
"Gimana bos semua sudah siap. "Faiz menepuk pundak Akbar yang sedang menghisap rokoknya.
" Jangan sampai rencana kita gagal. " Ucap Akbar sembari membuang putung rokoknya.
*********
"Jadi ntar malem kita jadikan ke rumah Velisa, kasian Velisa pasti dia sendiri saat ini apalagi tante Lina sedang di luar kota. " Ucap Freya sembari menyenderkan kepalanya ke pundak Adizti.
"Bukanya ada, Akbar. " Ucap Hellen yang menyebut nama Akbar membuat Adizti meliriknya dengan tatapan tajam.
Brak...
"Ngapain tuh cowok. " sembari memukul meja di depannya.
"Diz, sudah lah kita gak usah ikut campur, toh tadi nyokap Velisa juga nelfon gue,kita gak perlu ke sana, sudah ada Akbar yang menemani Velisa .." Ucapan Freya membuat Adizti semakin marah pasalnya kenapa Lina menitipkan anaknya ke laki-laki hidung belang seperti Bima.
"Nah, kan kenapa Bunda gak nelfon gue coba, kenapa harus di titipin sama tuh cowok. " Ucap Adizti sembari melemparkan sendok hingga sendok itu terbang entah kemana.
"HP lu kan mati, gimana sih. " Ucapan Hellen yang singkat membuat Adizti hanya terdiam dan kembali ke tempat duduknya."Makanya jangan marah-marah mulu, Bima itu cowok baik setidaknya dia ada di samping Velisa saat ini, lo tahukan Veli paling gak bisaan kalau di rumah sendiri. "
Hellen yang terkadang hidupnya penuh bercanda hari ini nampak serius menasehati Adizti yang selalu meledak saat mendengar nama Bima.
...****************...
__ADS_1
Bima mengelus kepala Velisa yang saat ini posisi gadis itu berada di pangkuan Bima
"Laper ngak cil. "
"Ih, kok bocil lagi sih, katanya suka sama gue kok manggilnya bocil. " Rengek Velisa sembari memukul dada bidang laki-laki yang ada di depanya itu.
"Jadi hubungan kita apa. "Tanya Velisa dengan nada polosnya, sembari menatap mata elang Bima dengan mata bulat nya.
Pertanyaan Velisa membuat Bima binggung, karena dia tak bisa mengartikan apakah dirinya benar-benar suka dengan pemilik darah suci itu, atau sekedar berambisi untuk segera menghisap darah suci itu.
Hubungan mereka saat ini memang belum jelas, akan tetapi Bima menekankan kepada Velisa untuk tidak berpaling darinya satu detik pun.
" Ya kita gini aja dulu, saling memahami cil, dan inget jangan centil sama pria lain, atau enggak kaki lu gue potong. "
Hari semakin malam, matahari yang tadi bersinar begitu indah lenyap di telan senja, Bima yang masih di rumah Velisa menemaninya sepanjang hari.
"Mau es cream Bim. " Rengek Velisa meminta es cream pada Bima yang sekarang sedang tertidur di pangkuannya.
" Entar dulu cil, gue lagi di pose nyaman, jangan gerak atau engak gue cium lo sampe pingsan. "Ucap Bima sembari tangannya memainkan pipi gembul milik Velisa.
" Ih Bima...... "Teriakan bocil itu sekarang tak jadi masalah bagi Bima, ia sudah kebal dengan suara cempreng bak kaleng sarden itu.
" Sekarang Bima, gue mau sekarang es cream nya. "Bentak Velisa sembari menghentak-hentakan kakinya di lantai.
__ADS_1
Bima tak menggubris permintaan Velisa ia justru membuat bocil itu murka dan mengacak-acak rambut gondrong Bima yang berada di atas pangkuannya.
Bima hanya tersenyum melihat gadis kecil itu marah,kebahagiaan tersendiri baginya melihat Velisa kesal ,bagi Bima semakin Velisa ngamuk dan marah-marah semakin terlihat mengemaskan.
" Yaudah gue minta Akbar aja. "Sembari berusaha mengambil HP nya yang ada di meja depan sofa tempat mereka saat ini.
" Lo berani nelfon dia gue potong tuh tangan."Bentak Bima sembari mencoba menjauhkan tangan bocil itu dari HP.
"Ih tapi itu temen gue." Teriak Velisa sembari berusaha mengambil handphone yang selalu di jauhkan oleh Bima.
"Gak, gak ada berani nelfon ,gue banting nih handphone. " Bentak Bima sembari memegang handphone pink milik Velisa.
"Makanya belikan sekarang, " Teriakan Velisa semakin menjadi membuat Bima akhirnya mengalah.
Bima membangunkan tubuh nya dari pangkuan Velisa karena tak ingin bocilnya itu merengek terus " Yaudah gue mandi dulu, ntar gue beliin di minimarket seberang."Ucap Bima sembari mengelus kepala Velisa.
Bima pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu baru ia pergi ke minimarket untuk membelikan es cream yang sedari tadi bocil itu inginkan.
...****************...
"Sebentar lagi darah suci itu akan jadi milik keluarga vicktor" Ucap Valentina yang melihat semua kejadian di rumah Velisa dengan cermin saktinya, ia merasa bahwa pemilik darah suci itu mulai jatuh hati pada putranya, itu pertanda kalau missi mereka hampir berhasil.
"Tinggal selangkah lagi, kamu akan jadi manusia abadi sayang. " Ucap Valentina melihat ke arah Bima yang berjalan menuju kamar mandi di rumah Velisa.
__ADS_1
Ok pembaca kita sudah sampai di bab #17 gak nyangka ya😍❤🥰🤗🤗semoga tetap stay di karya aku , gpp kok pembaca dikit tapi yang penting usaha. ❤❤🤗love u