Love In Blue Sky

Love In Blue Sky
Episode 39


__ADS_3

***


"Udah ayo makan!" Ujar sam, mereka semua pun makan bersama di atas meja yang sama.


Keesokkan harinya Aqilla bangun dengan semangat, kini Arvin sudah sembuh dan Aqilla sudah tak perlu khawatir lagi padanya.


Aqilla perlahan bangun dan berjalan menuju arah kamar mandinya hendak bersiap untuk pergi ke sekolah, ia tak ingin bolos lagi.


"Pagi!" Sapa Aqilla pada arvin yang baru saja keluar dari dalam kamarnya hendak pergi menuju arah ruang makan.


"Pagi! Mau pergi sekolah ya?" Sapa Arvin.


"Ya"


"Gue anterin ya?"


"Gak perlu, lagian kan masih ada pak Alan yang bisa anterin aku ke sekolah!"


"Nggak! Pokoknya biar gue aja! Udah ayo kita sarapan!" Ujar Arvin sambil menarik tangan Aqilla menuruni tangga menuju arah ruang makan.


"Pagi pa! Om!" Sapa Arvin pada Sam dan Evan yang tengah duduk di meja makan menunggu mereka tiba.


"Pagi!" Sahut mereka serentak.


Arvin kini berjalan menghampiri meja makan menarik kursi kosong dan mempersilahkan Aqilla untuk duduk. tanpa pikir panjang Aqilla segera duduk di kursi itu dan mereka pun sarapan bersama.


Selesai sarapan aqilla berjalan keluar rumah dengan Arvin hendak pergi ke sekolah dengan di antarkan oleh Arvin.  Perlahan mobil melaju meninggalkan halaman rumah Aqilla dengan Arvin dan Aqilla di dalamnya. Mobil itu melaju menuju arah sekolah Aqilla.


"Oh iya, pulang nganterin aku nanti kamu mau kemana?" Tanya aqilla mencoba memecah keheningan di antara mereka untuk menghasilkan rasa canggung.


"Nggak tau juga, mungkin gue cuma males-malesan aja di rumah nungguin Lo balik!"


"Hm… gimana kalo pulang sekolah nanti kita jalan?"


"Nggak!"


"Kenapa?"


"Gue gak mau di bohongin sama Lo lagi!"


"Maksudnya?"


"Jadi Lo masih lupa?"


"Lupa? Lupa apa?"


"Udahlah, gue males bahas ini!" Ujar Arvin yang tampaknya mulai kesal, Aqilla pun terdiam memikirkan perkataan Arvin yang sama sekali tak di mengerti olehnya.


Sesampainya di perkirakan sekolah, Aqilla segera keluar dari dalam mobil.


"Ya udah kalo gitu aku masuk dulu ya!"


"Iya! Nanti sore jemput atau jangan?"


"Hm… nggak usah aja, biar aku suruh pak alan aja buat jemput aku!"


"Ya udah oke!" Ujar arvin mengalah.


"Qilla!!!!" Terdengar suara seseorang memanggil namanya, Aqilla menoleh mencari arah datangnya suara itu kemudian ia mendapati Gabriella yang kini tengah berlari menghampiri nya yang kini sedang berdiri dekat mobil dan berbicara dengan Arvin.


"Qill, kemana aja kamu!!!" Ucap Gabriella seraya memeluk erat tubuh temannya itu untuk melepaskan kerinduan.

__ADS_1


"Aku kangen tau! Kamu kemana aja? Kenapa kemarin nggak masuk?" Tanya gabriella.


"Ah, kemaren aku ada keperluan keluarga jadi aku gak bisa masuk, maaf gak ngabarin!" Ujar Aqilla.


"Aku rindu!!!" Ucap Gabriella manja.


"Baru juga sehari gak masuk masa rindu!" Celetuk Arvin pada gabriella, spontan Gabriella menatap Arvin.


"Qilla....." Seketika tanya membulat menatap Arvin, gabriella terpesona akan ketampanan dari seorang Arvin.


"Apa?"


"Dia… siapa? Kyaaa, ganteng banget qill! Kok kamu nggak bilang si kalo kamu unta temen ganteng kayak dia?" Ujar Gabriella sambil tersenyum dan masih terpesona menatap Arvin bak menatap sebuah berlian yang selama ini ia incar.


"Ah, ya kenalkan ini Arvin!" Ujar Aqilla pada gabriella.


"Hai! Aku Gabriella temannya Aqilla, salam kenal!" Ujar gabriella sambil menyodorkan tangannya lewat kaca mobil yang terbuka.


"Arvin!" Ujar Arvin singkat seraya menjabat tangan Gabriella.


"Ooh! Jadi kamu calon sua—" belum sempat gabriella selesai berbicara mulutnya di bekap oleh aqilla.


"Sssstttt…" ujar Aqilla mencoba menyuruh gabriella diam.


"Kamu jangan ngomong keras-keras!" Ujar Aqilla sedikit emosi, ia kemudian melepaskan bekapan tangannya pada mulut gabriella


"Ya maaf! Aku keceplosan!" Ujar Gabriella seraya tersenyum kecil.


