
" Hyung kau yakin akan keseoul sendirian aku tak perlu ikut ? " cecar Seo jun , entah sudah berapa kali ia bertanya seperti itu sejak Hoon memutuskan untuk ke Seoul seorang diri.
" Aku bukan ke Daegu, hanya Seoul kau bisa menyusul jika mau " jawab Hoon sembari merapikan beberapa berkas yang perlu dibawanya, Hoon tidak membawa satupun pakaian ganti karena mengingat jarak Incheon ke Seoul hanya sekitar tiga puluh kilo meter .
" Hyung aku asistenmu Hyung bawa aku ,biasanya kau selalu membawaku " rengek Seo jun layaknya seorang adik yang meminta permen, Hoon sama sekali tidak bergeming ia melanjutkan aktifitasnya melempar dengan kasar ransel hitam di jok samping pengemudi. lalu masuk lewat pintu sebelahnya.
" Hyung malam ini tuan kang akan berkunjung ke club pulanglah sebelum ia datang " Seo jun akhirnya menyerah ia berusaha menerima Hoon yang sudah menyalakan mobilnya
" Hyung.. ingat pulang malam ini " teriak Seo jun kuat, ia menyaksikan mobil Hoon berjalan menjauhinya. aku akan mati malam ini Seo jun membatin mengingat kegarangan tuan kang jika menemukan sedikit saja hal yang tidak sesuai di club malamnya.
Hoon menyusuri jalanan kota Seoul ia berusaha menghubungi sebuah kontak di ponselnya namun tak ada jawaban. Hoon mengernyitkan dahi sambil memukul kuat stir mobil setelah sesaat melempar ponselnya di jok sebelah.
Ia kesal bukan main padahal pemegang saham lotus hotel milik ayahnya sudah sepakat akan menjual sahamnya pada Hoon. tapi malah membatakannya, Hoon bisa menduga ada campur tangan Park yoo chun dalam urusannya kali ini , padahal tuan kang sudah menyiapkan segala sesuatunya, selama ini tuan kang lah yang diam diam membeli saham lotus hotel atas nama Hoon. meski sebenarnya Hoon tak habis fikir mengapa tuan Kang begitu baik padanya tapi ah sudahlah bukankan dari dulu memang ia sudah baik sebagai gantinya Hoon harus melayani segala sesuatunya untuk tuan kang selayaknya budak.
Beberapa kali Hoon memencet bell sebuah rumah mewah yang terletak di kawasan Nonheyon dong , rumah tiga lantai itu nampak tak berpenghuni . hoon mengatupkan rahangnya kuat seakan menahan amarahnya, kini ia harus membujuk pemegang saham baru untuk menjual saham hotel kepadanya.
Hoon berkendara dengan kesal , ia mulai mencari bitol vodka portablenya yang memang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Hoon lalu meneguknya hingga setengah, persetan dengan berkendara sambil mabuk. pikirnya ia terus melajukan kendaraannya.
...****************...
" Ayah ajak aku ketaman bermain"
"Taman bermain?"
" Iya, setiap nonton drama bersama ahjumma ia selalu berkata pemerannya sedang berada di taman bermain, kenapa mereka selalu taman bermain bukankan taman bermain hanya untuk anak anak heh " Hana terkekeh , pak Jang juga tertawa mendengarnya.
" Mungkin mereka belum dewasa " Pak Jang menimpali " Baiklah tuan putri ayo kita ke taman bermain " Pak Jang mengatur kembali tujuannya di layar navigasi iya mencari taman bermain terdekat.
Hana tiba bersama ayahnya disebuah taman bermain yang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anak tk yang tengah bermain ayunan dan perosotan.
__ADS_1
Hana duduk disebuah kursi panjang, ia tak berhenti tersenyum mendengar gelak tawa anak anak yang bermain disekitarnya.
" Aku akan ke toserba diseberang jalan untuk membeli beberapa camilan , kau jangan kemana mana tetaplah duduk disini"
" Apakah jauh ? jika seseorang duduk disini apakah ayah akan terlihat jelas ?"
" Tentu saja bahkan dari sini ayah bisa melihat kasirnya memberikan uang kembalian "
" Tenarkah ? pergilah kalau begitu" hana tersenyum gembira mengetahui ia tak perlu khawatir, Hana sebenarnya sangat takut jika berada dilingkungan yang asing, sejak operasi terakhir pergantian katup jantungnya pak jang tak pernah sekalipun membiarkan hana keluar apartemen tanpa seijinnya meski bersama ahjumma sekalipun, dan ada alasan tersendiri mengapa pak jang tidak membiarkan hana tinggal bersama dirinya, ia ingin puterinya itu lebih nyaman dengan tinggal di apartemen yang tidak begitu luas namun mewah.
Pak Jang meletakkan setumpuk snack didalam keranjang dan menaruhnya di atas meja kasir, pak jang tak henti hentinya memantau Hana di seberang jalan sembari mengulas senyuman .
" Totalnya lima puluh ribu won " ucap sang kasir setelah menscan satu persatu belanjaan pak Jang.
Pak Jang mengeluarkan black card dari dalam dompetnya dan hendak membayar jumlah yang disebutkan. namun seketika kepalanya mendengung kuat disertai nyeri yang sangat hebat iya kembali Pak Jang membatin tangannya mulai bergetar hingga menjatuhkan kartu yang dipegangnya , nampak kasir dihadapannya cukup panik, sementara Pak Jang sudah bisa merasakan kelumpuhan di setengah tubuhnya bibirnya terasa kaku namun ia masih terus menatap hana yang menunggunya. bruk....tubuh Pak Jang ambruk.
