
Hoon berdiri diluar pintu rumah Tuan Kang, ia sejenak menoleh mencari keberadaan dua pitbull kesayangan bossnya namun tak menemukan mereka, hanya ada hamparan salju putih yang menutupi lapangan golf mini tempat tuan kang dan peliharaannya itu menghabiskan waktu .
Suhu Kota Incheon semakin mencekam diprediksi titik terendah akan mencapai mines sepuluh derajat celcius, Hoon berjalan pelan menyusuri hamparan salju putih sambil merapatkan jaketnya kuat, ia tak percaya dengan keputusan yang diambilnya kini untuk kembali dan menemui seseoran yang telah menggores luka begitu dalam didasar hatinya.
di depan gerbang yang terbuka sendiri itu sudah nampak Seo jun dari balik kemudi mobil sport milik Hoon yang tengah tersenyum tanpa arti, kini hanya ia yang bisa mengerti suasana hati Hoon , ia yakin saat ini Hoon sangat ingin menertawakan dirinya sendiri.
Untuk Seo Jun Tuan Kang sudah menawarkannya untuk tetap bekerja sebagai asisten manager yang baru di club dan casino namun Seo jun kekeuh dengan pendiriannya untuk mengikuti Hoon bukan karena Hoon yang mungkin naik tahta menjadi presiden direktur tapi lebih kepada balas jasa atas apa yang telah dilakukan Hoon padanya seperti juga yang dilakukan Hoon kepada Tuan Kang.
Hoon mendudukkan bokongnya di jok sebelah pengemudi dan membanting kuat pintunya, sayup sayup terdengar suara So ra dari jendela kamarnya " Hoo n Oppa..." panggilnya, beberapa kali ia mengulang kata yang sama namun Hoon acuh ia lekas memberi sinyal agar Seo jun menjalankan mobilnya.
Perlahan jejak langkah Hoon dirumah itu memudar terutupi salju yang tak henti hentinya jatuh, kini mereka benar benar meninggalkan salah satu kawasan perumahan elite di Kota Incheon itu.
Seo Jun mengemudi sudah sejak dua puluh menit yang lalu, ia hanya berputar putar di antara pusat keramaian kota Incheon berbaur bersama para pengguna jalanan yang sangat padat dan lambat karena kondisi jalan yang sangat licin.
" Kita akan kemana Hyung ? " ucap Seo Jun setelah lama terdiam .
" Pulang" Ucap Hoon pelan seraya menatap kondisi jalanan dihadapannya.
Seo Jun menautkan kedua alisnya , pulang ? bukankah tempat mereka tingg al adalah milik Tuan Kang dan kini mereka berdua tidak lagi bekerja pada pria tua egois itu, sttt...Seo Jun mengerem didepannya beberapa mobil sudah berhenti menunggu lampu merah segera berganti.
__ADS_1
" Hyung jika kau tidak lagi bekerja di club bagaimana caranya kau menghidupi keluarga mereka yang dipenjara? " Seo Jun tetiba kepikiran nasib mereka yang selama ini menjadi tanggung jawab Hoon , itu salah satu senjata agar anak buah Hoon tetap tutup mulut.
" Tuan Kang sudah menyelesaikannya " jawab Hoon santai, ia pun tak habis fikir dengan persiapan Tuan Kang yang sampai sedetail itu.
Seo Jun menghela nafas lega.
" Lalu apa kita harus mencari tempat tinggal yang baru hyung? Apartemen itu milik Tuan Kang . "
" Sepertinya begitu....."
Ponsel di saku jaket Hoon bergetar, sebuah nomor tak dikenalnya bertengger disana menunggu untuk segera dijawab, tak banyak yang mengetahui nomor ponsel pribadinya kecuali....Hoon teringat pengawal gadis buta itu, seseorang yang tak pernah hilang dari pelupuk matanya.Hoon memicingkan matanya berusaha mengenali jejeran nomor yang tidak beraturan itu. sial ! ia bahkan tak bisa mengingat nomornya, sudahlah ia hanya perlu menjawabnya.
