
Pagi yang dingin dengan aroma salju putih yang menyeruak, Presdir lotus hotel itu begitu bersemangat menyambangi kediaman putrinya . pak Jang tidak bisa lagi menunggu hingga musim gugur tiba yaitu saat pohon maple dan tulip tree menampakkan pesona terbaiknya, saat itu pula ia akan membawa Hana menikmati betapa indah kedua puhon itu berubah warna meski ia tahu Hana tak akan pernah melihatnya hanya bau daun kering yang bisa melukiskan semua dibenaknya. Entah mengapa kali ini Pak Jang begitu bersemangat untuk melihat kedua pohon itu berlapis salju putih.
"Nikmati waktumu bersama putrimu , jangan khawatirkan Hana ia akan aman bersamaku "
"Baiklah tuan" Ahjumma menunduk berterima kasih ini memang hal palingbia tunggu tunggu.
"Aku memasukkan beberapa baju musim dingin didalamnya, obat nona Hana juga sudah ada didalam " lanjut ahjumma lagi
"Apa tidak terlalu banyak kami hanya satu hari ahjumma " Pak Jang menatap tas hitam berukuran sedang ditangan ahjumma
"Aku akan sangat bahagia jika ayah mengajakku lebih dari satu hari "ucap Hana menimpali, gadis cantik itu keluar dari kamar sambil tersenyum lebar, dua bola matanya nampak berbinar ia terlihat sangat cantik dibalut rapi dengan baju musim dingin yang cukup tebal. Senyumnya tak pernah pudar sejak ayahnya menelpon dan hendak mengajaknya ketempat yang akan mereka kunjungi setahun sekali itu , sebuah rumah di pedesaan yang terletak didaerah paling luar kota seoul, tempat dimana Pak Jang menghabiskan waktu semasa kecilnya.
"Tentu saja puteriku " pak Jang menggenggam erat tangan putrinya, ia yang tertatih dengan tongkat di tangan sebelahnya menuntun Hana perlahan keluar dari peraduannya, Hana memang tidak diijinkan keluar sendiri bahkan hanya sekedar berjalan jalan di sekitar koridor apartemennya.
Hana sigap dengan sebuah tongkat lipat digenggamannya, matanya yang nampak normal hanya menatap lurus kedepan, menatap kegelapan yang sudah lama menemaninya. Ahjumma mengiringi mereka dari belakang dengan sebuah tas di tangannya.
Mereka tiba di pintu depan, sebuah mobih sedan silver sudah menanti dengan pintu terbuka, terlihat pengawal Lee menunggu mereka, dan dengan sigap mengambil tas dari ahjumma serta meletakkannya dibagasi sambil sesekali mencuri pandang kearah Hana yang masih berdiri menunggu aba aba selanjutnya dari sang ayah.
Hana adalah gambaran nyata seorang putih salju, wajah oval dihiasi mata bulat yg besar serta kelopak mata ganda yang sempurna, bibir tipis berwarna pink dan hidung mancung yang mungil, ia memiliki semua standar kecantikan wanita Korea, tidak heran jika pengawal Lee tak bisa mengalihkan pandangannya setiap kali ia bertemu Hana.
Pak Jang tersenyum tipis melihat tingkah pengawal Lee
" Aku akan menyetir sendiri " ucap pak Jang
__ADS_1
" Tapi pak anda tidak bisa melakukannya mengingat kondisi anda ..." belum sempat pemgawal Lee menyelesaikan protesnya pak Jang segera memberi isyarat dengan jari telunjuk di diantara bibirnya agar sang pengawalnya itu tidak melanjutkan perkataannya.
"Ayah mengapa menyetir sendiri biarkan pengawal Lee menemani kita " ucap Hana merujuk pada pengawal ayahnya yang berdiri disampingnya, Pengawal Lee adalah salah satu orang yang sangat tidak asing baginya.
"Aku takut bola mata pengawal Lee keluar " ujar Pak Jang penuh Canda membuat pengawalnya itu tersenyum malu, namun masih dengan posisi siaga
Hana khawatir sama seperti pengawal Lee, tatapan ahjumma pun tak bisa membohongi rasa was was yang menggelayut. namun pak Jang keburu masuk kedalam mobil. sang pengawal yang tidak bisa menolak hanya bisa menuntun Hana untuk duduk di kursi samping pengemudi lalu mengenakannya safety belt.
"Kalian nikmati waktu libur kalian " pesan pak Jang pada pengawal lee dan ahjumma sesaat sebelum sedan silver itu melaju membelah jalan ramainya kota Seoul
"Apakah ayah baik baik saja menyetir sendiri ?"
"Kau meragukan ayah ? "
"TIdak hanya saja ayah tidak biasanya ditinggalkan pengawal Lee"
"Ayah apa hari ini tidak ada salju ? "
"Tidak menurut BMKG kemungkinan sore akan turun salju " tenang pak Jang menjawab sambil mengemudi.
