
"Ahjussi" panggil Hana lembut seakan tau jika Hoon tengah berdiri tak jauh darinya. Hoon hanya menoleh acuh ,tanpa menjawab panggilan Hana ia lalu mengambil sebatang rokok dan menyempilkannya diantara kedua bibirnya, dan satu tangannya mulai mengangkat pemantik.
"Ahjussi...."
Hoon batal menyalakan pemantiknya ia menyimpan kembali rokok dan pemantik di saku mantel, lalu sedikit merapatkan mantel nya dan mengedarkan pendangan malas ke sekeliling.
" Kau memanggilku ?" tanya Hoon "Ahjussi " Hoon tertawa kecil mengulang perkataan Hana padahal beberapa gadis di Incheon dengan manja memanggilnya Oppa tak terkecuali So ra. Hoon kembali memasang wajah dingin " kenapa?" tanya Hoon lagi dengan nada sedatar lapangan sepak bola.
" Apakah ada toserba diseberang jalan sana ? " Hana mengacungkan telunjuknya kedepan.
Hoon memeriksa mata Hana dengan mengibaskan beberapa kali tangannya di depan wajahnya, namun gadis itu sama sekali tak berkedip, Hoon pikir Hana masih bisa melihat Toserba diseberang jalan meski sedikit kabur namun ternyata wanita itu benar benar buta total.
Hoon kembali duduk di kursi tepat di sebelah Hana, ia kembali menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam
"Ada yang kau inginkan dari toserba itu ? " ujar Hoon dengan mulut dan hidung yang dipenuhi asap.
"Aku sedang menunggu ayahku ia pergi membelikan ku camilan di toserba itu"
Hoon teringat pada ambulance yang membawa pasien dari dalam toserba sekitar lima belas menit yang lalu tapi ia menepisnya Hoon memicingkan matanya dan melihat masih banyak orang yang berlalu lalang di toserba itu, mungkin salah satunya adalah ayah dari gadis cantik yang duduk disebelahnya ini.
"Tunggulah! mungkin ia akan segera datang" ucap Hoon masih sambil menghisap rokoknya
Hana jadi sedikit lebih tenang, ia pikir ayahnya meninggalkannya meski itu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan pak Jang.
"Ahjussi aku mencium bau terbakar "
" Aku merokok " jelas Hoon ia lalu mematikan rokoknya yang tinggal setengah itu dengan cara menginjaknya hingga lepes diatas tanah.
" Oh rokok....seperti yang dilakukan orang orang didrama " tebak Hana sambil tersenyum dan mengendus dengan hidungnya yang mancung
"Jadi ini adalah bau rokok itu" Hana masih bisa mencium baunya meski Hoon sudah mematikannya.
__ADS_1
Hoon memperhatikan wajah Hana yang semakin dekat dengan wajahnya, gadis itu masih berusaha mengendus asal bau rokok yang diciumnya hingga bibir tipis nan mungilnya yang dilapisi lip balm pink sangat dengan bibir Hoon.
"Ehem ..." Hoon berdehem kuat, menyadari suara Hoon yang terlalu dekat, Hana lantas menarik wajahnya menjauh.
" Maafkan aku ahjussi " Hana menunduk meminta maaf namun Hoon tak begitu peduli.
Salju yang turun semakin lebat Hoon melirik jam yang melingkar di pergelangan kirinya, lalu sibuk mengutak atik ponselnya, kembali menghubungi nomor yang seharian ini selalu mereject panggilannya. " sial.... " umpat Hoon pelan tanpa terdengar Hana ia lalu beraanjak, berjalan menuju mobilnya tanpa sepatah katapun atau hanya sekedar berpamitan pada gadis disebelahnya.
"Ahjussi " panggil hana lembut karena ia mendengar langkah kaki yang menjauh darinya , namun terlambat Hoon sudah berada didalam mobilnya, ia sempat melirik Hana sebelum benar benar meninggalkan area taman bermain.
Hoon kembali kerumah mewah yang didatangi sebelumnya namun suasananya masih sama seperti semuka, rumah berlantai tiga itu nampak kosong. Hoon lalu masuk kedalam mobil dan membuka sebuah situs yang memuat berita berita mengenai para pengusaha Korea, harga saham Lotus Hotel diperkirakan akan terus menerus mengalami penurunan disusul rumor mengenai presiden direkturnya yakni Jang won shik diduga sedang dalam kondisi sakit serta tidak memiliki calon penerus. seperti itulah isi berita yang dibaca Hoon.
Hoon memang sudah merencanakan ini sejak rumor mengenai kesehatan ayahnya memburuk, yakni membeli semua saham dari para pemegang saham resmi yang senantiasa ikut dalam rapat pemegang saham. namun ia baru mengumpulkan lima persen saham dari total 40 persen saham milik rekan ayahnya sementara sisa saham enam puluh persen masih menjadi hak milik ayahnya, ia tidak mungkin kembali tanpa persiapan, jika 20 persen saham sudah dimilikinya maka ia hanya perlu mengambil haknya lagi untuk menjadi seorang presdir dan mendepak ayahnya beserta paman park.
Hoon kembali menembus guyuran salju, ia hanya berputar putar untuk menghilangkan rasa penat dikepalanya dikarenakan kedatangannya ke Seoul benar benar tak membuahkan hasil. Mobilnya bergerak perlahan ditengah jalanan yang licin. Kota Seoul benar benar menjelma menjadi kota Serba putih, gunungan salju kecil nampak berjejer di pinggir jalan, pepohonan juga diselimuti benda halus nan putih itu. matahari nampak muram, mendung dan kelabu seakan bersemayam diatas langit, jam digital di mobil Hoon menunjukkan pukul tiga sore, saatnya kembali ke Incheon pikirnya, Seo jun akan sangat ketakutan jika harus menghadapi Tuan Kang sendiri saat memeriksa berbagai pembukuan yang ada di club.