" Halo " jawab Hoon penuh harapan
Mobil yang dikemudikan Seo Jun kembali melaju pelan ,sesekali ia mengamati ekspresi Hoon yang berubah ketus dengan tatapan membunuh sejak menerima panggilan diponselnya.
" Hoon a....paman mohon jangan matikan panggilan ini " pinta pak park penuh iba saat Hoon hendak mematikan ponselnya. namun urung dilakukan ia kembali menempelkannya ketelinga seraya menghela nafas kesal.
" Hoon paman tidak tahu lagi bagaimana cara membuatmu kembali, paman hanya bisa mengatakan jika ayah dan adikmu sangat membutuhkanmu "
Hoon lagi lagi menghela nafas kali ini sudah tak ada jalan kembali, Tuan Kang berharapa banyak padanya dan mungkin ini akan menjadi moment balas dendam yang paling pas, ia sudah lama menghapus kata " ayah " dari dalam kehidupannya, apa lagi adik? saudari? atau apapun itu namanya.
" Tunggu aku paman " ucap Hoon singkat dengan senyum smirk , ia lalu mengakhiri panggilannya sepihak.
__ADS_1
...***...
" Apa aku tidak salah dengar? " Pak Park berbicara pada dirinya sendiri. Ia lalu menekan tombol pada pesawat telepon dimejanya yang menghubungkannya dengan sekertaris pribadinya diruangan lainnya.
" Nona Kim bawakan semua hasil rapat pemegang saham padaku " pintanya lalu mengakhiri panggilan, kedua sudut bibirnya masih terangkat ia tak percaya apa yang didengarnya barusan, Hoon akan kembali pak Park nampak gugup beberapa kali ia tak sengaja menyenggol berkas dimejannya hingga terjatuh.
...****...
" Tunggu aku paman ?" Seo Jun mengulang kembali kata kata terakhir Hoon sebelum mematikan ponselnya, " kau akan ke Seoul Hyung? "
" Fokuslah mengemudi, " pinta Hoon santai lalu menyandarkan punggungnya ia terlihat mengutak atik ponselnya mencari panggilan masuk dari sebulan lebih yang lalu, lalu mengamati lekat lekat nomor yang terpampang dihadapannya, seketika wajahnya berubah kusut saat menyadari pemilik nomor itu adalah seorang pria ia melempar dengan gusar ponselnya keatas dashboard.
Seo Jun menoleh kaget, apa ia menyesali keputusannya barusan ? paman? siapa lagi kalau bukan pak Park ia sendiri yang menceritakan kalau pria itu disebutnya paman dimasa lalu.
" Hyung tebakanku benar kan ? itu Pak Park? kita akan ke Seoul? " Seo Jun kembali mencerca Hoon.
"Seo Jun aa...aku akan beristirahat selama perjalanan ke Seoul jadi berhentilah mengoceh "
" Kau yakin Hyung? jadi kita benar benar akan ke Seoul ? baiklah " Seo Jun membetulkan duduknya jadi lebih serius, ia juga memfokuskan pandangannya kedepan.
" Lalu kenapa kau terlihat kesal Hyung ? " ekor mata Seo Jun menunjuk ponsel Hoon diatas dashboard, Hoon hanya berdehem kuat ia tak menjawab matanya mulai tertutup namun sejuta bayangan masa lalu terasa menari dibenaknya.
Seo Jun mengemudi dengan pelan karena kondisi jalan yang semakin ditutupi salju putih nan lembut namun ketika sering digilas ia akan mengeras dan bisa membuat tergelincir siapa saja yang berani memijakinya bagi Seo Jun, Hoon ibarat salju putih nan lembut itu, ia sedingin dan seberbahaya salju akibat luka dari masa lalunya yang kelam.
__ADS_1
Pohon pohon cemara disepanjang jalan Incheon yang berselimut salju begitu pasrah diterpa angin melambai menjatuhkan satu persatu butiran saljunya, seakan mengucap selamat jalan kepada mereka berdua.