
...***...
"Sakit lah, namanya juga di tabrak!" Sahut Aurel dengan wajah herannya. Ia tidak habis pikir dengan Tania, kenapa ia harus menanyakan hal yang sudah jelas? Padahal kalau di pikir secara logika saja sudah jelas jawabannya. Tapi ia tetap menanyakannya.
"Ya, maksudku itu sensasinya gitu lho…." Tania mencoba menjelaskan.
"Sensasi?" Aurel mengulang dengan wajah yang semakin tidak mengerti. "Aku bener-bener nggak ngerti sama apa yang kamu maksud! Udahlah, nggak usah bahas itu lagi. Sekarang mending kita ke kelas buat siap-siap, berikutnya itu pelajaran Bu Indah. Kalau telat masuk, bisa-bisa di jemur." Aurel mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Tania di belakangnya.
"Aih, orang aku belum selesai ngomong juga. Main di tinggalin aja! Aurel, tungguin!" Tania berteriak, ia lalu berlari mengejar Aurel yang sudah semakin jauh darinya.
"Cepetan jalannya!" Balas Aurel sambil terus berjalan.
__ADS_1
...*...
Teo melangkah menuruni tangga, ia hendak kembali ke gedung dimana seharusnya ia berada. Ya, gedung IPS yang letaknya bersebelahan dengan gedung Bahasa. Ia baru saja menghabiskan waktu di rooftop gedung bahasa yang notabenenya memiliki suasana lebih tenang dibandingkan rooftop jurusan IPS yang terkesan lebih ramai karena banyak dikunjungi anak-anak jurusannya.
Langkah Teo seketika terhenti saat ia secara tidak sengaja melihat seorang gadis yang berjalan dengan gadis lain. Dari penampilannya tampak familiar baginya, gadis itu sangat mirip dengan Aurel yang kemarin ditemuinya di taman.
Teo melangkah cepat mengikuti arah gadis tadi berjalan bersama dengan temannya. Tiba di belokan dimana gadis tadi melangkah ia berhenti. Matanya mengedar mencari sosoknya, namun begitu ia di sana… Teo sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan gadis yang dilihatnya tadi.
"Yang tadi itu emang bener-bener dia, atau gue salah liat?" Teo bergumam pelan.
...*...
Tania dan Aurel beranjak menghampiri gadis itu dan membantunya membawa buku-buku di tangannya.
__ADS_1
"Makasih udah bantu," kata Audy seraya tersenyum.
"Kamu bawa bukunya nggak kira-kira, kenapa banyak banget? Udah gitu tebal-tebal gini." Tania menatap beberapa tumpukan buku yang dibawanya.
"Ini semua kamu pinjam dari perpustakaan?" Aurel mengecek satu persatu buku yang dibawanya, semua buku yang dipinjam Audy adalah buku-buku bahan untuk PR Minggu depan.
"Iya. Soalnya aku nggak bisa konsentrasi kalau cari bahan di perpustakaan, jadi rencananya aku mau bawa pulang dan cari di rumah. Sekalian, kalo di rumah 'kan aku bisa nyari dengan santai sambil ngemil. Kalau di perpustakaan nggak bisa." Audy menjelaskan.
"Astaga…" Aurel menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus pulangnya nanti kamu gimana? Ini berat banget lho, kamu emang sanggup bawa semua ini sendiri?" Tania beralih menatap Audy.
"Kan ada kalian," sahutnya sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. Tania memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Ya, nanti kita bantuin. Sekarang cepetan jalannya, bentar lagi bel bunyi. Kalau kita telat, bisa-bisa kena masalah sama Bu Indah." Aurel mempercepat langkah kakinya di ikuti keduanya yang ikut mempercepat langkahnya.
...***...