
...***...
"Iya. Kalo gitu saya pamit," sahut Aurel seraya beranjak pergi dari tempatnya saat ini, melangkah menyusuri koridor gedung IPS untuk bisa tiba di pintu gerbang utama. Aurel sibuk mengabari Tania dan Audy, memberitahu mereka kalau ponselnya sudah ketemu.
BRUGH!
Aurel menghentikan langkah kakinya saat secara tiba-tiba ia mendengar suara yang amat begitu jelas memecah keheningan yang menyelimuti langkahnya.
"Suara apa itu?" Gumamnya pelan. Aurel menolehkan kepalanya pelan ke arah datangnya suara, dan samar-samar Aurel dapat mendengar seorang cowok yang tengah meringis seperti sedang menahan rasa sakit. "Halo? Ada orang di sana?" Ujarnya dengan suara yang dikencangkan. Aurel melangkah perlahan menghampiri koridor samping. Tepat dari arah suara yang di dengarnya, semakin dekat Aurel semakin jelas mendengar suaranya.
"Oh, astaga." Aurel melongo, terkejut bukan main saat mendapati seorang cowok yang tengah terduduk di lantai dalam keadaan babak belur di beberapa bagian wajahnya, sudut bibirnya mengeluarkan darah dan ia tampak sangat kesakitan. Aurel mendekat, berjongkok di dekat cowok itu.
__ADS_1
"Astaga, kamu gapapa?" Aurel kelabakan. Ia berusaha mengecek keadaan cowok itu, meraih dagunya berusaha mengecek keadaannya tapi tangannya lebih dulu di tepis kasar olehnya.
"Argh! Nggak usah sentuh gue!" Tukasnya dengan raut wajah kesal.
"Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik saja."
"Nggak perlu sok peduli, lebih baik Lo pergi dari sini. Tinggalin gue sendiri!" Kesalnya menatap Aurel tak bersahabat. Aurel makin terkejut, apalagi saat mendapati cowok yang ada tepat berada dihadapannya saat ini adalah Teo, seniornya dari jurusan IPS yang terkenal galak dan badungnya minta ampun.
"Astaga, luka kamu parah banget. Itu harus cepet-cepet diobati, kalau nggak bisa infeksi! Ayo, aku bantu obati luka kamu." Aurel berdiri, menarik tangan Teo berusaha membantunya bangun.
"Udah ayo ah!" Aurel tak mau kalah, ia terus menarik tangannya.
"Udah gue bilang. Gue nggak mau!"
__ADS_1
"Tapi kamu harus diobati! Ntar makin parah jadinya!" Aurel tak kalah keras kepala membuat Teo akhirnya mau tidak mau bangkit dan mengikuti keinginannya.
"Argh, oke!" Finalnya seraya bangkit lantas berjalan mengikuti kemana arah Aurel menuntunnya.
Aurel menarik Teo menuju salah satu bangku di taman samping sekolahnya. Tamannya tak jauh dari tempat dimana ia menemukan cowok ganteng yang babak belur akibat kebadungannya. Aurel memerintahkan Teo untuk duduk. Ia lalu mengeluarkan kotak P3K kecil yang berada dalam tasnya. Detik berikutnya, Aurel mulai sibuk mengobati Teo.
Sesekali Teo meringis ketika perih menjalar di area luka yang tengah diobati olehnya. Tidak jarang juga ia marah-marah, membuat Aurel tersentak dibuatnya. Namun sebisa mungkin gadis itu sabar dan terus mengobati luka Teo yang begitu parah.
"Arghh! Pelan-pelan bisa gak sih!" Kesalnya menatap Aurel dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf, lagian ini juga udah pelan-pelan," ucap Aurel dengan wajah polosnya.
"Arghh, pelan-pelan!" Teo mencengkeram erat tangan Aurel yang spontan menghentikan kegiatan gadis itu yang sedang mengobati lukanya. Aurel terkejut bukan main sampai-sampai jantungnya nyaris copot. Ia mematung, menatap Teo yang kini balik menatapnya. Sorot mata tajamnya berhasil membuat Aurel bungkam tak bersuara, ia tertegun mengagumi iris matanya yang tampak begitu indah.
__ADS_1
...***...