Love 2 Dimensi

Love 2 Dimensi
37.Hellen di Culik?


__ADS_3

"Lepasin Gue" Teriak Hellen yang ketakutan dia dalam ruangan yang lembab dan gelap itu.


Tap....!


Tap.....!


Langkah kaki terdengar jelas, berjalan memasuki ruangan yang lembab gelap tanpa ada sedikitpun sinar cahaya matahari yang masuk.


"Itu orang kah! Tolong lepasin saya. "Teriak Hellen dengan sedikit memberontak mencoba melepaskan ikatan yang melilit tubuh kecilnya itu.


"Ini semua gara-gara kekasih lo, yang udah buat orang yang sangat istimewa bagi gue menderita .


Wanita misterius itu berbisik di telinga Hellen, membuat Hellen terdiam


"Dizti..! " Ucap Hellen perlahan memanggil wanita misterius itu dengan nama Adizti sahabatnya.


"Itu lo kan! " Teriak Hellen yang mengira kalau suara yang berbisik pada dirinya itu adalah Adizti.


Tap..


Tap.


Langkah wanita misterius itu melangkah perlahan menjauh dari tempat Hellen. Tanpa membalas pertanyaan yang di lontarkan Hellen pada dirinya.


"Gue yakin itu lo, kenapa lo lakuin ini ke gue! Lo jahat. " Teriak Hellen sembari mengatai wanita misterius yang menjauh dari dirinya tersebut.


...****************...


"Hallo...Akbar!Gimana sih Hellen bisa ngilang bukankah dia sama lo . " Bentak Freya dengan nada emosi yang meledak karena mendengar hilangnya Hellen.


"Gue kagak tahu, dia pamit ke gue katanya mau beli es cream di toko depan yang kebetulan tak jauh dari rumah .Tapi udah satu jam gak balik-balik , pas gue samperin dan gue tanyain kata ibu penjual tadi ngikut sama orang, di pikir ibu itu dia temen pacar gue. " Akbar menjelaskan ke Freya dengan suara seperti orang yang sangat khawatir.


"Ok , hari ini gue akan kerahkan semua anggota geng Devil dan Angel untuk membantu mencari keberadaan Hellen, lo jangan panik lo tetep istirahat dulu sesuai perintah dokter." Ucap Freya sembari menyuruh Akbar agar tidak panik .


"Oke temen-temen kita mulai cari Hellen dari sekarang dan jika nanti Velisa keluar dari ruangan pak Johan, tolong kasih tahu dia kalau kita pergi mencari Hellen terlebih dahulu. " Ucap Freya memberikan pengumuman di kelas.


Kelas saat itu memang tak ada pengajarnya, semua guru dan staf sekolah sedang mengadakan rapat .Semu murid memang leluasa saat itu.


...****************...


Suasana menjadi rumit saat Hellen hilang,karena mereka semua tak tahu kemana dan bersama siapa bocil itu pergi.


Berbeda dengan Freya dan teman-temannya, di ruangan yang dingin tapi berasa seperti neraka. Velisa terus beradu mulut dengan pemilik sekolah itu tahu tidak lain adalah bokapnya sendiri.


Di ruangan yang nyaman di sertai suasana sejuk dari pendingin ruangan yang mewah tak membuat gadis kecil itu nyaman,walau ia tahu kelak ruangan itu akan menjadi miliknya ketika dia dewasa.Akan tetapi bagi Velisa di dalam ruangan itu dia seperti di belenggu rantai jeruji tak bisa kemana-mana dan hanya mendengarkan laki-laki yang duduk di kursi bertuliskan kepala sekolah di atas mejanya yang hanya mengoceh tanpa henti membuat gadis itu semakin muak dengan bokapnya sendiri.


Bukan karena laki-laki itu mengoceh dengan dirinya melainkan mengoceh dengan Sheren murid baru yang akan pindah ke kelas Velisa , murid baru dari Australia yang akan jadi antek Johan, murid baru yang berparas cantik tetapi akan jadi Pengawasnya kelak membuat Velisa hanya bisa mengehal nafas menyembunyikan rasa malasnya mendengar apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Trut....


Trut....


Suara notif handphone Velisa berbunyi. chat whatsapp bertuliskan Frea muncul di home menu handphone mewah milik gadis itu.


*Vel,Hellen hilang. *


Singkat padat jelas tetapi membuat panik seorang Velisa.Bunyi chat singkat itu membuat dirinya semakin tak tenang


Bisa apakah dia sekarang?


Pergi dari ruangan itu *untuk mencari sahabatnya?.


Atau dirinya harus tetap tinggal di ruangan bak neraka bersama laki-laki yang ia benci itu*?


Tak, Velisa tak akan pergi dari ruangan itu, bukan karena tak mau ikut serta untuk mencari sahabatnya itu, tetapi dia harus tahu apa yang akan di rencanakan bokapnya itu dengan Sheren. Velisa hanya tak ingin ada orang asing yang belum dia kenal tiba-tiba di suruh oleh bokapnya untuk mengawasinya, sampai harus pindah kelas segala.


"Jadi tugas saya hanya menjaga putri bapak, agar fokus ke pelajaran sekolah? " Tanya wanita yang bernama Sheren itu dengan nada sangat halus dan perkataan yang bijak. Berbanding terbalik dengan Velisa.


