
Ahjumma berlari lari kecil dari kamarnya saat mendengar suara bell dari pintu masuk, ia sudah siap dengan style musim dingin ala wanita paroh baya kota Seoul, sebelum membuka pintu ia terlebih dahulu memicingkan mata dari balik Door viewer , ia bisa melihat pengawal Lee yang sudah siaga untuk mengantarkan mereka. Ahjumma tidak langsung membuka pintu ia memanggil Hana terlebih dahulu yang masih duduk di tepi tempat tidurnya.
" Hana yaa....Jang Hana...ayo kita berangkat pengawal Lee sudah tiba "
Hana berjalan cepat dari kamarnya, beberapa perabot dengan lancar ia hindari agar langkahnya tidak tersandung, sepuluh tahun tinggal di kondominium mewah itu membuatnya sudah menghapal semua tata letak barang barang.
Begitu pintu terbuka pengawal Lee segera menundukkan kepala memberi hormat pada dua orang wanita dihadapannya, ahjumma membalas dengan anggukan kepala sedangkan Hana hanya berdiri seraya tersenyum ramah.
" Ehem..." pengewal Lee berdehem nampak salah tingkah menyaksikan tampilan Hana hari ini. Jika tanpa make up saja Hana terlihat sangat cantik bagaimana dengan make up yang dipakainya hari ini, ia terlihat begitu menawan.
" Bagaimana pengawal Lee bukankah nona kita sangat cantik hari ini " ahjumma berusaha menggoda pengawal Lee karena tidak tahan melihat tingkah gugupnya.
" Ahjumma..ahh..." mendengar celotehan ahjumma Hana yang sedari tadi berdiri disamping pengasuhnya itu juga terlihat malu dan salah tingkah , masih belum hilang diingatannya bagaimana pengawal Lee hampir menyaksikan pemeriksaan jantungnya.
" Baiklah baiklah kalau begitu ayo kita pergi " ucap ahjumma sambil menahan tawa, saat pintu hendak tertutup sempurna terdengar deringan telepon dari dalam, ahjumma meminta ijin untuk menjawab panggilan itu dulu, wanita bertubuh gempal itu kembali masuk dengan terburu buru.
Pengawal Lee menarik pelan lengan Hana agar keluar dari dalam dan berdiri disampingnya ia membiarkan pintu menutup sendiri dan meninggalkan ahjumma yang masih berbicara di telepon. Tak lama kemudian ahjumma keluar dari dalam dengan wajah yang sedikit memelas.
" Siapa yang menelfon ahjumma? " tanya Hana lembut
Ahjumma terlihat menghela nafas dan menggigit bibir bawahnya , ada gurat ragu yang tersirat dari wajahnya yang sudah mulai menua.
" Bagaimana ini pengawal Lee , Soo young putriku tiba tiba akan kembali ke Amerika, ia memintaku untuk menjenguknya sebentar dirumah, dia tidak memintaku untuk mengantarnya kebandara hanya menjenguknya sebentar saja " Ahjumma memicingkan jari telunjuk dan jempolnya, lalu berbalik menatap Hana " Hana...bisa kita tunda dua jaammm saja ya..." pinta Ahjumma pada memohon agar bisa memgambil jatah harian yang sudah diatur oleh Pak Jang.
__ADS_1
" Tidak mengapa ahjumma, waktu itu aku juga pergi berdua bersama pengawal Lee ayah bahkan tidak marah , paman Park juga memujiku " Hana masih tersenyum ramah, namun ahjumma tidak setuju ia menggelengkan kepalanya kuat, waktu itu adalah yang terakhir kalinya ia tak ingin pak Jang menganggap dirinya tidak becus menjaga Hana.
" Jangan anakku, aku akan tetap ikut, tidak perlu dua jam, cukup satu jam saja, tunggu aku bersama pengawal Lee di coffe shoo**p disamping rumah sakit , aku akan menemui kalian disana "
" Setuju " ucap Hana bahagia.
mereka bertiga lalu berjalan menuju lift, dibawah pengawal Lee sudah menyiapkan mobil sedan BMW keluaran terbaru yang biasa dipakai Pak Jang ke kantornya. Pengawal Lee mendudukkan Hana di kursi depan, sedangkan ahjumma berangkat sendiri . mereka saling melambaikan tangan sebelum akhirnya ahjumma pergi dengan taxi yang sudah dipesannya.
