Love In Blue Sky

Love In Blue Sky
Episode 35


__ADS_3

***


"Vin? Arvin?" Panggil Aqilla, tak ada jawaban apapun di dalam sana hanya ada suara shower yang mengalir dengan deras.


Kini perasaanya dilanda perasaaan gelisah pasalnya tak ada jawaban apapun dari dalam kamar Arvin dan malah terdengar suara shower.


"Arvin? Buka!" Teriak Aqilla sembari menggedor-gedor pintu kamarnya, karena teriakan aqilla yang begitu keras sehingga membuat seisi rumah bangun dan menghampiri arah teriakan Aqilla.


"Ada apa qilla? Kenapa teriak-teriak? Ini udah malem, bukannya tidur!" Ucap Sam yang baru saja tiba.


"Om tadi aku denger suara yang jatuh gitu udah aku coba buat cari sumber suara itu di seisi rumah tapi nggak ada. Terus pas aku mau balik ke kamarku aku denger suara shower di kamar Arvin nyala, aku coba panggil Arvin tapi nggak ada Jawaban!"


"Hah? Yang bener?" Evan terkejut, kini ia menghampiri pintu itu dan mencoba membukanya tetapi sayangnya pintu kamar itu di kunci dari dalam.


"Di kunci!"


"Dobrak aja!" Ujar Sam. Kini Evan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Arvin.


"Brak!" Pintu terbuka, Aqilla, Sam, Evan, bi Alice, dan pak Alan segera masuk dan mengecek Arvin. Begitu mereka masuk mereka tak melihat Arvin di tempat tidur nya sedangkan Aqilla segera menghampiri kamar mandi dan mencoba mengeceknya.


"Om Arvin di sini!" Ujar Aqilla pada Evan. Evan segera berjalan menghampiri Aqilla, membuka pintu kamar mandi dan terlihat Arvin yang tengah terbaring di lantai dengan pakaian yang basah.


"Arvin!" Evan segera membopong Arvin keluar dari dalam kamar mandi dan segera menidurkannya di sofa yang berada di kamarnya tersebut.


"Vin! Vin! Arvin!" Perlahan Evan menepuk pipi Arvin, mencoba membangunkannya. Perlahan Arvin membuka matanya dan mulai sadarkan diri, tubuhnya menggigil kedinginan.


"Ini, pakai ini!" Ujar Sam seraya menyodorkan handuk untuk di pakai oleh arvin


"Duduk dulu!" Ujar Evan pada arvin uang kemudian duduk dan bersandar pada sofa tersebut.


"Bi buatin teh anget ya!" Ucap Sam pada bi Alice.


"Iya tuan!" Bi Alice pun melanggeng pergi meninggalkan kamar Arvin untuk membuat teh hangat.


"Tadi kamu ngapain sampe bisa pingsan gitu?" Tanya Evan dengan nada sedikit emosi, Arvin tak menjawab. Ia hanya diam dengan wajah kesal memalingkan wajahnya dari semua orang.


"Kamu itu denger gak papa bilang apa?" Bentak Evan yang kemudian menjewer telinga putra nya itu geram.


"Aww!!! Sakit tau pa!" Ucap Arvin kesal


"Makannya kalo orang tua nanya itu di Jawab bukannya malah diem! Gak punya mulut kamu? Apa kamu mulai tuli?" Teriak Evan sekali lagi pada arvin, Arvin masih tak bergeming.


"Ah! Om boleh gak kalo qilla minta waktunya bentar sama arvin?" Tanya qilla pada evan.


"Hm… ya udah!" Evan pun kini pergi keluar dari dalam kamar Arvin bersama Sam dan pak Alan.


"Kamu tadi ngapain?" Tanya Aqilla pada arvin mencoba bertanya.


"Bukan urusan Lo! Lagian ngapain juga Lo peduliin gue?" Ujar Arvin ketus


"Biar ku tebak, tadi pasti kamu mau mandi kan?"


"Siapa bilang? Nggk kok!"


"Bohong, kalo iya nggak mau mandi terus kenapa shower nya nyala?"


"Ya gue gak tau, mungkin shower nya rusak"


"Gak mungkin! Udah deh jangan bohong. Jujur aja gapapa kok!"


 


"Nggak!"


"Arvin! Jujur aja, aku gak bakalan marah kok!"


"Di bilang nggak ya nggk!"


"Aku gak percaya!"


"Oke gue ngaku! Iya emang gue mau mandi!"


"Tuh kan! Emangnya kenapa si kamu hobi banget mandi jam sebelas malem gini? Kan dingin, seharusnya kamu nggak usah terlalu sering mandi jam segini. Nggak baik buat kesehatan, apalagi dalam kondisi kamu yang lagi sakit kayak gini! Yang ada ntar kamu malah makin sakit!"


 


"Ya terus kenapa kalo gue sakit? Gak ada yang peduli juga kan?"


 


"Jangan gitu! Kan udah aku bilang, aku care sama kamu!"

__ADS_1


 


"Hah! Bohong! Udah lah qill gue udah capek sama semua kebohongan dan kepalsuan Lo!"


