
...***...
TOK! TOK!
Pintu kamarnya itu di ketuk perlahan oleh seorang wanita paruh baya yang rambutnya digelung ke belakang. Wajahnya di penuhi dengan kerutan, menandakan bahwa wanita itu sudah tidak lagi muda.
"Den, nyonya sama tuan besar udah nungguin den Delvin di ruang makan buat makan malam bareng," panggilnya dengan suara yang sedikit dikencangkan.
"Iya bi, aku keluar bentar lagi," sahut Delvin dari balik pintu kamarnya.
"Kalo gitu bibi permisi." Pamitnya seraya beranjak pergi dari tempatnya berdiri saat ini, meninggalkan Delvin seorang diri yang masih terdiam di dalam kamarnya dalam keadaan terduduk di meja belajarnya.
__ADS_1
"Waktunya menghadapi kenyataan," gumamnya pelan. Detik berikutnya Delvin melangkah keluar kamarnya, turun dari lantai dua rumahnya agar bisa tiba di ruang makan yang ada di lantai satu.
...*...
"Papa bangga sama kamu. Kamu bener-bener cerdik buat bujuk klien-klien besar agar mempercayakan semua proyek yang mereka miliki supaya di handle sama perusahaan kita." Pujinya pada pria yang kini duduk tepat disampingnya. Pria lebih muda yang tidak lain adalah putra sulungnya yang selalu membuatnya bangga.
"Tatap aja, kamu udah bikin Mama dan papa bangga karena selalu berhasil jadi juara, kamu memang yang paling hebat." Felly—ibunya menyahut yang ucapannya di angguki Edmund papanya.
Delvin menundukkan kepalanya, tangannya mencengkram serat sendok dan garpu yang berada dalam genggaman tangannya. Rasanya amat menyesakkan setiap kali kedua orangtuanya terus saja lebih fokus pada kakaknya sementara dirinya tidak pernah dianggap sama sekali dalam keluarganya sendiri. Dalam keluarga Delvin, kehidupan kakak beradik bukanlah tentang keakraban ataupun bagaimana cara mereka menghormati dan memberikan kasih sayang satu sama lain, tapi kehidupan kakak beradik dalam keluarga Delvin itu layaknya sebuah kompetisi dimana mereka harus berjuang satu sama lain untuk tetap bertahan dan mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya, sedangkan untuk yang kalah… tentunya selalu ada konsekuensi dan hukuman di setiap kompetisi kalau orang tersebut tidak mampu mencapai apa yang menjadi tantangannya.
__ADS_1
Hidup bertahun-tahun dengan keluarga yang terbilang cukup aneh ini membuatnya sangat tertekan, tidak ada seorang pun yang mengerti akan apa yang ia rasakan, dan tidak ada seorang pun dirumahnya yang peduli terhadapnya.
"Delvin juga hebat kok, kemarin dia juga berhasil dapat nilai bagus di sekolahnya, ya 'kan?" Darius menoleh ke arah Delvin di sampingnya, cowok itu hanya diam tak menghiraukan ucapannya.
"Apanya yang hebat, nilainya aja jauh banget dari nilai kamu waktu sekolah dulu." Kata Edmund dengan nada dingin, ia lalu memasukkan makanan di sendoknya ke dalam mulut.
"Delvin nggak pernah punya kemajuan dalam belajar, nilainya terus stuck di situ-situ aja." Felly menambahkan. Darius terdiam, ia menoleh ke arah cowok yang menjadi adiknya itu. Ia jadi merasa tidak enak karena membahas mengenai dirinya.
TAK!
Delvin menaruh sendok dan garpu di tangannya ke atas piring dengan sedikit kasar membuat semua orang yang ada di meja itu menoleh serentak ke arahnya.
__ADS_1
...***...