
Hana duduk di tepi tempat tidur, pandangan gelapnya menatap lurus kearah balkon, pintu kaca geser ia biarkan sedikt terbuka hingga hawa dingin menyeruak masuk padahal suhu diluar masih dibawah sepuluh derajat celcius, ia hanya mengenakan sweater rajut berwarna biru muda dipadukan celana panjang hitam berbahan wol, rambutnya tertata rapi dengan kunciran bagian atas sedangkan separuhnya dibiarkan tergerai indah, tatapan gelapnya terlihat kosong sementara fikirannya melayang dan bertanya tanya, apa sebenarnya yang tengah terjadi disekelilingnya? semua orang seperti bersikap aneh ayahnya yang tak ingin dikunjungi, ahjumma yang terdengar berubah sedih saat ia bertanya mengenai ayahnya meski wanita beetubuh gempal itu terdengar menyembunyikannya dengan tawa yang disengaja namun Hana masih bisa menyadarinya, apakah sesulit ini menjadi orang buta? saat pertanyaan itu muncul ia mulai berfikir jika keadaannya memang membutnya nampak bodoh.
" Hana ya...." ahjumma tetiba masuk dan langsung menutup pintu balkon dengan rapat, ia menghela nafas berat lalu menaikkan sedikit suhu pemanas ruangan dikamar yang terlihat polos itu, hanya ada tempat tidur dan sebuah meja yang diatasnya tidak ditata apapun serta sebuah lemari berisikan pakaian yang biasa Hana gunakan
Hana bergeming, tatapannya masih sama tanpa peduli jika suhu di kamarnya sudah mulai berubah, ada rasa kesal yang menghimpit didadanya hingga ia mulai merasa sesak dengan keadaannya sendiri.
" Ahjumma apa ayahku sakit ? " tanya Hana, ini bukan kali pertamanya rasa sesak itu menimbulkan kecurigaan.
Ahjumma hanya menatap penuh rasa iba, tentu ia sudah sering mendengar pertanyaan yang dilontarkan Hana dan berapa kalipun ia hanya akan menjawab
" Tak ada yang perlu kau khawatirkan anakku " seperti jawaban yang kemarin kemarin, yah Pak Park sudah berpesan jika Hana tak boleh mengetahui keadaan ayahnya yang sebenarnya dikarenakan kondisi tubuhnya yang lemah.
Hana hanya tersenyum miris dengan jawaban klise sang pengasuh entah mengapa ia merasa semua orang disekitarnya tengah berbohong. la sudah menderita dengan kondisinya selama dua puluh tahun ini namun tak pernah sekalipun membuatnya menyesal terlahir entah itu sebagai Hari maupun Hana, ia tetap berusaha tersenyum meski hanya kegelapan yang senantiasa menemaninya.
" Ahjumma apakah paman Park sudah menghubungimu? "
" Sudah sayang, baru saja, aku langsung kesini begitu panggilannya selesai .
" Apa katanya "
__ADS_1
" Katanya kau sudah boleh bertemu ayahmu. " Ahjumma berusaha menekankan nada ceria pada setiap kalimat yang diungkapkannya , Rona murung Hana seketika sirna.
" Benarkah Ahjumma? " seulas senyuman dibibir Hana membuyarkan segala kekhawatirannya ia tak peduli apakah bertemu dirumah sakit atau ayahnya yang datang kemari seperti biasanya , seketika ia kembali menjadi pribadi yang polos dan ceria, bayangan bayangan mengerikan mengenai keadaan ayahnya yang sakit seketika sirna.
waktu yang ditentukan pak Park tiba, Ahjumma membantu Hana bersiap siap memilihkan bluse putih , sweater, dan jaket musim dingin yang akan ia kenakan , tak lupa syal dan juga kaos tangan, semuanya sudah tergelatak begitu saja diatas tempat tidur, Hana yang hanya memakai pakaian dalam minim mulai mengenakan satu persatu yang telah tersedia dibantu ahjumma tentunya karena diusianya hingga dua puluh tahun ini ia memang tak pernah bisa sepenuhnya mandiri.
Hana nampak elegan dengan balutan bluse putih, ia sangat ingin memperlihatkan penampilan terbaiknya pada sang ayah, ahjumma menyisir rambut gadis cantik itu dan membiarkannya tergerai indah, ia lalu merapikan poni yang menambah kesan sempurna pada wajahnya.
Hana memoles sendiri lipstik merah darahnya.
Di kediaman Tuan Kang
" Ini demi kebaikanmu Hoon, kesempatan yang baik seperti ini tidak akan datang dua kali, ingat anak pertama diatas segala galanya mereka adalah pemegang kekuasaan " Tutur Tuan Kang masih sambil menghisap cerutu mahalnya, pipinya yang keriput nampak kembang kempis menikmati setiap hisapan nikotin, tar dan racun racun lainnya.
Wajahnya masih nampak tenang seraya duduk dikursi berporos di ruangan kerjanya, namun isi kepala seakan berontak ingin segera dikeluarkan ia sudah tak sabar mengatakan secepatnya kau harus pergi ambil semua yang kau punya lalu bawa padaku !
