
...****************...
"Audrey....! " Teriak Lina melihat kedatangan Audrey gadis cantik keturunan paris Indonesia yang ternyata adalah sepupu dari Velisa.
Audrey adalah anak dari kakak kandung Lina, yang tinggal dan bersekolah di Paris bersama orang tuanya. Jarak umur Audrey hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Velisa, gadis blesteran itu memang jarang datang ke Indonesia, sekalipun datang mungkin hanya mampir dan itupun tak lama. Terakhir dia berkunjung ke Indonesia saat insiden kecelakaan yang menimpa Rojer saat itu.
"Kak, tumben ke Indo. " Ucap Velisa sembari menemani Audrey masuk ke dalam rumahnya.
"Gue lagi holiday , dan rencana mau holiday in Indonesia selama 1 minggu, bersama sepupu kecil gue ini. " Ucap Audrey sembari mencubit pipi gembul Velisa.
"Oh iya, kak kenalin ini anggota geng gue, yang selalu gue ceritain ke kakak. " Ucap Velisa sembari memperkenalkan semua sahabatnya dengan Audrey gadis cantik yang merupakan sepupu dari Velisa.
Semua pun memperkenalkan diri masing-masing kepada Audrey sembari saling bercengkrama satu sama lain. Mata Audrey tak bisa berhenti menatap salah satu dari ketiga pria yang berada di rumah Velisa saat itu,membuat Velisa hanya tersenyum. Karena ia tahu kalau Audrey bukan orang yang gampang tertarik pada lawan bicaranya.
"Oh jadi mereka semua anggota geng lu, gue kira geng lu itu halu, ternyata ada juga . "Ucap Audrey sembari terkekeh karena masih tak percaya kalau gadis bocil seperti Velisa adalah seorang ketua anggota geng.
"Eh, lo cakep juga."Ucap Audrey sembari menunjuk ke arah Lintang, membuat pria itu jadi salah tingkah sendiri.
"Kak, lo kebiasaan deh ceplas-ceplos jadi orang yang mahal dikit deh biar gak kayak indomie. " Ucap Velisa sembari menyenggol badan Audrey dengan lenganya.
"Loh, emang kenapa kok seperti Indomie? " Tanya Niko dengan wajah polosnya.
"Murah."Jawab Velisa sembari tertawa lepas tanpa beban dosa dari hal yang ucap barusan.
" Murah, tapi kan selera ku. "Ucap Lintang yang mulai berani mengombali Audrey, membuat Audrey sedikit menahan tertawanya.
__ADS_1
" Yaudah kalian bersenang-senang , anggap rumah sendiri, gue mau rehat di kamar. "Ucap Audrey sembari berjalan menuju lantai 2 tempat ia beristirahat, karena memang di lantai 2 ada beberapa kamar yang kosong yang Lina siapkan untuk tamu yang ingin bermalam.
Audrey berjalan layaknya model berjalan meliuk-liuk memperlihatkan bodynya yang goals banget, Lintang tak bisa berkedip saat melihat wanita yang berbaju serba mini dengan rambut panjang menjuntai itu berlari menuju lantai 2.
"qGila saudara lo Vel, gak kayak lo tepos amat jadi orang."Ucap Lintang sembari matanya melirik ke sekujut tubuh Velisa, membuat bocil itu tidak nuaman
"Tepos tepos gini yang penting udah punya ayang. "Jawab Velisa membuat Lina tersenyum dari kejauhan karena melihat anaknya sudah bisa merasakan apa itu cinta dari seorang pria yang selama ini belum pernah gadis itu dapatkan.
Walaupun Lina tahu banyak pria di luar sana yang ingin mendekati Velisa putri tercintanya itu, akan tetapi Lina tahu kalau mereka semua yang mendekati Lina bukan karena ketulusan hati, tetapi karena Lina anak seorang pemilik sekolah, anak seorang pembisnis muda, dan anak konglomerat, membuat Lina selalu berfikitan kalau semua cowok yang mendekati putrinya itu pasti hanya karena ada maunya saja, tak ada ketulusan cinta di hati mereka semua .
Berbeda dengan Bima, Lina selalu memuji Bima dan menyayangi Bima seperti anak laki-lakinya sendiri.Lina merasa Bima orang yang tepat untuk putrinya, karena dimanapun Velisa berada saat butuh pertolongan Bima selalu muncul untuk yang pertama kali.
