
...***...
Teo membuka kedua matanya perlahan saat menyadari buku yang menutupi wajahnya itu hilang dari tempatnya. Begitu ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok jelita Aurel yang sekarang terdiam memandangnya dengan wajah polos. Mereka beradu pandang selama sesaat sebelum kemudian Teo bangun dari posisinya.
"Kak Teo…" Aurel menatapnya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Lo ngapain sih? Ganggu banget, orang lagi tidur juga." Tukasnya dengan raut wajah masam, Teo duduk dari tempatnya.
"Aku cuma mau ngasih tahu kalau bel masuk bentar lagi bunyi."
"Gue gak peduli." Teo menarik paksa buku dalam genggaman Aurel lalu kembali membaringkan tubuhnya dan menggunakan buku itu sebagai penutup wajahnya. "Sekarang daripada Lo diem di situ dan gangguin gue tidur, lebih baik Lo balik ke kelas buat belajar. Nggak usah gangguin gue!" Titahnya pada Aurel, cowok itu kembali berusaha untuk tidur.
"Kak Teo nggak ada kelas? Ngapain di sini, maksudku kenapa tiduran di sini."
"Suka-suka gue lah, kok Lo ngatur sih?!" Teo menurunkan buku di wajahnya dan menatap kesal Aurel.
__ADS_1
"B-bukannya ngatur, aku cuma tanya aja. Lagian kakak 'kan harusnya ada di gedung jurusan IPS."
"Terserah gue mau tidur dimana pun, apa hak 'lo ngatur-ngatur gue? Keluarga bukan, sodara bukan, pacar apalagi. Udahlah, pergi gih. Ganggu banget." Teo membalikkan badannya memunggungi Aurel yang terduduk di tempatnya.
"Kak Teo nggak belajar?"
"Gak! Udah nggak usah banyak tanya, pergi sana!" Usirnya lagi.
Aurel diam tak bersua, ia memandangi cowok itu dari arah belakang. Entah apa alasannya kenapa sampai membuat cowok itu enggan beranjak dari tempatnya padahal jam istirahat sudah hampir usai. Tapi kalau di pikir-pikir, mungkin ini hal biasa bagi seorang Teo. Karena cowok itu memang terkenal suka membolos dan banyak masalah di sekolahnya.
"Duh, bisa-bisa aku kena omel!" Gumam Aurel yang bergegas bangun dari tempat duduknya. Ia hendak melangkah pergi dari sana, tapi langkahnya terhenti sejenak. Aurel menoleh ke arah Teo yang tak beranjak sama sekali dari tempatnya padahal sudah jelas-jelas bel masuk sudah berbunyi. Aurel hendak membangunkannya lagi, tetapi kali ini Aurel mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi begitu saja meninggalkan Teo seorang diri di sana.
BLAM!
Pintu itu di tutupnya asal, Aurel berlari sekuat tenaga menuruni tangga agar bisa tiba di lantai dasar tempat dimana ruang kelasnya berada. Ia harus cepat-cepat kembali ke kelas sebelum guru bahasa Inggrisnya masuk dan memarahinya karena masuk terlibat.
__ADS_1
Sepeninggal Aurel, Teo mulai bergerak. Cowok itu berbalik untuk memastikan Aurel sudah benar-benar pergi dari sana. Cowok itu bangun dan duduk di atas bangku yang di tempati olehnya.
Pandangan Teo mengarah pada pintu yang tadi di tutup Aurel. Pintu itu tertutup rapat.
"Ternyata… gue bisa ketemu lagi sama Lo."
...*...
BRAKK!!
Aurel membuka pintunya sedikit kasar membuat perhatian semua orang beralih padanya. Aurel terdiam sejenak berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat lari-larian. Di dalam sana, ia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan guru bahasa Inggrisnya.
...***...
__ADS_1