"Iya, jika berhasil membuat Velisa jadi lulusan terbaik, kamu akan saya kuliahkan gratis di manapun kamu mau. "Ucap Johan sembari tersnyum ke arah Sheren.


Mendengar apa yang di katakan Johan membuat Velisa merasa geli, bahkan sesekali dirinya menguap tanda ia muak dengan pembicaraan bokapnya itu.


"Dulu Gres, sekarang Sheren,dasar gigilo."Gumam Velisa sembari memainkan kuku tangannya. Beruntung nya Velisa karena ucapan pedas itu tak terdengar oleh Johan.


" Baik pak, saya menerima tugas ini. "Ucap Sheren sembari mengulurkan tangan ke arah Johan.


...****************...


" Hell....! " Teriak Freya menyisiri area yang telah Akbar Sherlock berharap mereka bisa menemukan Hellen.


"Yaudah kita mencar aja. " Ucap Kimberly memberikan ide untuk berpencar.


...****************...


"Lo makan sekarang. " Ucap wanita itu sembari menaruh nampan berisikan Makanan yang ia taruh di bawah kaki Hellen.


"Buka penutupnya. " Perintah wanita itu ke anak buah yang menjaga Hellen, untuk membuka kain yang menutupi wajah gadis mungil yang sudah mulai melemas itu.


Wanita itu meninggalkan Hellen dengan sangat terburu-buru.


"Lepasin gue! " Teriak Hellen dengan sangat keras.


Plak...!


suara tamparan keras mengenai pipi bocil itu.

__ADS_1


"Stop gue bilang jaga dia, bukan nyakitin dia."Teriak wanita itu melihat Hellen di tampar oleh anak buahnya


"Siapa kamu, kamu Adzti kan, keluar kamu." Teriak Hellen yang terus mengira wanita itu adalah Adizti. Tetapi usaha Hellen gagal sekencang apapun bocil itu teriak wanita misterius itu tidak menggubrisnya sama sekali.


"You'll know in time." Ucap wanita itu dari kejauhan sembari melihat Hellen yang berusaha melepaskan diri dari ikatan yang ia buat.


...****************...


"Pa, udah ya dramanya Vel mau balik ke kelas dulu capek dengerin papa bacod mulu. " Ucap Velisa dengan perkataan tak sopan membuat Johan hampir marah, tetapi ia redam karena ada Sheren di depanya.


"Tenang pak. " Ucap gadis itu menenangkan Johan


"Ck.Drama menjijikkan. " Ucap Velisa sembari berjalan keluar dari ruangan yang menurut dia seperti neraka itu.


Velisa bergegas keluar bahkan sesekali berlari agar cepat menyusul teman-temanya yang mencari keberadaan Hellen yang hilang.


Brak..


Velisa jatuh tersungkur di depan perpustakaan tepati di depanya pintu keluar area sekolah.


"Maaf." Ucap seorang Pria yang menabrak Velisa sembari mencoba membantu Velisa berdiri.


"Loh, kamu? " Ucap pria itu seperti pernah bertemu dengan Velisa.


"Kamu pria yang di caffe kemarin kan. " Ucap Velisa sembari ber alibi saat dirinya bertemu pria itu di caffe dekat rumah sakit tempat Akbar di rawat.


"That's great. " Ucap pria itu kepada Velisa sembari mengulurkan tangannya.


"Nama gue Arthan, kamu, Velisa kan? " Arthan memperkenalkan dirinya kepada Velisa sembari tersenyum manis ke arah Velisa.


"Loh kok kamu tahu, emang kamu murid sini kah? "


"Siapa sih yang gak kenal anak pemilik sekolah sekaligus rektor di kampus gue. " Ucap Arthan sembari menatap gadis cantik berambut panjang terurai di sertai lesung pipi di sebelah kanannya menbah aura kecantikan yang terpancar dari wajah Velisa . Dan yang tak Arthan sangka sebelumnya dialah pemilik darah suci yang keluarganya incar.


"Bisa aja, oh kamu kuliah di kampus bokap gue? " Tanya Velisa sembari memandang Arthan yang ternyata lebih tinggi dari Bima kekasihnya.


"Yaps, Btw lo mau kemana mau gue antar?"


"Tidak usah terimakasih, ntar gue di jemput sama doi gue kok. " Ucap Velisa dengan pd nya menyebutkan tentang pacarnya itu di hadapan Arthan, yang belum Velisa ketahui kalau mereka berdua adalah musuh bebuyutan.


"Its oke, kalau ada waktu senggang bisa lah kita jalan."


"Oke."


"Bye Vel. " Ucap Arthan yang mulai sok dekat dengan Velisa yang memang notabennya Velisa memang anak yang mudah bergaul sama siapa saja.


"By Arthan. "

__ADS_1


Balas Velisa di sertai senyuman manis ke arah Arthan pria yang sebenarnya punya niat jahat pada dirinya.


Setiap perjalanan menuju pintu kaluar sekolah, Velisa merasa gelisah ia berusaha mengingat sesuatu tentang Arthan, dirinya merasa kalau pertemuan mereka baruan bukanlah yang pertama melainkan ke sekian kalinya. Akan tetapi bodohnya dia sendiri tak ingat kapan dan dimana mereka pernah bertemu lagi sebelumnya, yang gadis itu ingat hanyalah pertemuan di caffe dekat rumah sakit tempat Akbar di rawat beberapa waktu lalu.


__ADS_2