Love Me Oppa

Love Me Oppa
Bab 26


__ADS_3

Pelayan Kim menunjukkan kamar Hoon dan Seo Jun yang terletak dilantai dua, kamar Seo Jun berada paling pojok sedangkan kamar Hoon dan Hana saling berdampingan, ia juga menunjukkan beberapa kamar tamu, gym, kolam berenang, perpustakaan pribadi, ruang balet pribadi Hana , dan ruangan khusus untuk menyimpan piala dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan Hana.


Setiap melihat sesuatu yang berhubungan dengan Hana, Hoon menjadi yakin jika gadis yang diliputi dengan gelimangan harta itu tentu tumbuh menjadi seorang gadis arogan dan sombong.


...***...


Seo Jun dan Hoon kembali kerumah sakit, Seo Jun mengamati wajah Hoon yang tak bisa menyembunyikan rasa gugup bercampur emosi yang tengah dirasakannya ini kali pertamanya setelah dua puluh dua tahun ia akan bertemu dengan ayah yang dianggap telah membuangnya itu.


"Hyung aku akan menunggumu di mobil" ucap Seo Jun yang sama sekali tidak beranjak dari jok samping kemudi sementara Hoon yang setengah badannya keluar hanya berdehem setuju lalu menutup pintu.


Ia melangkah perlahan dengan kedua tangan berada disaku mantelnya, tak menunggu waktu lama lift sudah membawanya dilantai tiga puluh tempat ayahnya dirawat, ini sudah sesuai dengan petunjuk pak Park.


Hoon menghela nafas berat saat kedua kakinya nampak berdiri didepan sebuah pintu yang bertuliskan vip, perlahan tangannya menggerakkan handle pintu hingga terbuka perlahan, ruangan bernuansa putih itu nampak begitu luas dan elegan dengan segala fasilitas mewah khas rumah sakit didalamnya.


Hoon mememukan sosok itu, seseorang yang bertanggung jawab atas semua kemalangan yang menimpa dirinya dan ibunya, dia tergolek lemah tak berdaya seraya memejamkan mata, ia hanya seorang diri karena pak park sedang berbicara dengan dokter Yoon taek il di ruangannya sementara Hana, Ahjumma dan pengawal Lee pergi memeriksakan kesehatan Hana.


Hoon tak menyadari jika langkahnya sudah semakin mendekat, ia menatap lekat wajah sang ayah, ada emosi yang memuncak hingga membuat urat lehernya menegang, kedua tangannyanya mengepal sempurna, seketika desiran darahnya menjalar hingga memuncak diubun ubun, ia tak mungkin melakukan kekerasan di sini, dirumah sakit kepada seseorang yang sekarat, lagi pula ia tak pernah berniat membalas dendam dengan cara seperti itu.


Hoon menghela nafas gusar, kakinya terasa bergetar hingga seakan tak bisa berdiri sempurna, ia memutar badannya namun langkahnya terhenti sebuah suara parau.


"Hoon aaaa," panggil pak Jang lirih , menyadari jika punggung kekar dihadapannya adalah milik putranya.Hoon tak menoleh ia berusaha mengatur nafasnya lalu kembali melangkah.

__ADS_1


"Hoon aaa..." panggil pak Jang sekali lagi ia kini berusaha bangkit dari tidurnya dengan sisa nyawa yang berusaha dikuatkan. Pak Jang menghempaskan selimut yang membalut setengah tubuhnya lalu memijaki lantai tanpa alas kaki. dengan langkah gontai ia akhirnya sampai tepat di belakang Hoon. Tubuh lemahnya berlutut tak berdaya mengingat seberapa dalam ia membuat putranya itu menderita.


"Aku tahu kau tak ingin mendengar kata maaf Hoon! aku tak akan mengucapkannya agar kau tak bisa memaafkanku" lirih dan parau suara pak Jang terdengar, sudut matanya mulai basah mengamati tubuh Hoon dari atas kebawah , putra kebanggaannya dulu kini tumbuh begitu tinggi dan gagah.


Hoon menghela nafas sambil berkacang pinggang, kepalanya mendongak keatas menatap langit langit lalu kembali menundukkan kepala, dibibirnya terulas senyim smirk yang nampak kejam.


