
Mobil sport berhenti di depan rumah sakit yang cukup besar, rumah sakit tempat Hellen di rawat, tanpa fikir panjang tanpa menunggu perintah dari Bima, Akbar berlari masuk ke rumah sakit berlari kencang dari lorong ke lorong sembari melihat kamar di sebelah kanan dan kirinya, perasaan khawatir takut dan merasa bersalah membuat laki-laki itu lepas kendali ia berlari tak memikirkan orang di depanya hanya Hellen Hellen dan Hellen yang dia fikirkan saat ini.
"Gue harus masuk. "
pria itu berusaha menerobos unit perawatan dimana masih ada Hellen yang belum selesai di periksa dokter.
Separah itu kah.?
Se serius itukah?
Hanya 2 kalimat itu yang masih tertanam di benak Velisa, kenapa sedari tadi belum ada satu orang pun dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Tenang Bar, Hellen masih di periksa. " Ucap Kimberly sembari berusaha menenangkan laki-laki yang kalap itu.
"Gue harus masuk, semua salah gue. "
Akbar terus memberontak membuat Kimberly dan Lintang yang mencoba menahan laki-laki yang memiliki tubuh atletis itu kewalahan.
Plak..!
tamparan keras mendarat di pipi Akbar, membuat semua terdiam termasuk Akbar yang hanya bisa diam mendapatkan tamparan keras dari seorang Velisa.
"Lo bisa diam gak, Hellen masih dalam perawatan , jangan buat gue pusing, jangan bertingkah seperti bocil. Kita semua juga khawatir gak cuma lo doang, di tambah Freya sedari tadi kita gak bisa hubungi dia, jadi lo jangan nambah beban fikiran kita, tenang atau lo pergi dari sini.!" Bentakan Velisa dan amarah Velisa meledak karena ulah Akbar. Membuat semua anggota geng hanya terdiam melihat amarah Velisa yang memuncak.
Pria malang itu hanya bisa duduk tersungkur sembari melipat kedua kakinya di sertai memainkan jari-jemari nya, sesekali pria itu yang di kenal paling keren dan berwibawa menyeka air mata yang keluar dari mata elangnya.
"Bipolar." Ucap Velisa lalu pergi meninggalkan Akbar dan seluruh anggota geng di depan ruangan itu.
"Cil tunggu! "Teriak Bima berlari menyusul Velisa yang masih di bakar api amarah.
"Tenang Bar, udah jangan di masukin ke hati apa yang Velisa katakan, gue yakin dokter di dalam bisa menangani Hellen dengan sebaik mungkin. "
__ADS_1
Elusan yang di berikan Kimberly di kepala Akbar membuat pria itu sedikit tenang. Kimberly paling bisa kalau harus menenangkan Akbar di kala dia terbakar api amarah atau dalam suasana hati yang bimbang, Karena memang wanita itu sudah dekat dan mengenal Akbar jauh sebelum Akbar mengenal Hellen.
"Kenapa lo baik sama gue, gue punya bipolar dan sifat gue berubah-ubah. Hellen aja kadang sama gue ilfeel kenapa lo engak. " Tatapan mata Akbar menyorot ke arah Kimberly dengan sisa air mata yang masih ada di ujung kelopak mata indahnya.
*Karena gue sayang sama lo.*
Ucap Kimberly dari dalam hatinya sembari mengusap sisa air mata Akbar yang masih tersisa menghiasi kelopak matanya.
"Ya karena lo temen gue. "Ucap Kimberly yang berbohong tentang alasan kenapa ia baik kepada Akbar.
Akbar hanya bisa tersenyum kecil kemudian ia memalingkan tatapan matanya yang sedari tadi menatap Kimberly tanpa henti.
"keluarga Hellen, mari ikut saya. " Seorang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dan meminta salah satu dari pihak keluarga Hellen ikut dengannya.
Kimberly akhirnya menjadi orang yang mewakili keluarga Hellen, karena kebetulan keluarga Hellen sedang ada pekerjaan di Swiss.
"Duduk! "Ucap dokter itu menyuruh Kimberly untuk duduk sebelum dokter itu menceritakan apa yang terjadi.
