
...***...
"Aurel kehausan dan nyangkanya minuman itu punyaku." Bela Tania, ia tidak mungkin membiarkan Aurel di serang habis-habisan oleh Olivia, bisa-bisa masalahnya berkepanjangan.
"Makanya kasih tahu!" Teriak Olivia pada Tania. Gadis itu terkejut bukan main mendengarnya, Tania yang tadinya ketakutan sekarang berubah kesal karena attitude kakak kelasnya yang super minus ini. Tania rasanya ingin menjambak rambutnya itu hingga botak, tapi apalah daya. Tania hanya bisa menahan emosinya karena tidak ingin membuat dirinya dan Aurel semakin terjebak dalam masalah. Tangan gadis itu terkepal erat di bawah sana.
"Ya udahlah, lagian udah terlanjur juga," ucap Axelle yang tampak tidak mempermasalahkannya sama sekali. Olivia yang mendengarnya seketika tersentak dibuatnya.
"Apa? Apa aku nggak salah denger? Jadi kamu nggak marah sama dia?" Kesalnya.
"Ya terus aku harus gimana? Airnya juga udah di minum 'kan, lagian cuma air minum ini."
"Tapi yang, dia minum—kok kamu belain dia sih?" Olivia semakin meledak-ledak, apalagi saat mendengar respon dari kekasihnya yang di luar dugaan itu.
"Aku nggak belain siapa-siapa, cuma udah terlanjur juga." Axelle berusaha membuatnya tenang.
"Ah udah cukup! Kamu belain dia karena dia cantik 'kan?" Tuduhnya.
"Apa? Kok kamu mikirnya kayak gitu?"
__ADS_1
"Ngaku aja, kamu suka sama dia 'kan? Makanya kamu jarang banget bisa aku hubungin akhir-akhir ini!"
"Kamu ngomong apa sih, kenapa kamu malah bahas yang lain?"
"Buktinya aja kamu biarin dia minum pakai botol kesayangan kamu ini?! Sedangkan aku bahkan nggak pernah sama sekali."
"Ini cuma masalah sepele, kenapa kamu besar-besarin?"
"Apa? Besar-besarin?" Olivia memutar bola matanya jengah. "Terserah kamu aja!" Kesalnya sambil mendorong botol di tangannya ke arah Axelle dan pergi dengan penuh rasa kesal di ikuti oleh kedua temannya dari arah belakang.
Axelle hendak mengejarnya, ia berhenti sejenak kemudian menoleh ke arah Aurel yang masih terdiam. Dari raut wajahnya, Tania bisa melihat kalau Axelle hendak meminta maaf, tapi ia juga harus mengejar Olivia.
Axelle tidak jadi berbicara dan memutuskan untuk pergi mengejar Olivia yang sudah lebih dulu pergi dari sana. "Yang, tunggu. Aku belum selesai ngomong sama kamu." Teriak Axelle yang berlari mengejarnya.
"Astaga, pipi kamu sampai merah banget kayak gini." Tania memandangi pipi Aurel yang merah. "Pasti sakit banget, kan?"
Aurel mendongak menatap sahabatnya. "Aku gapapa kok." Elaknya.
__ADS_1
"Tapi pipi kamu…"
"Aku baik-baik saja. Serius." Aurel meyakinkan. Tania terdiam sejenak.
"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa tadi kamu lari-larian? Kamu keliatan panik banget," ujar Tania. Aurel mendongak, ia baru ingat kalau tujuannya mencari Tania adalah untuk memberitahunya kalau ibunya datang dan mencarinya.
"Ah, aku baru inget. Mama kamu datang."
"Apa? Serius?" Tania terbelalak mendengarnya.
"Iya."
"Astaga, ada apa. Ya?" Tania mulai panik, tidak biasanya ibunya datang ke sekolah. Kalaupun dia datang, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Nggak tahu, maka dari itu aku cari kamu ke sini."
"Terus sekarang, dimana mama?"
"Lagi sama Audy. Lebih baik sekarang kita datangin dia sekarang, jangan bikin Mama kamu curiga."
__ADS_1
"Iya, ayo." Tania dan Aurel lantas melangkah, beranjak pergi.
...***...