
"Gue tahu dimana Hellen. " Ucap Bima yang tiba-tiba sudah sampai di rumah Akbar setelah pergi entah kemana.
"Lo yakin.! Seketika semua orang di dalam ruangan yang tengah duduk sembari membahas tentang Hellen,tiba-tiba Bima menyela dan membuat mereka kaget karena perkataannya.
" Gue yakin, tapi kalian harus tenang dan jangan sampai Akbar tahu dulu tentang ini, apapun yang terjadi kalian tetap tenang karena Hellen diculik oleh orang yang mungkin akan membuat kalian kecewa nanti. "Ucap Bima sembari memberi nasihat kepada semua anggota geng terlebih dahulu agar tidak melakukan tindakan di luar batas wajar.
Lintang dan Niko hanya menganggukkan kepala tanda mereka setuju apa yang Bima katakan. Walaupun bagi mereka Bima hanyalah orang asing yang dalam kata lain Bukan anggota geng mereka tapi bagi mereka semua Bima sosok yang selalu menjadi garda terdepan tanpa memperdulikan siapa dia.
...****************...
" Terus Akbar?"Ucap Velisa yang masih khawatir memikirkan Akbar pria yang selama ini bersama dirinya.
"Biarin dia tidur dulu, ntar kalau Hellen sudah kita bawa pulang baru kita ceritakan semuanya."
Ide Bima di setujui oleh semua anggota geng tanpa terkecuali. Bima yang tahu dimana keberadaan Hellen memimpin semua teman-temannya untuk menuju lokasi tempat Hellen berada. Tanpa memberitahu siapapun dari mana dia mendapat info tentang keberadaan Hellen.
Semua anggota geng mengendarai kendaraan mereka masing-masing ada yang berboncengan ada yang stay di rumah untuk menjaga Akbar.
"Cil, lo ikut naik mobil gue. " Ucap Bima menyuruh bocilnya untuk ikut bersama dirinya.
Velisa hanya tersenyum sembari berjalan di samping Bima, tak lupa ia selalu mengenggam tangan Bima dan tak melepaskan genggamannya.
Sementara tak sedikit anggota geng lain yang mulai curiga dengan sikap Bima akhir-akhir ini, dia sering pergi entah kemana dan tiba-tiba kembali dengan banyak informasi, informasi yang tak pernah di dapatkan oleh anggota geng lainya.
"Eh lo curiga gak sih, dari kemarin Bima selalu tahu keberadaan teman-teman kita saat ngilang. " Bisik Edward ke Steven anggota geng Devil yang paling suka ghibah di antara semua anggota geng yang lain.
"Masak! " Ucap Steven sembari fokus menyetir motor gedenya.
__ADS_1
"Coba inget saat kasus Freya ilang, kata Lintang dia yang tahu keberadaan nya, dan sekarang Hellen ilang dia juga yang tahu. " Ucap Edward yang mulai merasakan kejanggalan tentang sosok Bima.
"Etsss, lo diam dulu ntar kita bahas di markas, gue harus fokus nyetir ntar lo bacod mulu gue celaka." Bentak Steven yang tak ingin di ganggu saat dia menyetir motor gedenya, ia hanya tak ingin celaka seperti yang sudah terjadi padanya beberapa tahun silam.
...****************...
"Hellen, lo sahabat gue tapi lo kenapa tega gak jujur pada diri lo sendiri kalau lo yang nabrak Rojer hingga tewas." Ucap wanita itu dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Dizti! " Suara lirih itu keluar dari mulut kecil Hellen,yang tak mengira sahabatnya tega berbuat seperti ini kepadanya.
"Iya, gue Adizti, semua salah lo Hell, andai lo gak kabur waktu insiden itu." Ucap Adziti sembari mengusap air matanya yang membanjiri pipi manisnya.
Adizti membuka kain yang menutupi wajahnya sehingga Hellen dengan jelas bisa melihat kalau yang menculik dan menyekapnya adalah sahabatnya sendiri yaitu Adizti.
"Lo kenapa tega Diz, gue sahabat lo. " Ucap Hellen dengan nada yang sangat lirih dan masih tak menyangka bahwa di hadapannya adalah Adizti.