"sebelumnya saya minta maaf saya harus menyampaikan kabar ini, bahwa saudara Hellen mengalami masa kritis di karenakan ada penyumbatan di kepalanya akibat kurangnya suplay oxygen yang masuk, di tambah di juga punya riwayat penyakit asma, jadi sangat sulit untuk dirinya sadar hari ini juga,jadi kami pihak rumah sakit akan memindahkannya ke ruang ICU untuk sementara waktu." Ucapan Dokter itu membuat Kimberly hanya bisa diam sembari menahan agar air matanya tidak jatuh ketika mendengar apa yang dokter itu katakan pada dirinya mengenai kondisi sahabatnya saat ini.
Dengan sekuat tenaga dan mencoba untuk tegar adalah pilihan Kimberly yang harus ia jalani, memberitahu semua yang di katakan dokter kepada semua teman-temannya adalah pilihan tersulit untuk dirinya, ia tak mau semua teman-temannya shock mendengar keadaan Hellen yang ternyata tak baik-baik saja. Di tambah Hellen akan di pindah ke ruang ICU untuk sementara waktu tak boleh ada yang masuk selain petugas medis. Hal itu membuat fikiran Kimberly semakin menjadi-jadi ia tak mau melihat Akbar hancur karena tak bisa bertamu dengan kekasihnya itu.
"Gimana Kim. " Ucap Velisa menghampiri Kimberly sembari menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Kimberly hanya diam mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu dan mencoba sedikit demi sedikit menceritakan keadaan Hellen yang cukup parah untuk saat ini.
"Dia kritis, dan harus di pindah ke ICU untuk sementara waktu. "
Ucapan Kimberly membuat semua orang yang ada di situ terdiam mendengar keadaan Hellen yang ternyata sedang kritis.
"Gak, lo pasti bercanda ,engak mungkin bocil gue kritis.Bocil gue pasti sembuh. " Akbar yang mendengar perkataan Kimberly hanya bisa mengacak-ngacak rambutnya sendiri sembari berteriak-teriak histeris tak terima dengan keadaan yang menimpa Hellen saat ini .
__ADS_1
Bugh.......!
"Ini salah gue. "
Pukulan keras mengenai tembok rumah sakit, Akbar yang tak bisa mengontrol emosinya .Lagi dan lagi melampiaskan kekesalannya dengan cara tak sewajarnya, ia semakin menyalakan dirinya sendiri sebagai penyebab Hellen sampai kritis.
"Adizti, lo harus bayar semua ini. "
Sorot mata tajam terpancar dari laki-laki penuh dendam itu sembari menyebutkan nama wanita itu, wanita yang tak alin adalah sahabatnya sendiri, wanita yang selama ini bersamanya dan wanita yang membuat gadis yang ia cintai celaka.
"Ini juga bukan salah Adizti sepenuhnya."Perkataan Bima membuat semua orang tercengang.
" Lo belain wanita iblis itu. "Bentak Akbar sembari mencengkram kra baju Bima.
" Gue gak bela, tapi ini semua juga salah Hellen kenapa dia nabrak Rojer saudara lo sendiri lalu pergi begitu saja. "
Teriak Bima yang mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Bugh... !
Pukulan keras mengenai sudut bibir Bima, membuat bibir pria itu berdarah.
"Jaga mulut lo, jelas-jelas yang nabrak saudara gue itu si Bruno abang angkat Adizti gue lihat dia di tempat kejadian,kenapa lo nyalahin cewek gue, cari mati lo." Bentak Akbar yang tak percaya dengan semua perkataan yang keluar dari mulut seorang Bima.
"Akbar stop. " Teriak Velisa membuat Akbar menghentikan tangannya yang akan memukul Bima untuk kedua kalinya.
Tatapan tajam dari mata seorang Akbar menyorot ke arah Velisa yang mencoba menghentikannya.
"Lo harus bilangin sama cowok lo ini, kalau gak tahu apa-apa jangan bacot, kalau lo bukan sahabat gue udah gue habisin nih cowok. " Bentak Akbar sembari mendorong Bima hingga hampir terjatuh. Akbar yang di penuhi emosi itu lalu pergi tanpa mempercayai apa yang Bima katakan pada dirinya.
Bima hanya diam tak bisa berkata-kata melihat amarah Akbar yang memuncak ia memilih diam dan tak melanjutkan apa yang ia katakan sebelum Akbar jauh lebih tenang.
__ADS_1