" Jadi, ada masalah apa kalian sama Adizti kenapa dia gak ikut gabung sama kalian? " Sembari ikut duduk bersama teman-teman Velisa, Lina melontarkan pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.
"Pesan tante untuk kalian yang sudah dewasa,jika kalian berantem atau ada masalah,jangan lama-lama berantemnya cepat selesaikan dengan baik-baik, kalau engak nanti kalian akan kehilangan sosok teman seperti Dizti yang baik, humble dan pintar. Kalian mau kehilangan satu anggota kalian? " Ucapan Lina menusuk ke hati semua orang yang berada di rumah itu, terutama Velisa yang memang sedari kecil sudah sangat dekat dengan Adizti.
"Yaudah tante mau ke belakang dulu, kalian fikirkan baik-baik, apalagi kamu sayang" Sembari mengelus kepala putri kesayangannya itu. "Kamu ketua geng , kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini sebijak mungkin jangan sampai berlarut-larut. " Ucapan Lina hanya di balas anggukan oleh putri kecilnya itu, Lina faham untuk saat ini dia menang belum saatnya ikut campur terlalu dalam.Ia percaya kalau putrinya dan teman-temannya pasti bisa menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.
"Yaudah besok kita ke rumah Dizti. " Ucap Kimberly sembari memainkan jari-jemari nya.
"Ide bagus, Gue akan ajak kak Audrey, karena kalian tahu sendiri kan, saat kecelakaan itu emang kakak gue juga ada di lokasi tapi sampai saat ini dia belum juga speak up tenang kronologis kecelakaan yang menimpa Rojer, yang kita tahu saat itu hanya ada Bruno dan mobilnya yang tepat persis berada di depan tubuh Rojer yang tergeletak. "
Akbar hanya terdiam mendengar apa yang di katakan Velisa.Memang betul saat itu Audrey juga ada di lokasi kejadian namun tak beberapa lama ia harus berangkat menuju bandara untuk pergi ke paris.
"Kok bisa kakak lo ada di situ? " Pertanyaan Freya membuat semua menatap semua orang menatap Velisa mencoba mencari jawaban dari raut muka Velisa.
__ADS_1
"Audrey saat itu lagi perjalanan ke bandara dan melihat ada tubuh yang tergeletak di tepi jalan dengan seorang pria yang berada tepat di depan tubuh pria itu. " Ucap Bima yang tiba-tiba tahu alasan kenapa Audrey bisa ada di lokasi tersebut.
"Loh, kok lo tahu sih. "
Semua orang terdiam, mereka nampak tak percaya kalau Bima bisa tahu kronologi kenapa Audrey ada disitu. Semua menatap Bima dengan penuh curiga pasalnya sangat asing bagi mereka Bima bisa tahu apa yang terjadi padahal Bima baru kenak Velisa baru-baru ini, sedangkan kejadian kecelakaan yang menimpa Rojer sudah bertahun-tahun.
"Jawab! dari mana lo tahu tentang kronologi kaka gue ada disitu! " Bentak Velisa membuat Bima dan yang lain hanya diam.
"Ya gue cuma nebak aja, kan kalian tadi bertanya. " Balas Bima sedikit gagap, ia takut kalau semua orang tahu dia juga bisa membaca kisah masalalu orang-orang di sekitarnya termasuk kronologi kecelakaan Rojer.
"Tapi gue belum cerita kalau kak Audrey mau balik ke Paris. " Ucap Velisa yang semakin penasaran tentang bagaimana Bima bisa tahu persis semua kejadian saat Audrey melihat Rojer.
"Kan ko bilang Audrey ada di lokasi, ya gue nabak aja,Siapa tahu dia mau balik ke paris lewat jalan situ, kan jalan itu emang satu-satunya jalan yang aksesnya dekat dengan bandara! " Ucap Bima dengan berbagai alasan, agar semua orang tak mencurigainya.
Semua orang masih menelaah apa yang di katakan Bima.
"Ada benernya loh Vel, situ emang jalan ke arah bandara yang paling dekat, ya wajar aja Bima nebak gitu, eh kebetulan benar. " Ucap Lintang sembari menaikan sebelah alisnya.
"Stop, udah gue udah gak mau dengerin bacod kalian, intinya gue besok harus ketemuan Adizti. " Bentak Akbar membuat semua orang yang menatap Bima beralih menatap pria yang sedang di landa rasa bersalah itu.
*Tok..
Tok*...
Suara ketukan pintu terdengar kembali. Velisa beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu.
__ADS_1
*Cekek...
"Adizti*...!