
Bel pulang sekolah akan segera berbunyi, Kimberly dan Hellen mulai berkemas untuk meninggalkan kelas, dan akan menjemput Akbar yang kabarnya akan di pulangkan hari ini.
"Buruan ntar kita telat jemput si Akbar. " Ucap Hellen yang terlihat sangat terburu-buru, ia tak mau sebagai pacar tak ada di sana ketika cowoknya akan pulang.
"Perhatiaan anak-anak. "
Seorang wanita paru baya dengan tampilan nyentrik masuk ke kelas tersebut
semua siswa memanggilnya dengan nama ini Gres,guru kesayangan kelas mereka tetapi musuh besar Velisa.Gres mencegah Murid-muridnya untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ada suatu hal penting yang hendak ia sampaikan.
"Besok kalian akan menerima siswa baru, pindahan dari Australia. " Ucap Gres dengan senyum manis di wajahnya.
"Hah, Australia lagi. " Serentak seluruh kelas menjawab dengan berbagai ekpresi. Ada yang kaget ada pula yang biasa saja.
"Kayaknya nanti Indonesia kebanyakan orang Australia deh, kemarin aja Bima dari Australia sekarang ada lagi, jangan-jangan mereka saudaraan. " Gumam Hellen sembari heran lagi-lagi kelasnya di isi pindahan orang dari Australia.
Kimberly mengangkat tangannya .
"Cowok lagi bu? "
Pertanyaan Kimberly membuat seluruh isi kelas yang tadinya ribut dengan berbagai ekspresi sontak terdiam dan berfikiran sama dengan Kimberly apakah murid baru itu cowok lagi seperti Bima atau cewek.
"Pertanyaan yang bagus. " Jawab Gres singkat sembari berjalan ke arah para siswa nya.
"Murid ini cewek, ia pindah dari Australia, karena beberapa alasan setahu ibu saudaranya tinggal disini dan bersekolah disini, tapi ibu sendiri sama staff yang lain belum tahu siapa saudara calon murid baru kita ini. " Penjelasan Gres membuat semua siswa semakin penasaran tentang murid baru yang akan datang ke kelas mereka besok.
"Mungkin saudaranya Akbar. " Gumam Hellen sembari melirik ke arah Kimberly.
"Bisa jadi sih, ntar kita tanya pas udah sampai ke rumah sakit. " Jawab Kimberly sembari memakai tas punggung nya.
"Baiklah hanya itu yang mau ibu sampaikan, kalian boleh pulang. "Gres pun mengakhiri pembicaraannya dan menyuruh seluruh murid nya itu untuk pulang.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di rumah sakit semua sibuk dengan persiapan kepulangan Akbar, yang beberapa waktu lalu dokter sudah menyarankan untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Kejadian itu tak membuat Akbar marah kepada Lintang ataupun Niko, ia merasa bahwa perbuatan dua sahabatnya itu bukti kau mereka peduli padanya.
Hanya saja Akbar terus merasa bersalah pada Bruno bagaimanapun dia kakak dari Adziti yang notabennya adalah sahabatnya sendiri.
Akbar hari ini bukan seperti Akbar biasanya ia lebih sering diam dan menyendiri di banding berbaur dengan Velisa, Bima ataupun Freya.
Plak..
Menepuk pundak Akbar yang hanya dia menatap ponselnya.
" Loh beneran udah gak apa-apa Bar? "
Pertanyaan Velisa tak di jawab oleh Akbar, pria itu terus diam sembari membuka tutup menu di ponsel yang sedari tadi ia pegang.
"Lagian lo juga sih, pakai gebukin dia sampai tepar gitu, lo sendiri kan yang repot akhirnya."Velisa kembali memarahi temanya itu yang kalau ia pikir kadang temanya kagak ngotak main hantam orang aja .
" Sudah jangan berantem ntar gue aja yang bicara sama Dizti. "Ucap Bima sembari memainkan rambut Velisa yang berdiri di depannya.
" Lo. "Ucap Freya dengan nada kaget sembari menunjuk ke arah Bima.
