruno. Vivi dan Abraham hanya tak ingin persahabatan mereka terpecah karena Bruno lebih memilih ikut gabung dengan geng Mark. Geng yang menjadi musuh besar anak Devil yang di ketuai Akbar dan juga musuh dari geng Angel yang di ketuai Velisa.


"Bukan karena kerja sama perusahaan antara perusahaan papa sama om Arman kan.? " Ucap Adizti secara pantang . membuat Abraham geram akan ucapan putrinya itu.


__ADS_2