
***
"Hah! Tapi kasian, pasti dingin" ucap Arvin sambil menghela napas panjang. Kemudian tanpa berfikir dua kali Arvin segera membopong Aqilla masuk ke dalam kamarnya dan menidurkannya di atas ranjang di kamarnya sedangkan Arvin kini tertidur di sofa kamarnya.
Jam telah menunjukkan pukul setengah enam pagi, perlahan Aqilla membuka matanya dan meregangkan tubuhnya.
"Aaahhh, jam berapa ini?" Aqilla mengucek kedua matanya dan mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Udah bangun?" Ucap Arvin, Aqilla terdiam sejenak ia terkejut mendengar ucapan Arvin, spontan Aqilla terbangun dan menatap Arvin yang kini tengah duduk di tepi ranjang tanpa memakai pakaian dan hanya mengenakan handuk, tampaknya ia baru saja selesai mandi.
"Ngapain kamu di kamarku?"
"Hah? Kamar Lo? Emangnya lo nggak bisa bedain yang mana kamar Lo dan yang mana kamar gue?" Tanya arvin dengan ketus, Aqilla kemudian menyapu pandangannya menatap ke seluruh sudut ruangan itu.
"Ngapain aku di kamarmu? Kamu ngapain aku?" Ujar Aqilla panik setelah dirinya menyadari bahwa ia tak sedang berada di kamarnya.
"Lo lupa sama kejadian semalem?"
"Hah?"
"Dasar pelupa!" Ujar Arvin seraya bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan menghampiri lemari.
"Oh iya aku baru ingat semalem aku ketiduran di depan pintu kamar arvin, jadi semalem dia gendong aku masuk ke kamarnya?" Batin aqilla.
"Oh iya kamu udah nggak marah lagi sama aku?"
"Siapa bilang?".
"Jadi… kamu masih marah?"
"Menurut Lo? Udah sekarang keluar dari kamar gue!"
"Nggak! Jawab dulu, kamu masih marah sama aku?"
"Lo gak mau keluar sebelum gue jawab?"
"Iya!"
"Jadi Lo juga mau liat gue ganti baju?"
Aqilla seketika sadar menyadari bahwa Arvin kini tengah berada di depan lemari.
"O…oke aku keluar!" Ujar Aqilla seraya bangkit dan berjalan cepat keluar dari dalam kamar Arvin dan kemudian pergi menuju arah kamarnya hendak bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Pagi!" Sapa Aqilla setibanya di ruang makan, di sana sudah terdapat evan, Sam dan bi Alice yang tengah sibuk menyiapkan makanan di meja makan.
"Lho Arvin kemana? Bukannya dia udah bangun ya? Aku liat tadi dia baru aja selesai mandi!"
"Katanya nggak nafsu makan! !"
"Gitu ya,"
"Udah nggak usah di pikirin nanti om coba buat bujuk dia supaya mau makan! Soalnya om khawatir dari kemarin dia belum makan!"
"Ng… biar aku aja yang coba om!"
"Nggak usah lagian kan kamu harus pergi ke sekolah! Takutnya telat!"
"Gapapa om, sebelum aku berangkat sekolah aku bakalan coba buat bujuk Arvin supaya mau makan! Lagian ini juga salah qilla om!"
"Ya udah kalo kamu maksa!" Ujar evan, kini mereka pun sarapan bersama di meja makan. Setelah sarapan,Aqilla pun mencoba untuk membujuk Arvin agar dia makan sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Aqilla pada Evan.
"Tok!tok!tok!" Perlahan Aqilla mengetuk pintu kamar arvin
"Arvin? Buka pintunya, aku bawa sarapan buat kamu!" Teriak Aqilla pada arvin, tetapi tak ada jawaban dari dalam kamar arvin.
"Arvin?" Aqilla memanggil Arvin sekali lagi tetapi masih tak ada jawaban.
"Lho non qilla belum berangkat sekolah?" Tanya bi Alice yang baru saja tiba.
"Belum bi, lagi coba buat ngebujuk Arvin buat makan!"
"Biar bibi aja, non qilla berangkat aja udah siang ntar telat!"
"Emangnya jam berapa ini Bi?"
"Udah setengah tujuh non!"
"Ya udah kalo gitu, aku berangkat dulu ya bi!"
"Iya non, hati-hati di jalan ya!"
"Iya bi!"
