Love Me Oppa

Love Me Oppa
Bab 9


__ADS_3

Tuan Kang menatap Seo jun sambil membuka satu persatu lembaran pembukuan di club malam yang dibawahi Hoon. Pria sangar itu lalu tersenyum lega. Hoon memang tidak pernah mengecewakannya,pembukuan rapi dan keuntungan selalu meningkat dari waktu ke waktu.


Seo Jun lalu membuka brankas besar di belakang lukisan yang tergantung didinding belakang kursi kerja Hoon. kreek...setumpuk uang nampak bersinar dari dalam dengan segala godaan duniawi yang dimilikinya . lalu Tanpa disuruh seorang anak buah Tuan Kang meletakkan money counter dimeja.Tuan kang mengambil sendiri uang dari dalam brankas dan menghitungnya ia berusaha mencari jumlah yang pas dan sesuai didalam pembukuan.


Tentu Hoon memang selalu bisa diandalkan, semua pekerjaannya ia selesaikan dengan baik Seo Jun hanya perlu menjalankan sisanya, pria manis itu tersenyum puas malam ini, meski sebenarnya sedikit khawatir karena hyungnya itu belum juga kembali dan ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi.


Tuan Kang menyelesaikan semua tugasnya, tak lupa ia menyuruh Seo jun untuk memasukkan semua uang kedalam tas hitam besar yang dibawanya, sesak ! tas itu seakan hendak muntah karena tindihan beberapa lapis kertas yang sangat berharga itu. krekk resliting terpasang, seorang anak buak Tuan Kang yang bertubuh sangat besar segera menganggat tas itu .


"Beritahu Hoon untuk menghubungiku jika sudah kembali" titah Tuan Kang , Pria sangar itu keluar bersama beberapa anak buah yang tak kalah sangarnya,meninggalkan Seo jun yang terus menunduk dalam hingga sembilan puluh derajat.


...****...


"Hari"


"Iya ahjussi ?"


"Ahjussi..." lagi lagi Hoon mengulang kata itu ia menggeleng tak percaya, ingin protes rasanya, namun usianya memang sudah tidak muda lagi " yah panggil aku sesukamu " lanjut Hoon.


" Kau tau nama ibumu , saudarimu bahkan saudara laki lakimu tapi ayahmu?" tanya Hoon lugas

__ADS_1


"Ah....aku sebenarnya belum pernah bertemu dengan oppaku " suara Hana merendah, ia menunduk sambil memainkan ujing kukunya.


"Hufht...." Hoon menghembuskan nafas , memikirkan keluarga seperti apa sebenarnya yang dimiliki gadis ini, terlalu banyak yang dia tidak ketahui ataukah hanya sekedar menjaga rahasia? dia seperti melihat dirinya dalam diri Hana. Sendiri, dan memiliki kekurangan yang fatal. yah itulah dia sendiri karena dendam yang disimpannya seakan menggerogoti sebagian jiwanya sebagai manusia ia kini merasa cacat sebagai manusia meski sebenarnya nampak sempurna.


Mobil Hoon berhenti disebuah bangunan tinggi berbentuk persegi yang menjulang tinggi, didepannya terpampang tulisan Badan Metropolitan Kota Seoul .Didepan pintu masuk mereka sudah disuguhi pemandangan bengis, beberapa pemuda nampak bonyok, pelipis berdarah, dan mulut sobek . bukan hanya satu dua namun puluhan pemuda yang berpakain urakan itu nampak habis selesai tawuran. yah Hoon sudah menebak didalam benaknya dari bau aroma alkohol yang begitu menyengat.


Hoon merangkul Hana dan membawanya pada seorang polisi berpakaian seragam lengkap yang tengah lengah, ia mendudukkan hana pada sebuah kursi didepan meja polisi tersebut kemudian mengambil posisi duduk yang sama tepat disebelah Hana.


Hoon memulai pembicaraan mengenai ihwal kedatangannya, polisi tersebut dengan teliti mencatat satu persatu kalimat yang keluar dari mulut Hoon.


" Ia tidak mengetahui alamatnya? Hanya nama ibu dan saudarinya ?" tanya polisi itu bingung


"Lantas bagaimana ? Apa kau bisa menjamin menemukan keluarganya ? " Tanya Hoon


"Ahh .....Akan kami usahakan sebaik mungkin hemmmm .... kau bisa mempercayakan nona Hari pada kami " ucap polisi itu sedikit ragu .