" Emm. "
"Gila, lo aja sama Dizti kayak kucing tiku, belum sempat lo ngomong udah di bantai abis lo sama tuh mulut gledek. "
Ucapan Freya membuat Akbar mulai tersenyum. Karena ia mengingat tentang sifat Adziti yang memang seperti bodyguard bagi anggota geng Angel dan sudah seperti seorang ibu di geng Devil.
"Ya gue coba dulu. " Kekeh Bima sembari memeluk pinggang Velisa dari belakang, tak membuat Velisa risih malah gadis polos itu mengarahkan tangannya ke belakang dan memainkan perut Bima, semakin ke bawah dan semakin ke bawah
__ADS_1
"Etzz jangan keterusan." Bisik Bima yang di buat kaget oleh Bocilnya itu. Karena tangan bocil itu tak bisa diam dan terus memainkan perutnya di hadapan teman-temannya tanpa rasa malu.
"Vel dasar lo cabul. " Ucap Freya sembari terkekeh melihat gelagat malu Velisa di sertai pipinya yang memerah bak udang rebus itu.
"***** mulu, isep aja Vel sekalian. "Ucap Akbar sembari melirkan matanya ke arah Freya yang masih sibuk dengan barang bawaannya.
" Apanya. "Tanya Velisa dengan polosnya.
" Udah jangan di terusin ntar keterusan jadi pengen. "Bima menutup mulut bocil nya itu dengan tangan kekarnya ,membuat Velisa yang sedari tadi bertanya dengan sikap polosnya itu akhirnya diam.
" Anterin gue ntar ketemu sama si Dizti, gue mau minta maaf soal kemarin. "Ucapan Akbar membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut diam seribu bahasa. Tak terkecuali Bima dan Velisa yang sedari tadi saling ngebucin satu sama lain akhirnya ikut terdiam mendengarkan apa yang barusan keluar dari mulut laki-laki yang di kenal brengsek itu.
" Lo yakin mau minta maaf, lo pasti udah tahu kan konsekuensinya. "Ucapan Freya membuat Akbar sedikit berfikir tetapi karena tekadnya untuk minta maaf sudah bulat ia tak menggubris apa yang di katakan sahabatnya itu.
" Emm. "
"Yaudah ntar kita bareng-bareng ke rumah Dizti semoga Bruno tidak kenapa-kenapa. " Ucap Bima sembari sesekali melirik Velisa yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tapi gue belum bisa ngubungin si Dizti, kita gak tahu juga dimana abangnya di rawat dan bagaimana keadaannya. "
Ucapan Velisa membuat Akbar kembali terdiam, ia merasa sangat bersalah karena telah gegabah. Walaupun Akbar punya rasa dendam yang begitu besar akan tetapi jika berhubungan dengan sahabatnya ia pasti akan merasa tak enak hati untuk dendam pada orang itu.
"Yaudah ntar gue suruh si Kimberly cari tahu dimana mereka. " Sahut Freya sembari sesekali mengusap lututnya yang sepertinya masih nyeri akibat penculikan kemarin.
"Nah, ngomongin si bocil dua itu kemana mereka ha, lo udah ngubungin dia kan Bar? "
"Udah Vel, Hellen chat gue, katanya ada pengumuman penting dari bu Gres, jadi mereka agak pulang telat. "
Velisa mulai merasa heran dengan apa yang di katakan Akbar barusan.
"Tumben guru itu memberi pengumuman, biasanya juga ayah gue,apa ayah gue sedang selingkuh lagi, makanya dia nyuruh bu Gres." Gumam Velisa sembari terus menjelek-jelekkan ayahnya itu. Seingat Velisa Gres adalah sekertaris ayahnya , dan seharusnya yang sering memberikan pengumuman di kelas Velisa adalah ayahnya bukan Gres. Gres hanya akan memberikan pengumuman jika ayahnya itu keluar meeting atau ada kesibukan di rumah. Hal itu membuat Velisa terus berfikiran buruk ke pada ayahnya .Ia tahu kalau ayahnya itu jarang sekali menyuruh sekretarisnya untuk pergi ke kelas Velisa, bisanya dirinya sendiri yang akan ke kelas putrinya itu dan memberikan banyak pengumuman penting mengenai kegiatan belajar mengajar.
__ADS_1