 


"Hah? Maksudnya?"


 


"Nggak usah pura-pura perduli sama gue! Kalo iya gak perduli ya bilang aja nggak perduli! Lagian kan kita coba Deket juga cuma pura-pura"


"Arvin! Tapi aku bener-bener perduli sama kamu. Kalo soal pura-pura itu beda masalah lagi!"


 


"Ini non teh anget nya!" Ujar bi Alice yang baru saja datang dengan gelas berisi teh hangat di tangannya, dan kemudian menyodorkan gelas itu pada Aqilla


"Iya, makasih bi!" Ujar Aqilla mengambil gelas itu.


"Kalo gitu bibi balik dulu ya non!'


"Iya bi" bi Alice melanggeng pergi meninggalkan kamar Arvin.


 


"Ini! Teh anget nya di minum dulu biar kamu ngerasa lebih anget!" Ucap Aqilla seraya menyodorkan gelas di tangannya pada arvin.


"Nggak! Gue nggak mau!"


"Lah kenapa?"


"Gue gak nafsu! Lagian gue nggak suka sama teh!"


"Terus maunya apa?"


"Gue nggak mau apa-apa!"


"Minum dulu, biar badan kamu anget!" Ujar Aqilla mencoba memaksa Arvin untuk meminum teh di tangannya.


"Gak mau! Gue nggak suka! Jangan maksa!"


"Gue bilang gak mau qill! Gue gak butuh makan atau minum! Yang gue butuh cuma Lo buat tetep Deket dan ada buat gue!" Ucap Arvin pada aqilla. Aqilla terdiam, menatap ke arah Arvin.


 


"Qill… yang gue butuhin cuma orang yang bisa ngertiin dan nemenin gue! Gue nggak butuh makan atau minum!"


"Tapi kalo kamu kayak gini kamu ntar sakit!"


"Gue gak peduli! Yang penting ada Lo di sisi gue! Gue gak minta apa-apa dari Lo qill, gue cuma mau Lo tetep ada di samping gue buat temenin gue. Buat nyemangatin gue!"


"Kamu jangan khawatir! Aku akan selalu ada buat kamu kok!" Ujar Aqilla.


 


"Beneran?"


 


"Asalkan kamu mau nurut sama aku!"


"Oke apa?"


"Minum dulu!"


"Arrrggghhh!!! Kan gue udah bilang! Gue gak suka teh! Kenapa nggak ngerti sih?"


 


"Ya udah kalo gitu, aku mau pergi aja!" Aqilla kini bangkit dengan teh di tangannya hendak pergi keluar dari kamar Arvin. tetapi Arvin dengan cepat menarik tangan Aqilla untuk mencegahnya.


 


"Jangan! Jangan pergi!"


"Ya udah kalo gitu minum!"


"Arrrggghhh! Oke-oke gue minum, rali seteguk aja ya?"


"Nggak, dua!"

__ADS_1


"Satu aja!"


"Tiga!"


"Satu!"


"Oke kalo gitu empat!"


"Ya udah dua aja!"


"Oke! Tapi biar aku aja yang pegang gelasnya!"


 


"Nggak gue aja!"


"Nggak! Aku aja!"


"Ya udah!" Ujar arvin pasrah, perlahan Aqilla menuangkan teh itu ke dalam mulut arvin.


 


"Ahhh! Bentar!" Ujar Arvin pada Aqilla memintanya untuk berhenti sejenak.


 


"Kenapa? Ini satu teguk lagi aja!"


 


"Ahh! Lo nipu gue ya? Lo bilang cuma dua teguk!"


 


"Ya ini juga! Kamu kan baru minum seteguk, berarti tinggal satu kali lagi!"


 


"Ya tapi nggak sebanyak itu juga kali qill, itu udah tinggal setengah nya lagi! Lo nipu gue!"


 


"Ya kan aku bilang dua teguk, yang tegukan pertama setengah gelas dan yang kedua setengah gelas lagi. Jadi dua teguk kan? Aku gak salah kan?"


 


"Mana ada! Lo curang ah, udah gue gak mau minum lagi!"


 


"Jadi ngambek nih? Gak mau minum? Oke kalo gitu aku pergi aja!" Ujar Aqilla seraya bangkit dari duduknya, tetapi lagi-lagi Arvin mencegahnya.


 


 


"Ya udah gue minum! Tapi buat kali ini gue yang pegang gelasnya!"


 


"Nggak! Aku aja!"


 


"Lo mah, suka main curang!"


 


"Ya udah oke, nih!" Ujar Aqilla seraya menyodorkan gelas di tangannya yang berisi teh hangat yang tinggal setengah lagi itu pada arvin.


 


Arvin menatap gelas itu dan Aqilla bergantian penuh keraguan.


 


"Ayo minum!" Ujar Aqilla.


 


"Iya!" Arvin kemudian membuka mulutnya dan meminumnya. Saat tengah minum gelas di tangan arvin di tepuk perlahan oleh Aqilla agar semua teh hangat itu masuk ke dalam mulut arvin. Tindakan itu membuat Arvin tersedak

__ADS_1


__ADS_2