Hoon mengepalkan kepalang tangannya kuat di atas pangkuannya, pria tua yang sudah menolongnya ini benar benar tidak menyisakan privasi baginya, kemungkinan sebuah alat pelacak diletakkannya dikantor Hoon, Seo Jun sebagai orang terdekatnya pun belum mengetahui prihal saudara yang dibilang Pak Park.
" Ingat Hoon ada aku yang selalu mendukungmu " ujar Tuan Kang seraya memperlihatkan deretan gigi putih tulangnya, sorot matanya mengiba layaknya dua anjing pitbull miliknya saat merengek meminta makan.
__ADS_1
Dari luar terdengar hentakan Boot dengan tumit keras penuh amarah , Hoon tuan Kang menoleh bersamaan pada pintu yang masih tertutup mereka berdua sudah bisa menebak, tak lama kemudian So ra muncul dengan tatapan penih kebencian kepada ayahnya yang kembali menghisap cerutunya santai.
" Ayah ! mengapa ada orang lain yang menduduki kantor oppa di club ? para pelayan juga memanggilnya dengan sebutan manager " ucap So ra berapi api seraya memukul meja dihadapan tuan Kang dengan kedua tangannya, ia tak bisa berhenti mendengus kesal dengan sorot mata tajam bagai sebilah pisau yang siap merobek robek jantung Tuan Kang. Pria tua yang dianggapnya manusia paling bertanggung jawab atas penolakan yang selalu ia terima dari Hoon.
Hoon hanya tersenyum miris ia memang tak melihat So ra beberapa waktu ini mungkin karena terlalu sibuk berkencan dan pesta bersama teman temanya, sehingga gadis manja itu tak tahu apa yang diperbuat Tuan Kang pada Hoon, ia terpaksa mengambil langkah berani untuk memecat Hoon agar pria itu kembali kepada keluarganya dan membuat seseorang dari casino menggantikan jabatan Hoon dengan paksa, Hoon bisa apa ia memang sudah menduga demi ambisinya tuan Kang bisa melakukan segala cara.
" KANG SO RA ! " bentak Tuan Kang keras, " Dimana sopan santunmu pada ayahmu ? " Tuan Kang mengacungkan telunjuk tepat didepan hidung So ra, ia lalu mematikan cerutunya dengan gusar diatas asbak.
Hoon yang masih dalam posisi duduk melipat kedua tangannya lalu menyenderkan punggungnya santai menunggu tontonan apa yang akan disajikan kedua orang penuh ambisi dihadapannya, ia hanya menyeringai meremehkan saat mendengar tuan Kang mencari sopan santun pada putrinya yang ia sendiri tak pernah miliki.
" Oppa ! mengapa kau membiarkan ayah melakukan ini padamu, ia menendangmu setelah apa yang kau lakukan untuknya? " So ra berbalik menoleh kepada Hoon di sampingnya lalu kembali menatap tajam sang ayah " Ayah ! kembalikan jabatan oppa sekarang juga ! "
" So ra sudahlah hentikan ocehanmu " pinta Hoon malas, namun dua orang dihadapnnya itu masih beradu pandang.
Wajah Tuan Kang nampak memerah kesal bukan karena kelakuan So ra tapi caranya membela Hoon dengan tatapan penuh cinta dan nafsu masih tersirat jelas padahal sudah berapa kali ia mengatakan meski seluruh pria musnah dimuka bumi ia dan Hoon tetap tidak akan pernah bisa bersama.
" SO RA EOMMA !! " teriak Tuan Kang dengan suara yang keras pada sang istri, seketika nyonya Kang yang yeng tengah menikmati menyeruput teh hangatnya di depan perapian listrik tersentak mendengar suara gaduh yang berasal dari lantai dua padahal rumah mereka sangat besar dan luas namun suara tuan Kang terdengar begitu lantang. Nyonya Kang segera berlari meninggalkan secangkir teh hangatnya dan menghambur masuk kedalam ruang kerja suaminya, ia mendapati suami dan anaknya masih beradu argumen sementara Hoon hanya terdiam seraya memijit pelipisnya acuh padahal mereka sedang meributkan masalah mengenai dirinya.
" Kang sora keluar sekarang juga ! " seakan tahu maksud teriakan suaminya ia lekas menyuruh putrinya untuk segera keluar, Hoon menoleh dan mendapati nyonya Kang sudah berdiri di pintu yang terbuka, tidak seprti biasanya wanita paroh baya itu mengulas seutas senyuman ramah padanya, Hoon hanya mengangguk pelan memberi hormat seraya tersenyum miring, kemungkinan Nyonya Kang sudah diberitahu oleh suaminya mengenai kepulangannya dan keuntungan yang bisa didapatkan suaminya itu.
Nyonya Kang segera menarik dengan kasar tangan anaknya itu meninggalkan tuan Kang dan Hoon yang masih harus melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1