
...***...
Aurel hampir tak berkedip menatap Teo. "Matanya Indah…" batinnya. Aurel beralih melirik pergerakan tangannya yang di cengkeram Teo, cowok itu spontan melepaskan cengkraman tangannya.
"Gue bilang pelan-pelan," tuturnya menurunkan intonasinya.
"M-maaf, aku bakalan lebih pelan-pelan," gumam Aurel. Ia lalu kembali fokus mengobati lukanya. Setelah selesai, Aurel kemudian menempelkan plester yang di ambilnya dari dalam kotak P3K di beberapa area wajahnya. "Udah selesai." Aurel tersenyum begitu mendapati plester terakhir sudah di tempelkan di kening Teo.
Teo terdiam tak berkata-kata, matanya sibuk menatap lekat Aurel yang kini berada begitu dekat dengannya. Detik berikutnya Aurel sibuk mengemasi kotak P3K-nya, memasukkan kotak kecil itu kembali ke dalam tasnya.
"Makasih," ucap Teo pelan, lebih seperti bisikan tapi dapat di dengar jelas oleh Aurel. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan untuk bertatap muka dengan Aurel.
"Uh?" Aurel mengedipkan matanya beberapa kali, apakah ia salah dengar? Aurel merasa Teo baru saja mengucapkan terima kasih padanya. Ini adalah hal paling langka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, seorang Teo berterima kasih padanya. Biasanya Teo hanya tahu caranya membentak dan mengusir semua orang yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Sama-sama," sahutnya berusaha bersikap biasa. Teo menoleh ke arahnya, mendapati Aurel yang kini tersenyum hangat kearahnya. "Berhubung urusan ku udah selesai, aku pulang duluan." Aurel beranjak bangun dari tempat duduknya, menggantungkan tasnya di pundak.
"Kak Teo hati-hati di jalan ya, jangan sampai luka lagi," tuturnya yang sama sekali tak di jawab olehnya. Aurel memakluminya, memang pada dasarnya Teo itu orangnya jutek dan kurang—tidak, ralat! Lebih tepatnya orang yang sama sekali tidak ramah pada orang lain. Dia itu sosok yang suka menyendiri dan penuh misteri.
Detik berikutnya Aurel melangkah pergi meninggalkannya seorang diri. Melenggang menuju arah gerbang depan untuk bisa tiba di tempat parkir, tepat dimana supir tengah menunggunya untuk di jemput.
"Siapa dia?"
"Siapa namanya?"
"Dan kelas berapa?"
__ADS_1
Teo terdiam, entah mengapa untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan yang berbeda setelah bertemu dengan Aurel. Di antara semua orang yang pernah singgah di kehidupannya, Aurel adalah satu-satunya orang yang bisa di bilang perhatian padanya. Padahal mereka baru saja bertemu, dan first impression mereka terbilang kurang bagus.
...*...
Tiba di tempat parkir, Aurel sudah dapat melihat mobil jemputannya yang sejak tadi menunggu ia keluar dari sekolah. Aurel segera menghampiri supir yang berdiri di luar mobil, ia lalu mengambil duduk di jok belakang sementara supir yang menjemputnya menjalankan mobil keluar dari area parkir.
Di perjalanan pulang, Aurel memutuskan untuk mengabari kedua sahabatnya. Memberitahu pada mereka bahwa ponselnya sudah ia temukan. Aurel membuka aplikasi perpesanan, membuka satu grup berisikan nomornya, Audy, dan Tania yang sering mereka gunakan untuk berdiskusi mengenai pekerjaan rumah atau ngobrol santai layaknya anak remaja lainnya.
Aurel:
Guys, aku udah nemuin hpnya.
...***...
__ADS_1