
***
"Qill! Tunggu!" Gabriella berlari mengejar aqilla.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, jam pelajaran pertama, kedua dan ketiga telah selesai dan bel tanda jam istirahat tiba telah berbunyi.
"Qilla, ke kantin yuk!" Ujar Gabriella pada Aqilla seusai membereskan buku-bukunya
"Ayo!" Ujar Aqilla seraya bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan bersama menuju arah kantin.
Sesampainya di kantin, Aqilla dan gabriella segera memesan makanan kemudian mereka berjalan menuju arah meja kosong hendak menunggu pesanan mereka siap.
"Brak!" Tiba-tiba saat Aqilla tengah berjalan Aqilla di tabrak oleh seorang pria yang tengah membawa nampan berisi makanan di tangannya.
"Ah!" Aqilla melongo menatap baju seragamnya yang basah karena ketumpahan jus.
"Ya ampun qilla! Baju kamu basah!" Ujar gabriella pada aqilla.
"Sorry gak sengaja!" Ucap pria itu, gabriella mendongakkan kepalanya menatap pria itu lekat-lekat.
"Kak! Tanggung jawab dong, baju qilla jadi basah gini!" Ujar gabriella pada pria yang tak lain adalah reinaldo.
"Udah gapapa lah gab!" Ucap Aqilla pada gabriella.
"Nggak bisa gitu dong qill!liat baju kamu sampe basah! Apalagi udah ini kamu masih harus balik belajar!"
"Gapapa nanti biar ku cuci bentar! Nanti di diemin juga kering!"
"Qilla! Kalo nunggu kering keburu tembus!" Ujar Gabriella pada Aqilla.
"Hah!" Rei menghela nafas kemudian melepaskan jaket yang tengah ia kenakan saat ini.
"Ini! Pake dulu!" Ucap Rei menyodorkan jaket itu pada Aqilla.
"Ah! Gak, gak usah kak!" Qilla mencoba untuk menolak. Tanpa pikir panjang Rei segera memakaikan jaket itu pada Aqilla.
"Ikut gue!" Rei menarik tangan Aqilla, membawanya menuju suatu tempat.
"Eh, mau kemana?" Teriak Gabriella pada Rei tetapi Rei tak menghiraukan nya.
"Tap…tap…tap…" Rei dan Aqilla kini tengah berjalan di koridor dengan bergandengan tangan membuat semua mata tertuju pada mereka, terutama mata para gadis yang ada disana. Mereka menatap Aqilla lekat.
"Kak emangnya mau kemana si?" Tanya qilla mencoba memberikan diri untuk bertanya.
"Udah diem aja!" Ucap Rei dingin.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka pun sampai di ruang UKS.
"UKS? Mau ngapain kesini?" Batin aqilla. Mereka pun masuk ke dalam ruang UKS, tak ada siapapun di dalam sana. Sepi, sangat sepi dan hanya ada mereka berdua di dalam sana. Begitu mereka masuk, Rei segera mengunci pintu ruang UKS.
"Kak, mau ngapain kita kesini?" Tanya Aqilla sekali lagi tetapi kali ini Rei tak menjawab.
"Duduk!" Ucap Rei, tanpa pikir panjang Aqilla segera duduk di tepi ranjang yang ada di ruang UKS. Aqilla menatap Rei dengan kebingungan.
Kini Rei melepaskan satu per satu kancing bajunya, sontak Aqilla terkejut jantung berdebar kencang dan tubuhnya bergetar ketakutan.
"K… kak Rei mau ngapain?" Ujar Aqilla yang mulai panik, tetapi ucapan Aqilla itu tak di dengan oleh Rei. Rei masih sibuk melepaskan seluruh kancing bajunya.
"Jangan macem-macem lho kak! Nanti aku kasih tau guru!" Ancam Aqilla yang saat ini benar-benar panik.
"Nih pake!" Ujar Rei seraya memberikan seragam yang sebelum-sebelumnya ia pakai pada Aqilla.
"Huh?" Aqilla terkejut, ia melongo menatap baju di tangan Rei. Kemudian ia menatap ke arah Rei yang kini hanya memakai kaus yang begitu menjiplak perut sixpack nya.
"Cepetan pake! Keburu ada yang kesini!" Ujar Rei sekali lagi, Aqilla kemudian meraih baju di tangan Rei.
"Ta—" belum sempat Aqilla menyelesaikan ucapannya, Rei telah berjalan ke ruangan lain yang ada di ruang UKS pertanda mengerti apa yang akan di ucapkan oleh Aqilla.
Merasa keadaan sudah aman, Aqilla segera menutup tirai yang terbuka di antara ranjang kemudian mengganti bajunya yang basah.