"Kembali lah berbaring, toh aku juga sudah pulang, bukankah kepulanganku sudah menjawab dan menyelesaikan segalanya" tutur Hoon malas, tanpa membalikkan tubuhnya.


Ada rasa sakit yang seakan menghujam tepat dijantung pak Jang, sikap dingin Hoon membuatnya merasa seperti ayah yang semakin buruk, buruk bagi putra dan juga putrinya.


"qumawoo Hoon aa" ucap pak Jang dengan deraian air mata, ia memang tidak pantas untuk dimaafkan, seperti ini saja sudah cukup baik baginya.


Hoon melangkah menjauh meninggalkan ayahnya yang masih dalam posisi berlutut, hingga hilang dibalik pintu.


"Won shik a...." Pak park segera memapah tubuh lemah pak Jang kembali ketempat tidur. Tangannya dicegah saat ia hendak kembali berlari keluar dan mengejar Hoon.


"Sudahlah, kau sudah berhasir Park Yoo Chun, Hoon benar benar sudah kembali" tutur pak Jang


Pak Park kembali duduk di samping ranjang, "apa katanya? apa tadi ia menyuruhmu berlutut ?" ucap pak Park geram.


"Tidak ia bahkan tak mau melihat wajahku, tapi kau sudah berhasil Yoo chun a...aku titipkan Hoon padamu uruslah segala keperluannya selama ia di Seoul, segera adakan rapat pemegang saham dan perkenalkan ia sebagai presiden direktur yang baru"

__ADS_1


"Secepat itu? Kau masih hidup Jang won shik!"


"Aku tak ingin menunda waktu lagi, lihat aku , aku tidak punya banyak waklu lagi. Urus kepulanganku dari rumah sakit aku ingin berkumpul bersama mereka!"


Pak Park menunduk pasrah sambil menghela nafas "Baiklah semua akan sesuai rencanamu" ucapnya.


...***...


Lift yang ditumpangi Hoon berhenti dilantai dua yang terdapat beberapa ruang pemeriksaan para dokter spesialis, dua orang yang memang ingin ke lantai keluar dari lift. Entah mengapa Hoon turut serta ikut dibelakang mereka, sekelibat masalah dikepala membuatnya tidak fokus padahal ia tadi menekan tombol lantai satu.


"Pengawal Lee aku ingin ke toilet," ucap Hana saat baru keluar dari ruangan pemeriksaan dokter spesialis jantung, Ahjumma masih didalam mencermati penjelasan dokter sementara pengawal lee menunggu diluar.


"Aku akan mengantar Nona!" pengawal Lee sigap memegang tangan Hana, gadis itu tersenyum lalu melepaskan genggaman pengawal Lee.


"Aku tahu jalannya pengawal Lee, dipojok koridor kan?," Hana menunjuk" Aku sudah sepuluh tahun disini, rumah sakit ini serasa seperti rumah kedua ku" ucap Hana dengan senyum simpul yang manis.


"Baiklah nona kalau begitu" Pengawal Lee membiarkan, namun tetap memantau Hana yang melangkah mantap dengan tongkatnya.


"aish....sial" umpat Hoon saat tak menemukan lobi rumah sakit, ia hanya berputar putar disekitaran lantai dua dan membawanya diruangan paling belakang lantai tersebut.


Saat kembali hendak melangkàh dua bola Hoon menatap tajam kepojok koridor, matanya memicing untuk lebih meyakinkan jika gadis yang kini tengah berjalan dengan tongkat ditangannya itu adalah gadis buta yang selama ini ia tunggu tunggu kabarnya.

__ADS_1


Hoon melangkah perlahan lahan, lalu sedikit mempercepat langkahnya hingga ia berlari lari kecil melewati pengawal Lee yang tak menyadari jika seseorang yang berlalu dihadapannya adalah Jang Hoon, Pengawal Lee segera berlari tatkala pria yang melewatinya terlihat mendekap Hana.


Dua bola mata Hana membulat sempurna, tongkatnya terjatuh dan sekujur tubuhnya terasa kaku saat tubuh mungilnya didekap pada sebuah dada bidang yang terasa begitu kekar, nafas Hoon yang saling memburu bahkan terdengar begitu jelas ditelinga Hana.


__ADS_2