
"Ih kok lama banget jam pelajarannya, gue pengen jenguk Akbar? "
Hellen terus merengek dan hanya merengek semenjak mereka pulang dari rumah sakit bahkan,sampai di sekolah ia pun tak fokus pelajaran.Terus menerus tanpa henti merengek ingin ketemu Akbar yang saat ini masih di rumah sakit bersama tiga temanya yang lain.
"Tenang dikit lah ntar Gue temenin, jenguk si Akbar. " Bentakan Kimberly membuat Hellen berhenti merengek.
"Lagian kenapa kalian gak ngabarin gue sih, kalau Akbar berantem sama Bruno, lihat jadinya kayak gini kan mana Dizti juga gak masuk. "
Perasaan Kimberly saat itu memang sedikit kacau, mendengar kabar Akbar yang berantem hingga masuk rumah sakit, apalagi dirinya tak ikut dengan mereka saat itu karena memang ada urusan di luar kota.
"Kita kan panik, jadi maaf gak sempet ngabarin lo. " Mata Hellen mulai berkaca-kaca ketika Kimberly memarahinya membuat Kimberly tak tega dan lansung menenangkan Hellen yang emang punya sifat mellow.
...****************...
"Bim gue mau ke kantin bentar lo mau ikut kagak. " Ucap Velisa menawari Bima untuk ikut dengannya, tetapi Bima menolak karena ia tahu hari ini hari bulan purnama dimana jika vampir pada saat malam bulan purnama terkena sinar matahari ia akan hilang seperti debu, walaupun dirinya sudah menggunakan cincin dari Valentina tetapi cincin itu tak akan memiliki khasiat saat bulan purnama tiba.
"Gak ah, lo gak akan hilang kayak si...."
"Siap yang ngilang Bim."Belum sempat Bima selesai berbicara perkataannya di potong oleh Akbar .
"Itu kucing gue kemarin ngilang, jadi gue minta Bima bantuin nyariin. " Sahut Velisa yang melihat Bima kebingungan saat di tanya oleh Akbar.
Mata Velisa menyorot ke arah Bima mengisyaratkan agar Bima keluar dari ruangan Akbar saat itu juga.
"Gue ke kantin dulu bar sama nih bocah."Ucap Velisa sembari menarik tangan Bima keluar ruangan.
" Lo apaan sih, hampir aja lo keceplosan bisa di jaga gak sih tuh mulut, lemes amat jadi laki. "
__ADS_1
Velisa memaki-maki Bima yang hampir saja keceplosan pasal Freya yang kemarin hilang.
"Maaf cil. " Kata maaf dan usapan lembut yang di lakukan Bima pada dirinya membuat wanita itu hanya diam sembari tersipu malu, bagi dirinya usapan dari tangan Bima adalah hal ternyaman yang belum pernah ia dapat dari laki-laki lain, termasuk ayahnya sendiri.
"Nah gitu dong senyum. " Pujian Bima semakin membuat pipi Velisa memerah.
Tanpa sepatah kata, di sertai rasa malu yang luar biasa Velisa berlari meninggalkan Bima di Koridor rumah sakit, pria itu tak berniat mengejar Velisa, karena ia tahu arah Velisa keluar rumah sakit dan tak mungkin dirinya mengejar wanita itu. karena tarik matahari akan melenyapkan tubuhnya.
Bugh..
Velisa jatuh tersungkur di depan pintu masuk caffe Millano yang berada tepat di seberang rumah sakit.
"Maaf." Ucap seorang pria yang tak menabrak Velisa sembari mengulurkan tangannya mencoba menolong Velisa yang masih berada tepat di bawahnya.
Velisa menerima uluran tangan itu dan ia pun berdiri sembari merapikan celananya.
"Oh ya nama gue... "
*Kring.
Suara telfon berbunyi di sela-sela ketika pria itu ingin memperkenalkan diri kepada Velisa.
"Bentar." Ucap Velisa sembari berjalan menjauh dari pria tersebut.
"Hallo Bim. " Ucap singkat Velisa mengangkat telfon yang ternyata dari Bima.
"Bima.? "
__ADS_1
Mendengar Velisa menyebut nama Bima, membuat laki-laki misterius yang belum sempat menyebutkan nama tersebut tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Velisa yang masih berbicara dengan Bima.
"Cepetan balik, gue dapat kabar Kimberly mau dateng kesini, kalau gak ada lo, gue yang repot ntar. " Ucap Bima yang memberi tahu kalau Kimberly sahabat Velisa akan datang menjenguk Akbar.
"Ok gue mau beli kopi dulu abis itu otw. " Ucap Velisa membalas perkataan Bima dan langsung mematikan telfon nya.
"Lah mana pria tadi? "
Velisa di buat bingung dengan pria misterius yang menabrak nya tadi, saat ia berbalik badan ternyata pria yang ingin memperkenalkan diri sudah tidak ada di situ.
"Ah masa bodo, gue harus cepet balik. " Ucap Velisa sembari bergegas masuk ke caffe dan memesan agar ia cepat bisa kembali ke rumah sakit. Dan ia pun mengabaikan pria misterius yang bersamanya tadi.
...****************...
"Jadi wanita tadi, pemilik darah suci? " Pria yang berlari meninggalkan Velisa terus bertanya-tanya tentang kebenaran sang pemilik darah suci itu.
...****************...
Rumah sakit indah jaya ,adalah rumah sakit ternama di kota itu, tempat Bruno di rawat sudah lebih dari 24 jam sejak ia di rawat , pria malang itu tak kunjung ada tanda-tanda untuk sadar.
Mesin-mesin cangih yang terpasang di tubuh nya itu, tak juga kunjung membuat Bruno sadarkan diri. Suara isak tangis dari keluarganya terus membanjiri ruangan ICU yang dingin itu.
"Bang, lo harus sadar bang. "Adizti wanita yang di kenal banyak orang tak kenal air mata, akhirnya menumpahkan seluruh air matanya di ruangan yang dingin itu, Adizti berusaha mensuport abang satu-satunya itu agar bisa melewati masa komanya, Tapi takdir berkata lain hingga hari berganti abangnya tak juga sadarkan diri!
Pasrah?
Putus asa?
__ADS_1
Hanya itu yang ada di benak Adizti saat ini, sebagai seorang adik, ia tak bisa melakukan apa-apa kecuali doa dan suport yang terus ia berikan tanpa henti-hentinya.