Hoon memperhatikan dua orang anak yang bermain lempar bola, ia juga sering melakukannya bersama ayah dan ibunya dulu ah sial kenangan itu muncul lagi Hoon seakan ingin menutul setial lembaran dari masa lalunya namun dendam yang dirasakannya terlalu kuat ia tak bisa melupakan semua begitu saja.
" Nuna lempar bolanya " teriak anak itu.
Hana yang memang merasakan benda bulat menyentuh kakinya langsung menyadari teriakan itu ditujukan padanya. hana meletakkan tongkatnya disamping dan bergerak perlahan memungut bola dikakinya.
" Nuna cepatlah " teriak anak itu lagi tidak sabar.
niu niu niu........bunyi ambulance terdengar nyaring dan cepat hana tak bisa fokus lagi mendengar arah teriakan anak tersebut, ia hanya membuang bolanya langsung kearah depan sedikit meleset dari arah sang anak tengah berteriak, akibatnya bola melaju ke arah jalanan dan terpental semakin menjauh, satu persatu kendaraan bergantian menghempaskan bola hingga berakhir tak terlihat.
" Aaaaaa hikz " anak itu mengerang tak karuan mengucek matanya yang basah melihat kepergian bolanya, ia berfikir hana kesal karena kakinya terkena bola dan sengaja membuangnya jauh. kini hana tau arah tangisannya ia berjalan cepat tanpa meraba didepannya, menemukan sang anak yang masih berdiri.
" Nuna minta maaf ya " Hana berusaha membujuk anak tersebut ia sedikit berlutut dan meraba wajah anak itu untuk menghapus air matanya
__ADS_1
"Maafkan nuna, nuna akan menggantikan bolamu tunggu sampai ayah nuna kembali ya " bujuk Hana dengan rasa khawatir karena belum juga ada tanda tanda kedatangan ayahnya.
" Kenapa kau menagis anakku ? " ibu sang anak menghampiri entah dari mana saja dia sehingga membiarkan anaknya bermain seorang diri. anak tersebut berlari memeluk ibunya, seketìka semua akiftas ditaman bermain terhenti hana menjadi pusat perhatian para anak - anak dan ibunya.
" Nuna itu jahat ia membuang bolaku " adu sang anak
" Benar bibi nuna itu membuang bolanya kejalanan " sahut anak lain lagi disusul anggukan dari para ibu-ibu.
Ibu anak itu akhirnya menghampiri hana dan sedikit menyundul tubuhnya dengan ujung jari
" Mengapa kau membuang bolanya kejalanan? " tanya ibu itu kesal.
" Maafkan aku ahjumma aku akan menggantinya " hana memohon sambil menautkan kedua tangannya didepan dada.
" Ah sudahlah " ibu itu semakin kesal ia sekali lagi menyundul tubuh Hana degn jari, meski tidak terlalu keras namun cukup membuat tubuh hana terjerambap.
" Hei ahjumma " tegur Hoon ia tidak biasanya ikut campur dengan urusan orang lain namun kali ini pemandangan dihadapannya sudah sangat keterlaluan. " kau tidak lihat dia tidak bisa melihat " ucap Hoon tanpa ekspresi.
" Buta ? " gumam wanita itu pelan lalu menoleh ke arah Hana, sekelumit hal mengenai orang buta lantas terekam dibenaknya gadis itu memang tak pernah menatap matanya langsung. ia buru buru membantunya berdiri dan membersihkan sisa sisa pasir yang melekat pada baju Hana.
" Nona apa kau buta ? " tanya ibu itu untuk lebih meyakinkan dirinya , ia melihata mata Hana, sepasang mata indah tanpa cacat sedikitpun bahkan matanya lebih indah dari pada orang normal kebanyakan .
Hana hanya mengangguk pelan, kembali sang ibu melihat mata hana sebuah mata yang hanya menatap lurus kedepan. ibu itu segera membungkuk meminta maaf dan menarik putranya untuk melakukan hal yang sama.
" Maaf kan aku nona mengapa kau tak katakan sejak awal , ah aku jadi merasa bersalah "ujar ibu itu nampak malu, sekeliling pun merubah pandangannya terhadap Hana menjadi tatapan penuh rasa iba. ibu itu menuntun hana untuk duduk kembali ke kursi panjang di belakangnya.
" Maafkan aku nona " tak henti hentinya ibu itu meminta maaf, sambil memberikan tongkat lipat yang ada dikursi itu ketangan Hana , seakan tau jika benda tersebut milik gadis itu.
"Iya ahjumma maafkan aku juga , aku tidak bisa melihat sehingga salah membuang bola anakmu , ini adalah kesalahanku , biarkan aku menggantinya " ucap Hana lembut
__ADS_1
"Tidak usah nona maafkan aku , aku akan pergi bersama anakku " ucap ibu itu sembari menarik tangan putranya menjauh dari hana, tak lupa ia sedikt menudukkan kepalanya kearah Hoon yang berdiri sambil melipat kedua tangannya didada.
Salju turun perlahan, Hana teringat ucapan sang ayah jika salju akan turun disore hari dan jika perkiraannya tidak salah mungkin sekarang baru pukul sebelas siang.