Aqilla kini berjalan menuruni tangga pergi keluar rumah dengan tergesa-gesa dengan tas punggung di pundaknya ia segera mencari keberadaan dari pak Alan.
__ADS_1
"Pak! Ayo berangkat!" Ucap Aqilla saat baru saja menemukan pak Alan.
"Baik! Ayo non!" Pak Alan langsung berdiri dari duduknya dan segera melangkah menuju arah mobil yang sudah terparkir rapi di halaman rumah Aqilla. Perlahan mobil pun melaju meninggalkan tempatnya semua berhenti dan pergi menuju arah sekolah Aqilla.
Saat di perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, hanya ada keheningan hingga akhirnya mereka pun sampai di tempat parkir sekolah.
"Pak kalo gitu aku masuk dulu ya!"
"Iya non! Ntar bapak jemput lagi ya!"
"Iya"
Aqilla kini berjalan menghampiri gerbang dan pergi ke kelasnya. Kini perasaanya tak tenang, ada sebuah rasa bersalah di tengah rasa kebingungannya.
Aqilla merasa bersalah lantaran karenanya Arvin jadi tak mau makan dan ia merasa bingung mengapa Arvin bisa marah dengan nya.
"Aqilla!" Panggil gabriella dari arah belakang, Aqilla menoleh dan melihat Gabriella kini tengah berjalan menghampiri nya.
"Hey!" Sapa Aqilla.
"Kamu kenapa? Nggak kayak biasanya? Biasanya juga kamu ceria?"
"Ah, nggak aku cuma lagi bingung aja!"
"Bingung? Kenapa?"
"Oke! Nanti kamu harus cerita di kantin ya!"
"Iya! Ya udah ayo ke kelas."
"Ayo!" Sahut Gabriella dengan sangat ceria, mereka pun berjalan menuju arah kelasnya.
Waktu berjalan begitu cepat, jam pelajar awal telah di lewati dan kini sudah waktunya untuk istirahat. Aqilla dan gabriella kini tengah duduk di meja kosong yang berada di kantin, tengah makan siang bersama sembari mengobrol beberapa hal.
"Jadi kamu kenapa?" Tanya Gabriella mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan temannya itu
"Aku bingung!"
"Bingung? Kenapa?"
"Aku lagi bingung sekaligus ngerasa bersalah!"
"Sama siapa?"
__ADS_1
"Arvin!"
"Hah? Emangnya dia kenapa?"
"Kemaren pas aku pulang dari jalan bareng sama kak Yudha tiba-tiba Arvin marah, terus sampe sekarang dia nggak mau makan!"
"Hah? Seriusan?"
"Hm…"
"Wah kayaknya dia cemburu deh!"
"Hah? Nggak mungkin, lagian kenapa harus cemburu? Toh aku sama dia juga nggak ada hubungan spesial apa-apa kan?"
"Hubungan si boleh nggak spesial, tapi perasaan bisa muncul kapan saja dan kepada siapa saja!".
"Tapi nggak mungkin, dia kan udah punya pacar masa harus cemburu?"
"Berarti kamu bikin salah mungkin sampe dia nggak mau makan?"
"Iya itu juga yang bikin bingung, kalo aku bikin salah tapi salah apa? Aku nggak ngerasa bikin salah sama sekali!"
"Itu cuman perasaan kamu aja, bisa aja kesalahan itu nggak di sadari!"
"Tapi apa?"
"Kenapa nggak coba tanya ke arvin?"
"Udah coba, tapi dia malah bilang katanya aku harus mikir sendiri!"
"Hah! Susah juga kasusnya!" Ujar gabriella menghela napas kemudian melanjutkan makannya sembari berpikir.
"Terus aku harus gimana dong? Bantuin aku gab!"
"Gimana kalo kamu coba buat ambil hati dia dulu? Udah gitu baru kamu nanya soal ini!"
"Maksudnya?"
"Ya kamu coba buat perhatian sama dia, bikin dia nyaman dulu nah kalo dia udah mulai baik sama kamu. Kamu baru coba tanya ke dia kesalahan apa yang kamu buat sampe bikin dia marah!"
"Gitu ya, ya udah deh aku coba!"
__ADS_1
"Nah, oke! Sekarang jangan sedih-sedih lagi! Senyum!" Ucap Gabriella pada aqilla, Aqilla pun tersenyum ke arah Gabriella.