" Baiklah aku akan meninggalkan ia disini kuharap keluarganya bisa segera ditemukan"


Hoon menyalami polisi tersebut. polisi itupun menuntun mereka berdua untuk berpindah ke kursi tunggu yang terletak di pojok ruangan. di kursi itu nampak duduk beberapa pria setengah mabuk yang sibuk mengaduh dengan kesakitan masing masing, Hoon sedikit cemas namun ini jalan satu satunya ia juga harus segera kembali ke Incheon malam ini juga ,dan bersiap menerima kekecewaan Tuan Kang karena ia tidak membawa hasil yang baik sama sekali mengenai proses jual beli saham yang tengah diusahakannya.

__ADS_1


Hoon menuntun Hana untuk duduk di ujung kursi berdekatan dengan dinding " Nona Hari, aku Akan meninggalkanmu di sini, karena harus kembali ke Incheon, " kenapa pula ia harus menjelaskan mengenai tujuannya pada Hana ah.. padahal gadis itu sebenarnya tidak perlu tahu toh mereka tidak akan bertemu lagi, pikir Hoon.


Hoon mengeluarkan secarik kertas kartu nama bisnis dari dalam dompetnya, didalamnya tertera nomor telepon kantornya di club malam dan kasino. Ia lalu berlari kecil kesebuah meja pelayanan dimana terdapat pena kecil, ia lalu menuliskan nomor ponsel pribadinya di sisi sebelah kartu namanya.


Hoon berlutut dihadapan hana, ia menyelipkan kartu nama tersebut didalam genggaman Hana yang masih memegang tongkat lipat milknya.


" Beritahu polisi untuk menghubungi nomor ini jika kau belum juga menemukan keluargamu " pinta Hoon khawatir, meski sebenarnya Hoon tau jika kinerja kepolisian Korea tidak bisa diragukan, ah entahlah mungkin ia hanya berusaha agar Hana menghubunginya kelak entah itu saat ia tak bertemu orang tuanya atau ketika sudah berkumpul bersama keluarganya. intinya Hoon sebenarnya hanya ingin Hana mengingatnya.


" Ahjussi....qumawo " desir Hana pelan, Hoon hanya mengangguk, perlahan ia mulai melangkahkan kakinya menjauh, meninggalkan Hana bersama para berandal bodoh disampingnya.


...*****...


Hoon kembali menembus suasana malam kota seoul yang seakan tak pernah terlelap. gemerlap lampu seakan memanggil untuk menikmati pesona malam yang sarat akan kenikmatan. gedung dedung menjulang tinggi menegaskan bahwa kota ini memang salah satu yang terbaik di Asia.


Hoon menurunkan sedikit jendela mobilnya, lalu mengambil rokok dan dari saku mantelnya, ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyelipkannya diantara bibirnya lalu kembali mengambil pemantik dan menyalakan ujung rokoknya hingga asap mengepul disekitar wajahnya. Ia benar benar menikmati hisapan demi hisapan sambil memejamkan mata sejenak, pikirannya kalut membayangkan pandangan tetakhirnya pada hana tadi, beberapa pria badung disekitarnya selalu mencuri pandang kearahnya namun Hoon berusaha tenang ia menggelengkan kepala kuat penuh keyakinan jika Hana berada ditangan yang tepat, Bukankah itu kantor polisi ! ya batin Hoon membenarkan .


Ia kini sudah berada cukup jauh, Hoon meraih ponsel dan mengaktifkannya kembali, berharap bisa mengalihkan fikirannya dari Hana. sebuah pesan masuk hyung semuanya beres, kapan kau kembali ah Seo jun anak itu selalu saja bawel pikir Hoon. Hoon lalu membaca pesan selanjutnya oppa kapan kembali ?aku merindukanmu disusul emoticon Love yang sangat banyak Hoon tersenyum miring saat membaca pesan dari Sora. Ia lalu menaruh Ponselnya dengan gusar dikursi sebelah, Ia menoleh sejenak dan mendapati mantel hana yang masih disana.


Hoon memperlambat laju mobilnya, haruskah ia mengembalikannya ? tapi ia sudah terlalu jauh meninggalkan Hana, ah bukankah ia sudah menggantinya dengan yang baru. lantas mau diapakan mantel ini ? pikiran Hoon bercabang hingga tak memperhatikan lampu merah dihadapannya. ssttttt. Sial! ia berhenti mendadak, hari ini Hoon merasa seperti bukan dirinya. Hoon mengusap wajahnya dengan gusar lalu memijit pangkal hidungnya, ia tak payah menunggu lama Hoon memajukan mobilnya kedepan welewati zebra cross serta membanting stir dengan kasar dan melesat maju di jalur sebelah kanan...

__ADS_1


__ADS_2