Love In Blue Sky

Love In Blue Sky
Sky 1 - Aurelia Belvina


__ADS_3

"Non, yakin mau turun di sini?" tanya pak Abdul yang mana merupakan supirnya.


"Iya, pak. Soalnya kalau di depan, ada banyak orang, aku nggak mau sampai orang-orang sadar kalau aku datang. Bapak tahu sendiri 'kan, dari kemarin banyak banget yang datang cariin aku." Aurelia Belvina menjawab. Ia menaikkan kudung jaketnya hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Ia bersiap turun dari mobil yang berhenti beberapa belas meter dari arah gerbang depan sekolah.


"Memangnya yang kemarin itu siapa sih, non? Kenapa mereka cariin, non?"


"Jangankan bapak, aku juga nggak tahu mereka siapa. Mereka tiba-tiba saja datang udah gitu tanya-tanya tentang aku. Udah ya, pak. Aurel mau masuk dulu."


"Ya, udah. Hati-hati di jalan, non."


"Bapak ini, kayak aku mau pergi jauh ada. Tinggal nyebrang ini."


"Hehe, ya walaupun tinggal nyebrang 'kan non juga harus hati-hati."


"Udah ah, pak. Aku berangkat. Nanti jemput di jam biasa, ya."

__ADS_1


"Siap, non."


Aurel membuka pintu mobilnya, melangkah keluar secara perlahan setelah kepalanya celingukan memastikan keadaan aman.


Begitu dirasa semuanya aman, Aurel segera keluar dari mobil dan berjalan dengan sikap biasa.


Aurel siap dengan penyamarannya, mengenakan hoodie putih yang bagian kudugannya di pakai, serta kacamata yang menyangga hidungnya.


Ia berjalan dengan sikap biasa. Kepalanya tertunduk, dan sebisa mungkin menghindari tatapan langsung dengan orang-orang yang berlalu di sekelilingnya.


Ia melangkah masuk ke gerbang sekolah dan berhasil menghindari sekelompok orang yang berpakaian seperti jurnalis yang hendak meliput tentang dirinya.


Penyamaran yang dikenakannya berhasil mengecoh mereka semua.


"Non Aurel ada-ada saja masalahnya," gumam Abdul sambil menggelengkan kepalanya pelan. Hal ini bukan terjadi untuk yang pertama kalinya, karena saat di SMP dulu, gadis yang jadi anak majikannya itu juga pernah mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Aurel yang populer sejak dulu, seringkali kesulitan menghadapi orang-orang yang berusaha menggali lebih dalam tentang kehidupannya. Sementara, gadis itu yang memang notabenenya sederhana dan enggan menjadi sorotan, sering berusaha menghindar dari segala hal yang sulit untuk di atasinya.


Abdul beranjak dari tempatnya setelah menyaksikan Aurel masuk dengan aman. Selanjutnya, ia hanya harus pulang dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.



Di sisi lain, Aurel menghela napas pelan saat akhirnya ia berhasil menghindari orang-orang yang berusaha mencari tahu tentang dirinya.


Kini dirinya melangkah menyusuri koridor hingga tiba di dalam gedung sekolah.


Aurel berhenti sejenak. Kerumunan orang-orang di hadapannya benar-benar membuatnya shock, terlebih mereka semua berada dalam posisi yang cukup berdekatan satu sama lain di pintu masuk.


Tahun ajaran baru, baru saja akan dimulai. Jadi tidak heran, banyak orang yang berkumpul di koridor untuk mengecek nama mereka berada di kelas mana.


Aurel terdiam, rasa takut menjalar di sekujur tubuhnya membuat pacu jantungnya tidak bisa ia kendalikan, belum lagi keringat dingin yang terus mengucur sebesar biji jagung membuatnya makin resah, napasnya sesak. Melihat orang-orang yang berdiri di sana membuat Aurel seakan tengah berada di tepi jurang yang dalam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2