
"Kalian semua tidak apa-apa? " Velisa membalikan pandangannya ke arah teman-temannya yang duduk di kursi belakang.
"Kita semua baik, " Jawab serentak sembari melihat keadaan satu sama lain.
"Bim..... !" Teriak Velisa saat menyadari Bima tidak ada di sampingnya.
"Semua turun, kita cari Bima." Perintah Velisa ke semua teman-temannya menyuruh semua untuk turun dari mobil.
"What, kok bisa ilang sih, dia yang nyopir. " Ucap Hellen sembari membantu Akbar bediri.
"Jangan-jangan Bima terpentental Vel." Ucap Kimberly membuat Velisa semakin khawatir.
"Coba kita cari sebelah sana, kita mencar. " Ide dari Niko di setujui oleh semua teman-temannya termasuk Velisa.
"Tunggu, Akbar sebaiknya lo istirahat dulu, biar kita yang nyari Bima. " Ucap Velisa yang menyuruh Akbar untuk beristirahat. Bagaimanapun Akbar belum pulih sepenuhnya dan Velisa juga takut terjadi apa-apa dengan Akbar.
"Lo Hell dan lo juga Frey,kalian berdua jagain Akbar di mobil,biar Akbar istirahat ,dan jangan ikut nyari atau turun mobil sebelum kita balik kesini." Teriak Velisa sembari berlari mencari keberadaan Bima menuju arah hutan yang gelap tanpa sebuah penerangan di susul oleh Kimberly, Niko dan Lintang. Sedangkan Hellen dan Freya menemani Akbar istirahat di dalam mobil Bima.
Hellen hanya menuruti perintah bosnya itu dan memapah Akbar masuk ke dalam mobil kembali.
"Bim.....! " Teriakan Velisa sangat kencang memanggil nama Bima .Di tengah hutan belantara tanpa adanya penerangan dari lampu-lampu jalan. Hanya sinar dari ponsel mereka lah yang membantu menembus gelapnya hutan belantara itu.
Semua berteriak memanggil nama Bima yang tiba-tiba hilang secara misterius itu.
__ADS_1
"Auuu.... " Teriak Velisa yang terjatuh karena tergelincir ranting basah yang ia injak dengan sepatunya.
"Vel, lo gak apa-apa? " Teriak Kimberly sembari berlari menuju arah sumber suara Velisa yang berteriak.
"Gue gak apa-apa, kalian lanjutin aja pencarian biar gue cari di sebelah sini. " Velisa membalas teriakan Kimberly yang terdengar tak jauh dari tempat dia jatuh.
...****************...
"Bunda, kenapa Bima bisa sampai disini, bukankah tadi Bima sedang menyetir mobil ."
Bima terus bertanya-tanya, kenapa dirinya bisa kembali ke dimensi lain tanpa ia sadari sebelumnya.
"Ini malam bulan purnama, tak seharusnya kamu berkeliaran, vampir seperti kita akan celaka dan jadi abu jika melawan sinar bulan purnama yang sebentar lagi akan sempurna,sebaiknya untuk sementara waktu kamu tetap disini saja. "
"Tapi teman-teman Bima? " Ucap Bima yang mengkhawatirkan teman-temannya yang masih berada di dalam hutan.
"Lalu Velisa?"
Bima semakin khawatir apalagi Velisa juga masih ada di dalam hutan tersebut,ia takut terjadi apa-apa kalau ia harus tinggal di istana malam itu juga,
"Bunda sudah memagari area hutan itu, baik itu binatang buas atau vampir sekalipun tak akan ada yang bisa menembus portal yang bunda buat. " Ucapan Valentina membuat Bima sedikit meredakan rasa khawatirnya, ia percaya kalau bunda nya akan melindungi gadis pemilik darah suci itu, yang saat ini berhasil membuat Bima putra kesayangan menjadi jatuh hati pada gadis pemilik darah suci tersebut.
...****************...
__ADS_1
"Wah malam bulan purnama Vel. " Ucap Kimberly sembari menunjuk ke arah bulan yang saat itu memang sangat cerah tanpa ada mendung yang menutupi.
"Gue jadi ke inget pesan mama gue, kata mama dulu nenek moyang keluarga gue kalau melihat bulan purnama itu berarti malam yang sangat sakral bagi kaum vampir, mereka akan hilang seketika di malam itu hanya untuk bersembunyi dari pancaran sinar bulan purnama? " Ucap Velisa sembari melihat ke atas, melihat pancaran bulan purnama yang begitu indah.
"Hah.. !".Ucapan Velisa membuat semua terdiam sembari meresapi suasana hutan yang masii asri di temani sinar rembulan yang jarang mereka dapatkan di kota tempat tinggal mereka.
" Lah, bukanya vampir takut matahari Vel? kok jadi takut sama bulan? "Ucap Lintang yang heran dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Velisa.
" Mama gue dapat cerita dari nenek gue, vampir punya jimat berupa kalung gading rusa yang mampu membuat mereka tahan dengan sinar matahari, namun saat malam bulan purnama kalung itu tidak akan berfungsi malah sebaliknya, kalung itu akan memantulkan cahaya dahsyat saat mengenai sinar bulan dan membakar vampir yang menggunakan nya hingga menjadi abu."Penjelasan panjang Velisa di dengar kan serius oleh teman-temannya yang saat ini sedang duduk di bawah pohon besar sembari menunggu Bima yang juga belum kembali.
Capek?
Lelah?
Hanya hal itu yang saat ini mereka rasakan, mencari seorang teman yang hilang bak di telan bumi di hutan yang sama sekali belum pernah mereka kunjungi. Terlebih salah satu teman mereka baru saja pulang dari rumah sakit dan belum pulih sepenuhnya .
"Jangan-jangan, Bima vampir. " Ucap Niko yang membuat Kimberly tertawa terbahak-bahak.
"Ngaco kamu. " Sahut Lintang yang duduk di samping Niko yang mulutnya kalau bicara kagak pernah di filter itu.
"Gue kadang juga pernah berfikir kalau Bima memang vampir. " Gumam Velisa sembari memainkan jari-jemari nya.
"Hah , gila lo Vel! " Bentak Kimberly kepada sahabatnya yang mulai berbicara melantur itu.
__ADS_1
"Dia sosok misterius, yang sifatnya dan apa yang ia lakukan sulit gue tebak, seperti ini entah kemana cowok brengsek itu ngilang, buat susah kita aja. " Ucapan Velisa mulai terdengar masuk akal di telinga Niko dan Lintang, tetapi tidak di telinga Kimberly. Yang merasakan kalau Velisa memang benar-benar sudah kelewatan dengan bicara tentang Bima yang seorang vampir.