Mereka berdua tiba di tempat pertama yang menjadi tujuan perjalanan kali ini sebelum ke Sanpo. Pak Jang memarkir mobilnya didepan sebuah bengun besar kolumbarium tempat orang Korea menyimpan abu jenazah orang yang terkasih.
Hana membawa setangkai mawar putih yang dibungkus didalam plastik bening, yang dibeli disebuah toko bunga. Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali tertawa kecil dengan lelucon lelucon konyol Hana yang ia dapat dari hasil mendengarkan drama bersama Ahjumma . Pak jang nampak sangat sabar menuntun putrinya berjalan meski ia sendiri kesususahan untuk mengimbanginya.
__ADS_1
"Didepan ada sebuah kerikil " himbau pak Jang. Hana hanya tersenyum, pak Jang memang sangat cerewet jika mengenai keselamatan putrinya, ia tidak berhenti menuntun Hana layaknya mengeja satu persatu anak tangga yang mereka lalui.
Hana dan Pak Jang tiba dilantai dua didepan sebuah rak berlapis kaca didalamnya terdapat sebuah guci putih bertuliskan huruf hangeul Jang ha ri, yang tak pernah diketahui Hana jika nama Jang Hari sudah sejak dulu terpatri disana, disebelahnya ada foto Pak Jang dengan anak berusia sepuluh tahun yang nampak cantik mengenakan pakaian khas balerina, ada pula foto seorang gadis kecil mengikuti kontes piano se kota seoul. dan beberapa foto berukuran kecil dimana gadis manis itu memegang beberapa piala.
Pak Jang menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan hingga nampak hawa dingin yang saling beradu disekitar wajah tuanya.
" Hana ya.... Hari disini " ujar Hana memecah keheningan, pak Jang segera membuka kunci pintu kaca itu dan membiarkan Hana menaruh setangkai mawar putihnya.
" Hana....aku dan ayah baik baik saja , bagaimana kabarmu ? maafkan aku yang belum bisa menjadi sebaik dirimu, apa kau bosan ? aku hanya bisa mengatakan hal seperti ini setiap tahunnya " ucap Hana sambil tersenyum simpul
Mata pak jang berkaca kaca memperhatikan gadis butanya yang masih nampak ceria meski harus menceritakan mengenai kekurangannya
"Sudah ada beberapa donor tapi belum ada yang cocok denganku..oh iya maaf kan aku juga yang semakin lemah, sepertinya lebamku semakin parah setiap kali terbentur, untuk itu ayah dan ahjumma menjagaku sangat ekstra aku bahkan tidak bisa menemukan sesuatu bersudut runcing didalam rumah..kau tau kan semua sudut meja bahkan dilapisi dacron lucu kan " Hana tertawa kecil di akhir perkataannya.
"Oh iya ayah juga sudah menemukan oppa yang sudah lama menghilang ..benarkan ayah ?" Hana berbalik melihat ayahnya meski sebenarnya ia tak bisa melihatnya. Hana berharap pak Jang berbicara mengenai oppa nya yang diceritakannya didalam mobil tadi. sebenarnya sudah sejak lama Hana mengetahui mengenai seorang kakak yang kemungkinan akan muncul suatu hari nanti karena pak Jang tidak pernah lupa menceritakan bagaimana Hoon yang begitu lucu Dan pandai saat masih kecil, namun Hana tak benar benar mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi antara ayahnya dan Hoon.
"Ah benar Hana oppamu akan segera pulang tunggulah, aku akan membawanya kemari suatu saat nanti. "
Hari dan Hana dilahirkan dari rahim yang sama mereka berdua terlahir sebagai kembar identik, Hana memiliki tubuh yang sehat sedangkan Hari yang kini menyandang nama Hana sudah mengalami kelainan jantung sejak lahir, tapi sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Hana pak jang memutuskan memanggil Hari dengan panggilan Hana semenjak sepuluh tahun terakhir.
"Ah aku sangat iri dengan kalian Hoon oppa begitu pandai begitu juga denganmu, ah aku malu sebagai saudari kalian. " lagi lagi hana menceritakan ironi dengan nada riang gembira, Pak Jang tidak tega dan segera merangkul pundak Hana dengan satu tangan .
"Ayah akan berusaha membuatmu melihat " pak Jang memberi semangat
__ADS_1
"Tentu saja ayah, saat aku melihat nanti hal pertama yang paling ingin kulihat adalah ayah bukan diriku sendiri ataupun orang lain tapi ayah...saat melihat nanti aku juga akan belajar balet , piano dan semua yang Hana bisa agar ayah bisa bangga padaku "
Pak Jang menyandarkan tongkatnya lalu memeluk erat puterinya ia merasa sangat egois kepada puterinya ini.