"Jadi Lo cerita sama orang lain?" Tanya arvin pada Aqilla ketus.


"Ah, hm… iya, maaf!" Ujar Aqilla menundukkan kepalanya murung.


"Jangan salahkan Aqilla, dia gak salah! Tapi aku yang salah, aku yang paksa dia buat ceritain semuanya sama aku!" Ujar Gabriella mencoba untuk menjelaskan semuanya pada arvin agar ia tidak salah sangka.


"Gapapa! Lagian gue gak marah kok!"


"Huh? Ku kira kamu bakalan marah!" Ujar Aqilla terkejut.


"Gak! Gue bakalan marah kalo Lo ceritain ini sama cowok lain!"


"Wah Arvin ternyata baik ya, kamu gak mau sampai semua orang tau soal ini dan bikin Aqilla malu terus di bully kan? Aku ngerti kok! Wah qill, kamu beruntung banget bisa di jodohin sama cowok kayak Arvin gini, udah mah perhatian kamu aja sampe di anterin ke sekolah gini, udah gitu bisa menjaga rahasia lagi! Wah aku jadi iri!" Ujar Gabriella


"Gab! Jangan keras-keras!" Ucap Aqilla


"Hehehe… maaf!" Gabriella tertawa kecil.


"Gab! Cukup Lo aja yang tau! Jangan sampe ada orang lain yang tau selain Lo, kalo ada orang lain yang tau soal ini itu pasti dari Lo, dan sampe gue tau itu semua gue bakalan kasih Lo pelajaran!" Ancam Arvin


"Ya santai ! Aku bisa jaga rahasia kok!"


"Bagus! Ya udah masuk gih! Ntar keburu bel!"


"Ya udah kalo gitu aku masuk dulu ya!" Ujar Aqilla


"Iya!"


"Udah yuk ah, masuk! Bye Arvin!" Ujar Gabriella seraya berjalan meninggalkan Arvin dengan menggandeng tangan Aqilla berjalan menuju arah gerbang.


"Qilla!"


"Apa?"

__ADS_1


"Arvin itu perfect ya?"


"Huh? Maksudnya?"


"Gak usah sok polos deh! Kamu pasti udah tau dong maksud aku!"


"Nggak aku gak ngerti apa maksud kamu!"


"Hufth!" Gabriella menghela napas panjang sebelum akhirnya ia berbicara.


"Maksud aku tuh, dia cowok yang baik, perhatian, udah gitu ganteng!!!" Ujar Gabriella dengan semangat.


"Gak juga!"


"Mata kamu buta qill? Orang kayak dia kamu bilang gak perfect?"


"Nggak! Asal kamu tahu aja dia itu manja banget!"


"Hah? Maksudnya?"


"Kamu gak tau kan kenapa aku nggak masuk kemaren?"


"Ada urusan keluarga kan? Ah biar ku tebak, pasti kemaren kalian baru nentuin tanggal buat acara tunang—"


"Hush! Ngawur! Bukan!!! Kamu kalo ngomong suka asal ceplos aja!" Ujar Aqilla memotong perkataan Gabriella sebelum terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.


"Terus? Oh, tau langsung nentuin tanggal nik—"


"Bukan itu juga! Gabriella jalan mikir jauh-jauh dulu, lagian kan kita masih SMA masa udah mikirin yang kayak gitu!"


"Lah terus?"


"Kemaren tuh aku gak masuk gara-gara Arvin sakit!"


"Hah? Terus? Ooh, jadi kamu ngerawat dia? Wah, so sweet calon mantu idaman! Gak salah berarti orang tuanya Arvin jodohin kamu sama Arvin!"


"Gabriella!!! Jangan keras-keras!" Aqilla geram


"Ya maaf! Mulutku emang kayak gini, rem nya kadang blong!" Ujar Gabriella seraya tersenyum.


"Makannya jangan terlalu semangat kalo lagi ngomong cowok!"


"Hehehe… maaf! Oh iya jadi bener?"


"Nggak juga si!"


"Huh?"


"Jadi kemaren aku gak masuk emang gara-gara ngerawat Arvin seharian penuh dan gara-gara aku di kuncin di kamarnya Arvin berduaan! Tapi bukan cuma itu, aku masih ngerasa bersalah sama Arvin!"


"Ooh gara-gara itu juga!"


"Iya! Makannya terpaksa aku gak masuk seharian kemaren! Lagian kemaren Arvin tuh manja banget!"


"Ya gapapa lah! Namanya juga calon suami!"


"Gabriella!!! Harus berapa kali aku ingetin!"


"Ah! Maaf aku lupa!"


"Udah ah! Ayo ke kelas, ntar aja lanjutin lagi ceritanya sebelum kamu ngomong yang lebih aneh lagi!" Ujar Aqilla seraya melanggeng pergi dengan cepat meninggalkan Gabriella.

__ADS_1


"Qill! Tunggu!" Gabriella berlari mengejar aqilla.


__ADS_2