Love Me Oppa

Love Me Oppa
BAB I


__ADS_3

Jang Hana gadis muda berusia 20 tahun tengah berdiri di balkon kamarnya, sebuah Kondominium mewah dikawasan elite kota Seoul, ia mencoba menjulurkan kedua tangannya kedepan seraya menangkap butiran salju tipis yang akan mencair di telapaknya. Matanya berbinar meski ia tak bisa melihat bulir bulir putih yang jatuh dan menyelimuti setiap apa yang dihinggapinya.



"Wah salju pertama tahun ini" ujar Kim min jung kagum.Ia datang dengan setumpuk pakaian yang sudah dilipat penuh di atas tangannya, ahjumma paroh baya itu segera meletakkannya di tempat tidur dan mulai menyusun dengan rapi satu persatu lipatan didalam lemari kayu berwarna putih.


"Bukankah diluar sangat dingin sebaiknya kau masuk dan menghangatkan tubuhmu aku sudah menyalakan pemanas di ruangan tengah" lanjut Minjung dengan kedua tangan yang masih melakukan aktifitasnya.


Hana berjalan masuk tubuhnya memang sedikit bergidik disusul gigi yang saling mengatup kuat ia menutup pintu kaca besarnya agar hawa dingin tak lagi menyeruak masuk meskipun begitu Hana sangat menikmati setiap salju pertama yang turun di musim dingin.


"Bagaimana ayahku ahjumma? apa dia sudah menelpon?" kini Hana sudah duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Belum anakku" jawab ahjumma, wanita yang sudah menjadi pengasuh Hana sejak usianya masih 10 tahun.


Hana tertunduk lesu, tidak seperti biasanya ayahnya selalu memantau keadaannya sambil sesekali berkunjung dikediamannya, Hana dan ayahnya memang tinggal ditempat terpisah dengan tujuan agar Hana bisa lebih nyaman dengan keadaannya yang tidak bisa melihat alias buta serta tidak terlalu banyak berinteraksi dengan dunia luar cukup dengan ayah, ahjumma, pak Park sahabat ayahnya , pelngawal Lee serta beberapa Dokter yang menangani kesehatannya.


"Tenang saja , kau tau ayahmu dia pemilik beberapa hotel bintang mewah di Seoul, belum lagi di Jeju, Busan , mungkin ia hanya sedikit sibuk." ujar ahjumma menenangkan sambil membelai rambut panjang Hana yang tergerai indah membalut wajah cantiknya, kini wanita itu duduk disamping Hana.


"Apa ayah kecewa padaku ahjumma? aku sama sekali belum memberikan apa apa pada ayah" Hana menatap lurus kedepan dengan wajah yang dipaksakan ceria. beberapa hari yang lalu Hana menjalani serangkaian test untuk mengetahui donor mata yg hendak diterimanya tapi ternyata donor matanya sama sekali belum cocok, tahun lalu pun seperti itu sang pendonor ternyata menderita penyakit menular.


"Aku tahu ahjumma hanya saja aku pesimis kapan bisa membalas kebaikan ayahku"


"Tak ada orang tua yang mengharap balasan dari anak "

__ADS_1


Ahjumma kembali hendak membelai rambut Hana saat telepon rumah berdering, wanita paroh baya itu bergegas berdiri dan berjalan menuju ruang tengah meninggalkan Hana yang hendak menyusul langkah kaki pengasuhnya itu, langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya saat ahjumma terdengar bahagia menyambut lawan bicaranya diseberang telepon, pupus sudah harapan Hana yang menunggu kabar dari ayahnya , karena ahjumma tidak akan berani tertawa seperti itu jika telepon tersebut dari ayahnya .


"Baiklah sayang, aku mengerti sayang "ahjumma mangut mangut sambil tersenyum, selang beberapa waktu panggilan pun berakhir .


"Bagaimana kabar kak Soo young" tanya Hana yg sudah bisa menebak lawan bicara ahjumma. Putri tunggal ahjumma yang disekolahkan ayahnya di luar negeri sebagai kompensasi ibunya yg telah tulus merawat Hana selama ini.


"Dia baik," jawab ahjumma sembari meletakkan gagang telepon. ahjumma dan Hana memang hanya bisa mengandalkan telepon rumah sebagai alat komunikasi ayah Hana betul betul menjaga privasi putrinya dan tidak membiarkan mereka berdua memiliki ponsel sendiri. "dia akan segera pulang liburan pekan depan "lanjut ahjumma lagi.


"Maafkan aku ahjumma kak Soo young akan segera pulang tapi kau tak bisa menghabiskan waktu dengannya" ujar Hana dengan nada sedih, yah ahjumma hanya punya waktu dua jam dalam sehari tiap putrinya itu berkunjung ke korea , karena ayah Hana sama sekali tidak membiarkan siapapun masuk kedalam tempat tinggal puterinya meski anak ahjumma sekalipun, ahjumma hanya diberi waktu dua jam sehari untuk meninggalkan Hana dan bertemu puterinya atau hanya sekedar pergi ke swalayan untuk berbelanja.


"Mengapa kau berkata seperti itu...Soo young pulang saja aku sudah bahagia, ditambah lagi ada kau disini" ahjumma memeluk Hana lembut, Hana membalas dengan merangkul tubuh gempal wanita itu .

__ADS_1


Hana menutup matanya mencoba menikmati setiap inci tubuh Ahjumma sebelum putri kandungnya mengambilnya kembali.


__ADS_2