Love In Blue Sky

Love In Blue Sky
Episode 29


__ADS_3

...***...


Axelle kembali melangkahkan kakinya menuju rooftop agar bisa menemukan gadis yang dicarinya. Tiba di sana benar saja, Aurel yang dicarinya tengah berdiri seraya memandang ke arah taman. Gadis itu tampak menggulung kabel earphone-nya dan bersiap untuk pergi, tapi begitu ia berbalik; pandangan mata mereka bertemu.


"Kak Axelle…" Aurel terdiam di tempatnya memandangi cowok yang baru saja tiba di hadapannya itu.


"Ternyata Lo di sini, gue nyari Lo dari tadi." Axelle melangkah mengikis jarak diantara mereka, Aurel terdiam ia bingung kenapa Axelle repot-repot mencarinya. Untuk apa?


Cowok itu berdiri di hadapan Aurel, memandanginya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aurel membalas tatapannya dengan raut wajah bingung.


Mendadak sebelah tangan Axelle terangkat memegangi pipinya yang kini tampak memar.

__ADS_1


"Sampai memar kayak gini," lirihnya seraya menghela napasnya pelan. Aurel membatu, ia masih berusaha memproses setiap kejadian yang dialaminya.


Axelle meraih tangan Aurel dan membawanya untuk duduk di salah satu bangku yang ada. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong plastik yang dibawanya yang tidak lain adalah kantong lain berisi es batu yang kemudian di tempelkan pada pipinya.


Aurel hendak menggenggam kantong yang ditempelkan di pipinya itu, tapi ia malah jadi menggenggam tangan Axelle. Aurel tersentak, ia diam tak bersuara dengan kedua manik mata terbelalak yang kini memandangi Axelle yang kini balik menatapnya.


Beberapa saat, Axelle mengalihkan pandangannya berbarengan dengan Aurel.



Hening dalam seketika menyelimuti kebersamaan mereka, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya hembusan angin yang menyelimuti kebersamaan mereka.

__ADS_1


Aurel mulai merasa canggung, ia menundukkan kepalanya bingung harus berbuat apa. Kebersamaan mereka benar-benar terasa ambigu.


"Gue bener-bener minta maaf atas sikapnya Olivia yang kayak tadi. Gue pastiin hal kayak gini nggak bakalan terjadi lagi." Tutur Axelle memecah keheningan yang menyelimuti kebersihan mereka. Aurel mendongak spontan, menatap Axelle yang kini menampakkan raut wajah menyesal.


"Kak Axelle nggak perlu minta maaf, semua ini salah aku juga yang sembrono dan main minum aja tanpa tanya lebih dulu itu minuman siapa." Sahut Aurel. Axelle menoleh pada Aurel, ia tidak habis pikir kenapa Aurel tampak begitu tenang. Padahal kekasihnya—tidak, ralat! Maksudnya 'mantan' kekasihnya, tadi jelas-jelas sudah menamparnya dengan keras di depan banyak orang; bahkan sampai membuat wajahnya memar. Tapi dengan santainya, Aurel berkata bahwa semua itu salahnya. "Aku juga minta maaf kalau gara-gara aku, hubungan kak Axelle sama kak Olivia jadi berantakan. Aku harap kalian cepat baikan kayak sebelumnya lagi. Kalau kak Axelle sama kak Olivia sampai berantem terlalu lama, aku bakalan ngerasa nggak enak banget. Apalagi kak Olivia marah gara-gara aku."


"Lo gak salah, yang salah di sini Olivia karena sikapnya yang terlalu membesar-besarkan masalah kecil. Lo sampai harus ngalamin hal kayak gitu, bahkan gara-gara dia… pipi Lo sampai memar kayak gitu. Sekali lagi, gue minta maaf…" jawab Axelle.


"Gapapa, kakak nggak perlu ngerasa nggak enak apalagi ngerasa bersalah kayak gini. Aku sadar kok, ini salahku dan aku pantes."


...***...

__ADS_1


__ADS_2