
"Akbar....... !" Teriak Hellen yang baru tiba di rumah sakit bersama tiga orang temanya.
"Cil, jangan teriak-teriak ini rumah sakit bukan goa. " Akbar membalas teriakan Hellen yang berlari menuju arahnya.
Plak...
Velisa memukul bahu Akbar yang membalas teriakan Hellen.
"Lo juga sama aja bodo, ngapain bales teriakannya tuh bocah. "
"Akbar... !" Teriak Hellen sembari memeluk kekasihnya itu.
"Hmm kangen lo. " Ucap Akbar sembari mengelus kepala bocil yang sedang manja itu.
"Dunia berasa milik kalian, kita numpang,yakan Frey" Sindir Kimberly sembari merangkul Freya.
"Uh, gue kira lo gak ikut dateng Kim. "
"Tauk nih mentang-mentang di kirim ke luar kota jadi lupa sama sahabatnya, lo gak tahu apa kalau Freya kemarin di culik . " Dengan tak sengaja Lintang keceplosan tentang kejadian Freya yang sempat di culik. Membuat semua orang di situ terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Diculik." Ucap Akbar dan Hellen bersamaan dengan nada kagetnya.
"Dasar, mulut ember. " Gumam Velisa dengan nada lirihnya sembari mengalihkan pandangan matanya ke arah Bima.
"Duh mulut gue. " Ucap Lintang sembari memukul mulutnya sendiri.
"Kenapa semua diam, jawab! apakah benar Freya kemarin di culik, jawa.!"Bentak Akbar hingga membuat semuanya hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata apapun.
" Bar,"Ucap Hellen dengan lirih karena takut emosi pacarnya itu kembali membeludak.
"Apa, lo juga tahu kalu Freya di culik, terus lo juga ikut bungkam , iya? jawab! " Bentak Akbar ke arah Hellen membuat Hellen hanya menggelengkan kepalanya, karena memang Hellen tak tahu kalau Freya di culik.
"Jawab! , kalian semua punya mulut kan ,jangan hanya diam,apa gue udah gak kalian anggap lagi.? ".Bentakkan Akbar semakin kencang membuat Hellen mulai mundur selangkah demi selangkah menjauhi pria yang sedang marah besar itu.
" Iya gue jawab, Freya emang di culik saat itu, saat lo masih di tangani dokter, saat lo masih sekarat. "Ucap Velisa dengan tegas menceritakan awal mulai Freya di culik.
"Lalu, lo diam saja, tanpa ngasih tahu gue! " Bentak Akbar sembari mendekati Velisa yang berada tepat di depan Bima.
__ADS_1
"Santai, biar dia jelasin dulu. " Sahut Bima yang maju untuk melindungi Velisa dari amukan Akbar.
"Jadi kemarin itu,Freya di culik oleh geng Mark, gara-gara mereka tahu lo menghajar salah satu anggota mereka hingga koma. " Ucap Velisa sembari merasa sedikit ketakutan karena dirinya belum pernah melihat Akbar semarah ini.
Suasana yang tadinya happy karena Akbar sudah boleh pulang berubah menjadi seram dan menakutkan. Saat melihat Akbar yang marah membuat semua orang di situ hanya diam kecuali Velisa yang berusaha menjelaskan kepada Akbar tentang hilangnya Freya saat itu.
"Kenapa lo baru cerita, lo udah gue anggap sebagai seorang adik dan apa yang lo lakuin? lo malah diam saat sahabat kita di culik oleh geng sialan itu! "Cacian dari Akbar membuat Velisa hanya terdiam dan tak bisa berkata apapun,saat Akbar benar-benar marah pada dirinya.
" Tapi gue udah gak apa-apa, Bima kemarin udah nolongin gue, jadi stop kalian jangan pada berantem. "
Ucapan Freya sedikit membuat Akbar meredakan emosinya, dia kemudian terdiam mendengar penjelasan dasi Freya.
"Lo waktu itu masih masa pemulihan dan saat itu kita belum tahu keadaan lo, jadi kita sepakat untuk tidak membicarakan ini sampai lo pulih. "
Bima berusaha meredakan amarah pria itu agar tidak membabi buta dan bertindak nekat kembali.
"Tuh cewek lo takut noh, lihat lo kayak orang kesurupan. " Ucap Kimberly sembari menghadap ke arah Hellen yang bersembunyi di belakangnya. Hellen memang sangatlah takut saat Akbar emosi, dirinya lebih baik menghindari dari pada kena semprot laki-laki itu.
"Sini cil, " Ucap Akbar sembari mengulurkan tangan ke arah Hellen yang sedari tadi hanya diam dan sembunyi di belakang Kimberly.