Hoon kembali melewati jalan menuju taman bermain. Hoon menoleh dan masih melihat gadis buta itu duduk ditengah guyuran salju yang lebat. entah mengapa Hoon yang terkenal berhati dingin itu tiba tiba menepikan mobilnya dan berjalan mendekati Hana.
"Ahjussi" Hana bisa mengenali suara itu, rambut hitammnya dipenuhi salju, matanya sembab karena menangis. selama beberapa jam ia hanya duduk mematung tak tahu harus melakukan apa, ini pertama kalinya ia sendiri didunia luar.
Hoon melihat toserba dihadapannya sudah tutup, ia sedikit heran padahal ini masih pukul tiga sore.
" Nona toserbanya sudah tutup kau yakin ayahmu ke toserba itu"
" iya aku yakin " jawab hana mantap tanpa keraguan sedikitpun
" Aku akan mengantarmu pulang apa kau tau rumahmu ? " Hoon tak percaya pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, seseorang yang menurutnya tak memiliki rasa iba, sudahlah ! tepis Hoon sendiri mungkin karena ia seorang gadis buta.
Hana menggeleng pelan sambil tertunduk dalam, Hoon melihat tangan Hana yang tidak dibalut kaos tangan nyaris beku, sesekali hana juga mengatupkan rahangnya kuat karena kedinginan.
" Kau mau masuk ke mobilku" ucap Hoon menawarkan bantuan, kali ini ia sendiri bingung dirinya seperti bukan Hoon yang dikenalnya.
Hana mengangguk setuju, ia lantas berdiri lalu menghempaskan tongkat lipatnya hingga memanjang. Hoon mau tak mau harus meraih tangan hana, ia menggenggam tangan kecil gadis itu yang sedingin es batu dan menuntun langkahnya perlahan masuk kedalam mobil sportnya kemudian ia duduk di jok pengemudi tepat disamping Hana.
__ADS_1
Hoon menaikkan suhu pemanas di mobilnya agar Hana bisa lebih hangat, mantel bulu yang dikenakan Hana nampak sangat lembap dan basah begitu pula sepatu boot yang dipakainya.
"Kau bisa melepaskan sepatumu "
"Baiklah ahjussi " Hana melepaskan Bootnya dan membiarkan hawa hangat memeluk tubuhnya.
"Lepaskan mantelmu itu juga sangat lembap" usul Hoon karena suhu dimobil begitu hangat ia ingin agar Hana bisa menstabilkan suhu tubuhnya.
Tanpa pikir panjang Hana langsung melepas satu persatu kancing mantelnya.
"Aku tidak bermaksud apa apa aku hanya ingin kau hangat " ucap Hoon karena ia sadar jika perintahnya bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Hana terhenti sebentar lalu melanjutkan melepaskan mantelnya , untungnya sweater rajut yang digunakannya masih terasa kering.
"Heh " Hoon terkekeh tidak percaya, gadis disampingnya ini benar benar sepolos kertas putih.
"Kau benar benar tidak tau alamatmu sendiri ?" tanya Hoon heran .
" Aku hanya tahu jika tinggal disebuah apartemen "
Hoon sumringah ia tak habis fikir jika gadis ini benar benar tak tahu alamat rumahnya.
" Aku akan mengantarmu ke kantor polisi , jika kau tidak tahu alamatmu setidaknya kau tahu nama ayahmu , apa pekerjaan nya atau informasi lainnya "
" A...." Hana membuka mulutnya sebntar dan menutupnya lagi, ia teringat perkataan ahjumma jika ayahnya bukanlah orang sembarangan dan tidak boleh tersandung rumor apapun, bagaimana jika ia menyebutkan nama ayahnya lalu ayahnya akan di cap sebagai pria buruk yang meninggalkan anaknya di depan toserba. Hana tertunduk lesu ia berusaha menstimulasi fikirannya jika ayahnya mungkin ada keperluan mendadak hingga melupakan keberadaannya. iya ! kenapa ia tidak berfikir seperti ini sedari tadi? jika begitu ia tak perlu menagis sesegukan menunggu sang ayah karena ia yakin ayahnya pasti kembali.
" Ahjussi biarkan aku di mobilmu sebentar , setelah itu aku akan kembali menunggu ayahku "
" Hufhtttt " Hoon menghela nafas panjang " baiklah " ucap Hoon pasrah, ia semakin tidak bisa percaya jika kemungkinan gadis ini juga tak tahu siapa nama ayahnya.
" Hoon menyetel sebuah musik " dan sedikit menyandarkan kursinya kebelakang ia melipat kedua tangannya dan menatap lurus kedepan melihat satu persatu butiran salju yang jatuh menyelimuti setiap yang dihinggapinya.
Hoon menatap Hana, gadis itu tengah tertidur pulas , secepat itu ? pikir Hoon padahal baru tadi mereka saling berbicara. Gurat lelah nampak jelas di wajah cantiknya, Hoon menurunkan posisi sandaran kursi Hana kebelakang agar gadis itu bisa tidur lebih nyaman. Pria dingin itu menelan ludah saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Hana. sial ! mengapa tuhan menciptakannya begitu rupawan namun tak bisa melihat. batin Hoon bergejolak bagaimanapun ia tetaplah pria dewasa yang menyukai keindahan lawan jenisnya. Namun ia bisa segera menguasai dirinya.
__ADS_1