Setelah Aqilla selesai memakai baju yang di berikan oleh Rei tadi, ia lalu duduk menunggu Rei kembali dari ruangan itu.
"Udah?" Tanya rei setibanya ia di ruangan Aqilla duduk saat ini. Aqilla menoleh ke arah Rei yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Udah kak! Oh ya, ini jaket nya!" Ujar Aqilla seraya menyodorkan jaket yang ia pakai pada Rei.
__ADS_1
"Sini baju Lo!" Ucap Rei yang kemudian merebut baju Aqilla yang basah itu.
"Eh! Mau di apain?"
"Udah diem aja! Ayo pergi!" Ajak Rei yang kemudian melenggang menghampiri pintu keluar ruang uks, membuka kuncinya dan kemudian keluar bersamaan dengan Aqilla.
Mereka berjalan bersama di koridor. Saat hendak berjalan kembali ke kantin, mereka berpisah.
"Lho kak, nggak jadi makan?" Tanya qilla
"Gak nafsu!" Ucap Rei sambil terus melenggeng dengan santai. Sedangkan Aqilla kini kembali melanjutkan perjalanan menuju arah kantin.
"Qilla!" Panggil gabriella dari sudut ruang kantin yang tengah duduk di meja dengan makanan pesanan mereka di atas meja.
"Hai!" Aqilla melangkahkan kakinya menghampiri Gabriella.
"Kamu dariman— pffftt!!! Hahahaha…" ucapan Gabriella terpotong oleh gelak tawanya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Aqilla heran.
"Itu baju siapa? Gede banget!" Ujar gabriella masih tertawa.
"Gede ya, ini punya kak Rei!" Ujar Aqilla seraya menatap ke arah baju yang ia kenakan saat ini. Mendengar itu, gabriella berhenti tertawa menatap ke arah aqilla.
"Apa?" Gabriella tampaknya terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Aqilla barusan
"Huh? Beneran? Kyaaaaa!!! Qilla aku iri sama kamu! Aku juga pengen kayak kamu!" Ujar gabriella kegirangan,
"Huh? Maksudnya?" Tanya Aqilla tak mengerti.
"Aku juga mau di perhatiin sama kak Rei kayak dia perhatian ke kamu!" Gabriella semakin keras berbicara nya mengundang perhatian semua orang yang ada di kantin menatap ke arah mereka.
"Sssttt… jangan berisik gab! Kita jadi bahan tontonan nih!"
"Ah, maaf hehehe…"
"Ya udah ayo makan! Laper!" Ujar Aqilla yang kemudian mulai menyantap semua hidangan yang ada di hadapan mereka. Kini Aqilla dan gabriella makan bersama, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut masing-masing, hanya denting sendok dan garpu yang menghiasi meja makan mereka.
Selesai makan, kini mereka berdua tengah duduk di bangku taman, menikmati indahnya bunga-bunga di siang hari.
"Qill kamu kenapa?" Tanya Gabriella yang baru menyadari bahwa sedari tadi temannya itu sibuk menatap layar ponsel di tangannya
__ADS_1
"Hm… gak gapapa!"
"Yakin gapapa? Terus kenapa dari tadi liatin ponsel kamu terus kayak lagi nungguin berita dari seseorang gitu? Atau jangan-jangan kamu lagi nungguin chat dari Arvin ya? Ciee yang kangen sama calon suami!' ujar gabriella menggoda Aqilla
"Bukan iiih!" Wajah Aqilla memerah
"Ih wajah kamu merah tuh!"
"Iih, aku tuh lagi nungguin chat dari sahabat aku! Fiona, dia sahabat aku waktu di SMP. Semenjak kita masuk SMA dia nggak pernah chat aku lagi setelah hari pertama MOS itu!"
"Hah? Yang bener?"
"Iya, dia gak pernah chat aku lagi! Dia kenapa ya? Apa dia marah sama aku? Atau gimana?"
"Ya aku gak tau, banyak banget kemungkinannya! Bisa aja dia terlalu sibuk sama pelajaran nya sampe lupa waktu, bisa jadi dia udah punya temen baru terus lupain kamu, bisa jadi juga dia cuma canggung mau ketemu kamu karena kalian kan beda kelas."
"Iya juga si"
"Udah jangan murung! Kan masih ada aku, aku bakalan temenin kamu kapan pun dan dimana pun!"
"Beneran?"
"Iya!"
"Berarti mulai sekarang kita sahabatan?"
"Yap! Dan sahabat akan selalu ada dalam suka maupun duka, dalam susah dan senang! Aku berjanji, bunga-bunga disini menjadi saksi persahabatan kita!"
"Makasih gab!" Ujar Aqilla seraya memeluk tubuh Gabriella
"Sama-sama" ujar Gabriella yang kemudian balas memeluk tubuh Aqilla.
__ADS_1