"Engak." Bentak Hellen membuat Akbar menatap bocil itu dengan marah elangnya.
"Hell, buruan kesana biar tuh cowok lu gak marah mulu, udah malam nih besok kita sekolah buruan gih. " Ucap Velisa yang saat ini berada di rangkulan Bima.
Velisa lambat laun menunjukkan ke kedekatannya dengan Bima tanpa rasa Canggung sekalipun. Walau saat ini status mereka bedua masih belum jelas.
Hellen berjalan perlahan mendekati Akbar dak Akbar pun dengan peka langsung memeluk bocil itu sembari mengecup kening bocil nya itu.
Suasana kembali kondusif dan amarah Akbar sedikit mereda. Walau di hati kecilnya ia bakal usut tuntas siapa orang yang menculik Freya.
Lintang dan Niko membantu Akbar untuk berjalan keluar menuju mobil Bima yang terpakir tak jauh dari pintu rumah sakit tersebut.
"Jadi kita... "
"Paan." Sela Velisa ketika Bima hendak berbicara kepadanya.
"Pacaran." Ucapan Bima membuat Velisa terdiam mulutnya bagai terkunci ketika pria itu mengatakan kata yang sudah lama ingin Velisa dengar.
__ADS_1
"Vel, lo budak atau gimana?".Bima mendekatkan wajahnya ke wajah Velisa yang sedari tadi hanya terdiam tanpa mengeluarkan perkataan apapun.
" Cium aja, kelamaan loh jadi cowok. "Bentak Freya dari dalam mobil Bima.
" Oii kita udah jamuren nih nunggu kalian, dah ci*ok aja. "Sahut Lintang yang mulai kesal melihat dua sejoli itu malah bermesraan di depan rumah sakit.
" Vel. "Bentak Bima sembari menepul bahu bocilnya itu.
" Ehh, maaf. " Jawab Velisa dengan ekspresi gugupnya, pipi mungilnya yang memerah membuat Bima hanya tersenyum kecil, ia tahu kalau bocilnya itu sedang tersipu malu karena perkataannya barusan.
"Jadi kita pacaran kan? ".Tanya Bima ke Velisa sembari meyakinkan pada dirinya apakah Velisa mau menganggap dirinya pacaranya.
"Emm.. ".
Wanita itu menjawab singkat dan bergegas berlari ke arah mobil Bima, sembari menyembunyikan rasa gugupnya.
" Huftt, dasar bocil. "Ucap Bima sembari menghela nafas dan bergegas menyusul Velisa ke dalam mobil.
Jam sudah menujukan larut malam, semua isi mobil tertidur pulas kecuali Bima yang harus fokus menyetir, walau terkadang dia sesekali melirik Velisa yang saat ini tidur di samping nya.Di dalam mobil yang sunyi hanya alunan musik slow yang menemani perjalanan Bima, mengantarkan sahabatnya pulang ke rumah. Walau perjalanan mereka terbilang sangat jauh tetapi Bima tak pernah mengeluh.
" Astaga, nih bocah kalau tidur gak bisa rapi apa. "Gumam Bima sembari membenahi baju Velisa yang berantakan bahkan sedikit memperlihatkan perut putihnya membuat Bima aahh sudah lah..
Velisa memang dari kecil kalau masalah tidur emang gak bisa rapi, bahkan di dalam mobil pun ia tidur masih saja seperti bocil. seringkali saat ia tertidur tanpa ia sadari bajunya tersingkap ke atas memperlihatkan perut putih mulusnya sama seperti yang terjadi saat ini. Posisi tidur Velisa yang terkadang berantakan, dan seringkali hanya menggunakan dress mini saat tidur ,membuat seorang Bima hanya bisa ketar-ketir menahan nafsu yang lewat.
...****************...
Jam menujukan pukul 00.00 dan mereka belum juga sampai rumah, Bima berinisiatif memilih jalan memutar melewati hutan belantara yang ia baca dari maps jalan ini satu-satunya rute tercepat untuk sampai ke kota mereka.
Dari pada jalan perkotaan yang kemarin mereka pakai untuk menuju lokasi observasi, memang sangatlah jauh jarak tempuhnya.
Cittt........!
Brak....!
Mobil sport Bima yang membawa teman-temannya menghantam sebuah pohon membuat semua terbangun dan kaget. Tak ada satupun yang luka tetapi saat mereka semua terbangun mereka semua di buat kaget karena Bima tak ada di dalam mobil itu.
Kemana perginya Bima.?
__ADS_1
Apa yang membuat mobil mereka menabrak pohon?
Perkataan itulah yang saat ini menjadi bahan yang membuat semuanya yang ada di dalam menjadi panik, atas hilangnya Bima secara misterius.