
"Ini mukjizat, saudara Bruno telah melewati masa komanya,untuk sementara waktu dia masih belum bisa sadar karena pengaruh obat." Ucapan dokter tersebut membuat keluarga Bruno kembali tersenyum melihat putra satu-satunya ada harapan untuk kembali sehat.
"Bang, gue janji bakal balas apa yang telah di perbuat oleh Akbar, gue kagak peduli bang, mau dia sahabat gue atau pacar gue sekalipun kalau udah buat abang kayak gini, Dizti gak akan tinggal diam bang. " Sorot mata Adizti memang sangat tajam mengisyaratkan dendam yang bertubi-tubi di dalam dirinya.Di balik kaca ruang ICU dia berjanji pada dirinya sendiri akan membalaskan apa yang telah di perbuat Akbar kepada abang nya tersebut.
Dor..
Dor...
Suara gedoran pintu yang sangat keras membuat Hellen yang sedang berdandan kaget dan menjatuhkan bedaknya.
"Ih siapa sih. " Teriak bocil itu dari kamarnya.
"Oi yang ada di dalam yok cabut, keburu kesiangan nih kita jemput Akbar, gue tunggu di bawah 5 menit gak turun kita tinggal. " Teriakan Faiz sangat menganggu konsentrasi Hellen yang masih berdandan. Pria itu memang di kenal tak sabaran ia selalu membuat para temannya yang lain kelabakan karena sifat dia yang gak bisa sabaran itu.
"Hell, cepetan dong. " Teriak Kimberly yang menyusul turun dari mobil mewah milik Bima yang di pinjamkan kemarin.
"Lo dandan apa col.. "
Plak...
Kimberly memukul pundak Niko yang sepertinya akan berbicara yang negatif pada Hellen,
__ADS_1
"Lo mau gue hajar Nik. "
Ucap Kimberly yang sedikit kesal kepada mulut Niko yang suka ceplas-ceplos.
"Abisnya lama tuh cewek, kita mau ke rumah sakit bukan kondangan ngapain dandan segala." Sahut Niko sembari menaruh tangannya di saku celananya.
"Lo seharusnya tahu lah kalau Hellen emang lama kalau masalah dandan, jadi sabar dikit." Seorang pembela muncul dari belakang mereka ya itulah Lintang si cowok paling suka membela yang tertindas. Entah sejak kapan Lintang ikut nimbrung keluar mobil dan datang-datang membela bocil yang lemot itu.
"Lah, gue kira lo tadi tidur. " Ucap Faiz sembari melangkah menghampiri Lintang.
"Abisnya lama banget, Hellen kutu kupret buruan. " Suara teriakan Lintang yang menggema membuat semua tertawa renyah bukan karena teriakannya yang gagah malah bagi mereka mendengar teriakan Lintang adalah suatu hal yang menghibur. Walau pria itu memiliki tubuh atletis tetapi siapa sangka suaranya saat berteriak sangat lah imut. Hingga semua tak bisa menahan tawa saat Lintang melontarkan teriakannya yang memanggil Hellen.
"Lama amat nih bocah. " Ketus Kimberly yang sudah mulai di ambang batas kesabarannya menunggumu si polos itu dandan.
Pintu terbuka Hellen dengan balutan dres berwarna pink lengkap dengan bandana nya akhirnya muncul juga setelah penantian yang cukup membuat kesabaran temanya habis.
"Astaghfirullah Hell, lo mau ke rumah sakit atau mau pergi kondangan. " Ucap Kimberly sembari memutar badan sahabatnya itu.
"Tauk nih, lo gak takut di geprek apa sama si Akbar pakai baju kurang bahan kayak ini. " Sahut Lintang sembari memegang baju yang Hellen gunakan.
"Ih, kalian kan aku mau ketemu Akbar jadi harus cantik wekkk. "Hellen membalas perkataan teman-temannya sembari menjulurkan lidahnya ke arah semua temanya yang sedari tadi malam julid terhadap penampilan dirinya.
__ADS_1
" Gas, jangan banyak cincong keburu malam, kasian Akbar nunggu pasti lumutan, belum juga ada si bos Veli,bisa abis kita kalau telat, gara-gara bocil satu ini. "Ucap Lintang yang terlihat sangat buru-buru ingin cepat sampai ke rumah sakit. Entah apa yang di fikirkan pria itu hingga tidak sabaran seperti sekarang.
...****************...
" Arthan, jika kamu sudah bertemu dengan gadis pemilik darah suci itu, cepat habisi dia."Valex yang tidak lain adalah ayah dari Arthan terus menerus menyuruh putranya itu untuk segera menghabisi Velisa wanita pemilik darah suci yang baru saja ia temui tadi di caffe dekat rumah sakit tempat Akbar di rawat
"Arthan!" Bentak Valex kepada putranya yang sedari tadi tak menggubris apa yang iya katakan.
"Dia yang namanya Velisa cantik juga. " Gumam Arthan sembari mengingat kejadian tadi saat dia bertemu dengan Velisa di caffe,
"Arthan dengan ayah engak. "Kedua kalinya laki-laki itu membentak Arthan yang sedari tadi hanya diam karena memikirkan gadis pemilik darah suci yang memikat hatinya pada pandangan pertama.
" Arthan denger, dan Arthan akan segera menemukan gadis itu."Arthan membalas ucapan sang ayah dengan kebohongan. Ia tak jujur dengan sang ayah kalau dirinya telah bertemu dengan wanita sang pemilik darah suci itu.
"Segera cari, segara habisi dia. " Ucap Valex untuk terakhir kalinya dan pergi meninggalkan sang putra yang tidak ia sadari kalau putranya mulai jatuh hati kepada Velisa. Gadis incaran keluarga Valex vampir biru.
...****************...
"Pa, kita pindahkan bang Bruno ke luar negeri aja gimana, Dizti mau yang terbaik buat abang Dizti. " Adizti merengek kepada orang tuanya untuk memindahkan abang satu-satunya itu, untuk mendapat perawatan lebih baik di luar negeri.
"Ide yang bagus sebenarnya itu sayang, tapi papa gak bisa jamin abang mu bisa tahan di luar sama, abang mu itu sangat sayang sama kamu jadi gak mungkin dia mau jauh-jauh dari kamu." Ucapan Abraham ayah Adizti membuat wanita itu sedikit meneteskan air mata. Ia tak tega melihat abangnya tersiksa di seperti ini. Ia hanya ingin yang terbaik untuk abangnya tersebut.
__ADS_1
"Iya sayang, kita tunggu aja sampai abang mu sadar baru kita tanya, mau tinggal di luar negeri atau tidak, toh dia nanti juga harus nyelesain kuliahnya dulu. " Vivi ibu Adizti mencoba menenangkan putrinya tersebut dengan memeluknya. Vivi memahami kalau putrinya pasti takut terjadi apa-apa dengan abangnya. Walaupun di sisi lain ada rahasia besar yang Vivi sembunyikan yaitu tentang kebenaran kalau Bruno bukan abang kandungannya. Ia hanya tak mau Adizti kecewa kalau abang yang selama ini sayang dengannya, melindunginya hanyalah abang angkat yang keluarganya angkat sebelum Adizti lahir.