"Gue tega sama lo? yang ada lo yang tega sama gue, lo tahu Bruno gak salah, lo tahu yang nabrak Rojer itu diri lo sendiri, kenapa lo lari dari tanggungjawab! lihat gara-gara lo orang lain harus kena batunya. " Ucap Adizti yang mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh lagi, sekuat apapun Adizti mencoba dia tetap meneteskan air mata. Bukan karena dia membenci Hellen bukan dia dendam sama Hellen, tetapi dia tak tega melihat Hellen di hadapannya yang mulai tak berdaya, Adizti di ambang kebingungan, dia hanya ingin Akbar berhenti menyalakan Bruno, dia hanya ingin Hellen jujur tentang sandiwara yang ia sembunyikan selama ini.
Hellen hanya tertunduk diam, dia menyadari kesalahan yang ia buat dan ia sembunyikan.
"Kalau lo tahu , kenapa lo gak bongkar rahasia gue sejak awal." Ucap Hellen yang perlahan mengangkat pandangannya ke mata Adziti yang penuh dengan air mata.
"Karena lo sahabat gue, gue ngasih waktu lo untuk jujur. Gue kira lo bakal jujur saat pertama bertemu dengan Akbar, gue kira lo akan ngaku dan bilang kalau lo yang nabrak Rojer, tapi itu semua hanya harapan gue, ternyata lo masih suka bersembunyi bersama topeng busuk lo ini. " Ucap Adizti sembari menarik rambut Hellen dan membuat wanita malang itu merintih kesakitan.
"Rasa sakit yang lo rasain saat ini, tak sebanding dengan rasa sakit yang abang gue rasain selama bertahun-tahun, dia harus rela berpisah dan tinggal di Paris agar terhindar dari kesalahan yang bukan dia penyebabnya. "Ucap Adizti sembari sesekali menyeka air mata yang terus keluar membasahi pipinya.
Hellen masih terdiam bungkam seribu bahasa, tak ada satupun kata yang keluar dari mulut gadis kecil itu.
__ADS_1
Menyesal?
Ingin jujur?
Takut?
Hanya tiga kata itu yang membelenggu fikiranya.
"Lo fikirkan baik-baik perkataan gue. " Ucap Adizti sembari perlahan meninggalkan gadis kecil itu, gadis yang selama ini membuat dirinya harus bersandiwara meskipun mengetahui semua kebenaran yang ada.
Hellen hanya tertunduk diam, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah mengeluarkan semua air matanya, kemarahan Adizti dan ucapan Adizti mungkin sudah meresap di hati gadis kecil itu, gadis kesayangan Akbar yang ternyata penyebab Akbar harus kehilangan saudara yang ia sayang sejak kecil.
...****************...
Istana kegelapan istana pada vampir yang saat ini di datangi manusia membuat semua vampir khawatir akan keberadaan mereka.
Freya, yang berani masuk ke istana kegelapan itu harus menerima kenyataan jika dirinya bisa saja mati di tangan para vampir kapanpun vampir itu mau membunuhnya.
"Aku tidak akan membunuhmu asal kamu mau membunuh dirimu sendiri di hadapan semua teman-teman mu" Ucapan Velentina membuat Freya hanya terdiam tak faham apa maksud perkataan dari wanita itu.
"Kenapa gue harus bunuh diri gue sendiri, kalau Velisa bisa bunuh kalian dengan liontin nya."Bentak Freya yang mengancam Velentina dengan sorot mata yang sangat tajam tak kenal takut itu.
" Liontin? "
Ucapan Freya benar-benar menganggu fikiran Valentina ia tak tahu liontin apa yang di maksud Freya, dan kenapa Velisa bisa membunuhnya dengan liontin itu.
"Gadis itu punya liontin,?" Mengulang perkataannya membuat Freya tersenyum jahat.
__ADS_1
"Ya, liontin itulah yang akan membunuh kalian para vampir, termasuk membunuh putra anda Bima. " Ucapan Freya kali ini benar-benar membuat Velentina marah besar, ia paling tak suka kalau putranya menjadi bahan Incaran makhluk lain.
"Kurung dia di bawah tanah! biarkan Bima yang membunuhnya dengan tanganya sendiri. " Bentak Velentina menyuruh para vampir membawa gadis itu ke ruang bawah tanah.