Love In Blue Sky

Love In Blue Sky
Episode 28


__ADS_3

...***...


"Ayo pulang," ucap Audy yang kini sudah menggendong tas punggungnya, mereka baru saja selesai membereskan alat tulis mereka setelah jam pelajaran terakhir usai.


"Kamu pulang duluan aja, aku 'kan harus piket dulu dan kayaknya bakalan lama. Kalau kamu nungguin aku, nanti supir yang jemput kamu bakalan lama nungguin nya."


"Oh, besok piket kamu ya?"


"Iya. Jadi kamu duluan aja."


"Terus kamu pulangnya gimana?"


"Kan ada jemputan, lagian aku piket juga nggak sendirian 'kan? Jadi nggak perlu pikirin aku."


"Oke deh, kalau gitu aku pulang duluan. Kalau ada apa-apa kamu hubungin aku aja."


"Iya, tenang aja. Nggak bakalan ada apa-apa kok."


"Kalau gitu sampai ketemu besok." Audy beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Iya." Aurel melambaikan tangan begitu gadis yang menjadi sahabatnya itu melangkah keluar dari dalam ruang kelasnya, menyisakan Aurel bersama dengan teman sekelasnya yang lain. Mereka mulai membersihkan ruang kelas sebelum pulang.



...*...


"Kalau gitu kita duluan."


"Iya, hati-hati di jalan." Aurel melambaikan tangannya pada teman-teman sekelasnya yang kini beranjak pergi dari tempatnya berada.


Aurel terdiam sejenak memandangi mereka yang terus melangkah hingga hilang di balik pertigaan tak jauh di sana.


"Masih ada banyak waktu," gumamnya. Aurel lantas melangkah pergi dari sana untuk menikmati sisa waktunya sebelum supir menjemputnya di gerbang depan.


Ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas, ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di rooftop.


Tiba di rooftop, Aurel segera menutup pintunya dapat lalu melangkah menuju tembok yang ada dan berdiri di sana.


Kedua matanya menatap ke arah pemandangan indah yang kini terlihat jelas dihadapannya.

__ADS_1


Ia termenung, hembusan angin yang menerpa pipinya membuat rasa panas itu sedikit berkurang.


Sudah berjam-jam semenjak Olivia menampar pipinya, rasa panas bercampur perih masih dapat jelas dirasakan oleh Aurel. Selain itu ingatan mengenai kejadian apa yang terjadi masih membekas dalam ingatannya.


Aurel merogoh kantong rompi yang menempel pada tubuhnya, ia kemudian memasang earphone pada telinganya dan memutar musik yang kini menggambarkan perasaannya yang begitu campur aduk.


Aurel memejamkan kedua matanya, mendengarkan musik yang kini bergema di telinganya.


...*...


Axelle melangkah menyusuri koridor gedung bahasa, di tangannya; ia membawa kantong plastik kecil. Langkahnya berhenti di depan sebuah ruangan yang kini tampak kosong, sudah tidak ada orang yang mendiami ruangan itu.


"Apa dia udah pulang? Perasaan tadi gue liat dia masih ada di kelasnya." Axelle bergumam pelan, ia melongok lewat jendela yang kini tertutup di sana, dan kosong. Tidak ada seorang pun di dalam sana.


"Apa dia baru aja pulang?" Axelle terdiam sejenak, perhatiannya lalu disita oleh beberapa orang adik kelasnya yang berjalan hendak pulang. Axelle menghentikan mereka lalu menanyakan mengenai gadis yang sedang dicarinya. Mereka mengatakan kalau orang yang di carinya baru saja pergi menuju lantai atas. Bergegas ia melangkah menyusuri tangga untuk mencari gadis yang dicarinya, di lantai atas; ia kembali bertanya pada beberapa orang gadis yang tengah mengobrol di koridor dekat ruang kelas mereka.


"Gue liat kalo nggak salah dia ke atas, kayaknya ke rooftop." Tutur salah satunya.


"Makasih."

__ADS_1


...***...


__ADS_2