" Baiklah nona kita akan segera berangkat "
" Pengawal Lee ..." panggil Hana lembut ia lalu memberi isyarat jika safety beltnya belum dipasangkan.
" Ah iya " pengawal Lee sedikit memajukan tubuhnya kedekat Hana hingga bau farfum gadis itu terasa begitu lembut diindra penciumannya, krekkk...sabuk pengamanpun telah terpasang. Mobil sedan itu melaju perlahan menembus guyuran salju tipis yang menyapa menemani setiap putaran roda perjalanan mereka.
Sudut bibirnya senantiasa terangkat sepanjang perjalanan, membuat pengawal Lee gemas sendiri, ia tak tahan jika harus mengabaikannya bila ada yang bisa mengalihkan profesionalitasnya maka itu adalah senyuman Hana.
" Apa kau sebahagia itu nona? "
" Apa terlalu kentara pengawal Lee? " Hana mencoba menahan senyumannya.
Ia rasanya ingin mencubit hidung nona yang mancung
" Iya nona apa kau sangat bahagia ingin bertemu presdir? "
" Sangat.... sangat .....senang pengawal Lee" jawab Hana semangat.
__ADS_1
Pengawal Lee tertawa lebar , setelah beberapa waktu berlalu mereka berbincang ria, tak ada lagi rasa kikuk Hana yang masih mengingat kejadian diruangan pemeriksaan jantung. pengawal Lee baru ingat dengan tongkat Hana yang ditinggalkannya dikantor polisi tempo hari, ia lalu meraih benda itu dari atas dashboard dan meletakkannya di pangkuan Hana.
" Maaf nona aku baru memberikannya "
Hana merabanya dan segera mengenali tongkat miliknya dari ukiran namanya yang ditulis dengan huruf Braile, yah hanya dua huruf itu yang diketahuinya, Ha dan na ia benar benar buta akan segalanya karena ayahnya tak pernah mengijinkan dirinya ikut belajar bersama para penyandang tuna netra lainnya.
" Terima kasih pengawal Lee " Hana menoleh kearah pengawalnya dan mengangguk pelan.
" Sama sama nona " ucap pengawal lee santai diiringi senyum yang merekah.
Hana menghela nafas seketika bisikan kata kata Hoon masih menggema ditelinganya Hubungi aku, nomor ponselku ada pada pengawalmu Hana menggigit bibir bawahnya seraya memegang tongkat lipatnya, ia masih ingin bertanya jika kemungkinan pengawal lee juga sudah menemukan kartu nama yang ia hilangkan.
"Pengawal Lee" panggil Hana.
"Iya nona"
"Apa kau juga sudah menemukan kartu nama Hoon oppa? pria yang menolongku?"
Seketika raut wajah pengawal Lee berubah,ia menelan saliva dengan kasar seraya mengingat kembali keberaniannya kepada pak Park, meminta agar pria tua itu memberitahu Hana dan Hoon jika mereka adalah saudara sedarah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman diantara keduanya, pengawal Lee bahkan berasumsi jika ada perasaan yang tidak seharusnya diantara mereka berdua, meski hanya dugaan namun apa salahnya untuk meluruskan. Namun pak Park hanya tersenyum penuh makna tersembunyi dan meminta pengawal Lee untuk menyerahkan semua urusan Hana dan Hoon kepadanya.
" Nona Hana, maafkan aku tapi kartu nama pemberiannya sama sekali tidak bisa kutemukan ," ucap pengawal Lee datar ia kembali berbohong bukan untuk selamanya tapi sampai pak Park memberi tahu yang sesungguhnya pada dua orang ini, "lagi pula kau akan segera menemuinya, tidak lama lagi!"
"Ah iya bukankah ayah sudah berjanji akan mengundangnya makan malam dirumah besar, " Hana kembali mangut mangut semangat,mengingat saat ia bisa melihat tentu ayahnya akan mengajaknya tinggal bersama dirumah besar.
Pengawal Lee menaikkan sebelah sudut bibirnya, karena bukan malam yg disebut pak Jang yang ia maksud, namun sesegera mungkin Hana akan bertemu Hoon sebagai saudaranya.
__ADS_1