
Hoon dan Hana duduk saling berhadapan disebuah cafetaria rumah sakit, karena ini di rumah sakit sehingga rata rata pengunjungnya adalah dokter, perawat dan beberapa staf medis lainnya, ada pula pengunjung besifat umum seperti mereka namun tidak begitu banyak.
Hoon memilih kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah jendela kaca besar, dari sana ia bisa melihat Seo Jun dari kejauhan yang tengah menyesap rokoknya perlahan dan berdiri disamping mobil.
"Aku selalu memikirkan bagaimana kabarmu setelah kau bertemu dengan keluargamu" ucap Hoon memgawali bincang bincang mereka.
"Aku baik, aku sangat ingin mengucapkan terima kasih bersama ayahku tapi__" Hana menjeda kata katanya lalu menaikkan tangannya diatas meja dan menemukan segelas vanilla latte panas disana aduh..... Hana merasakan ujung jarinya yang sedikit terbakar. Sigap Hoon segera meraih kedua tangan Hana dengan posisi setengah berdiri dan meniupnya pelan hingga gadis itu lagi merasakan sakit.
Beberapa manusia lalu lalang disekitar mereka menatap malu malu tingkah lucu Hoon, membuat pria itu tersadar jika lagi lagi zat dopamin memainkan peran penting dikepalanya.
"Aku tidak apa apa Oppa" ucap Hana dengan wajah merona.Hoon kembali duduk,ia menghela nafas sangat panjang dan membuka beberapa kancing mantel dibagian dadanya, hawa di cafetaria dirasakannya begitu panas hingga masuk kedalam dadanya.
"Ayahku sangat ingin berterima kasih padamu tapi saat ini ia sedang sakit," Hana tertunduk lesu sejenak lalu kembali mengangkat wajah cantiknya dengan rona bahagia "tapi saat sembuh nanti ia berjanji akan menemukan oppa dan mengajakmu makan malam bersama di rumah besar kami" Hana nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi miliknya.
Mendengar penjelasan Hana yang begitu polosnya Hoon berusaha menahan tawa, mengapa ia mengatakan rumah besar? Apa rumahnya memang sebesar itu?ah sebagai anak orang kaya Hana nampak sangat lugu. Pikir Hoon.
"Ah...iya rumah besar," ucap Hoon mangut mangut masih sambil mengulum senyuman dibibir sexinya " Apa ayahmu dirawat dirumah sakit ini?" tanya Hoon kali ini dengan nada sedikit serius.
"Iya! Kata ayahku, orang tua seperti dia keluar masuk rumah sakit adalah hal biasa, meski begitu......aku sedikit khawatir, aku selalu merasa ada yang disembunyikan ayah padaku" Hana menghela nafas pasrah di ujung kalimatnya, namun tak ingin berlarut dalam kesedihan ia balik bertanya pada Hoon.
"Oppa! Kau sendiri Mengapa bisa disini?"
"Seorang kenalan lamaku juga dirawat disini" Jawab Hoon seraya melempar pandangannya jauh kedepan lalu terkekeh miris Heh.
"Ibumu ? Saudaramu? Bagaimana dengan mereka?" tanya Hoon sambil menyeruput coffe latte yang sudah mulai menghangat dihadapannya.
Hana menelan saliva dalam dalam, ibu! Saudara! Ia teringat pernah mengatakan jika Ahjumma dan Soo young adalah ibu dan saudaranya. Mungkin jika ia berkata jujur sekarang Hoon tidak akan mengecap dirinya sebagai seorang pembohong.
"Sebenarnya, ibuku....." namun belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya Hoon memotongnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tegur Hoon pada pengawal Lee yang datang dengan berlari tergopoh gopoh memghampirinya dan Hana, beberapa buliran keringat yang menghiasi wajahnya mengisyaratkan betapa beratnya perjalanan pria itu untuk menemukan mereka.
Beberapa waktu sebelumnya....
Sekonyong konyong pak Park datang menghampiri Pengawal Lee dan Ahjumma yang duduk berdampingan didepan ruangan pemeriksaan dokter spesialis jantung yang biasa menangani Hana. Ia sudah menelusuri beberapa lantai atas hingga lobi dan berjalan dipelataran parkir seraya mengedarkan pandangan namun ia tak juga menemukan sosok Hoon yang tengah dicarinya.
Kini tubuh tua pak Park berdiri sambil memegang tembok dan menghela nafas yang saling memburu. Ia kembali mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Hoon namun lagi lagi jawaban yang sama dari operator yang mengatakan jika nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
Pengawal Lee segera berdiri dan memberi hormat disusul Ahjumma lalu mereka berdua saling melempar pandangan bingung.
"Ada apa Pak Park?" tanya pengawal Lee bingung.
Sebelum menjawab pak Park nampak masih berusaha mengatur nafasnya.
"Ah iya benar sekali pengawal Lee kau pernah melihat Hoon kan? Kau pasti tahu bagaimana wajahnya! apa selama berada disini kau tidak melihatnya?" tanya Pak Park
"Aku melihatnya beberapa waktu lalu ia disini dan menyapa nona Hana"
Kali ini giliran pak park yang menautkan dua alisnya, ia begitu benci dengan ayahnya tapi pergi menyapa saudarinya?
Pak Park segera menepuk jidatnya kuat, ia lupa jika Hoon adalah pria yang m
enolong Hana beberapa waktu lalu.
"Ah! Anak itu tak bisa dihubungi, aku takut jika ia berubah fikiran setelah bertemu ayahnya" gumam pak Park kepada dirinya sendiri.
"Pengawal Lee..." pak park menarik bahu pengawal Lee agar lebih dekat padanya, ia menatap pengawal Lee dengan tatapan menginterogasi, pria dua puluh sembilan tahun itupun menurut saja.
"Jadi maksudmu Hoon tadi disini dan menemui Hana?"
__ADS_1
"Benar pak!" Jawab Pengawal Lee mantap.
Pak park terlihat membelai dagunya dan mendesis beberapa kali, fikirannya berusaha mencerna peristiwa yang terjadi dilantai dua rumah sakit ini.
"Hoon bisa dipastikan belum mengetahui siapa Hana sebenarnya" tutur pak park yang disambut tatapan kesal pengawal Lee. Pria itu menelan ludah, jika Hoon belum mengetahui Hana, lantas arti dari pelukan itu? Genggaman tangan yang begitu erat? Pengawal lee tiba tiba saja merasa ada amarah yang yang berasal dari dalam dirinya, ia kesal pada dirinya sendiri yang sudah gagal membaca situasi dan menjerumuskan dua saudara itu kedalam lubang kesesatan semakin dalam.
Pengawal lee langsung berbalik dan berlari menuju lift, namun ia menemukan jika lift tersebut tengah digunakan ia lalu berlari sekencang kencangnya menuju tangga darurat dan menuruni beberapa anak tangga menuju lantai dasar, meski ia sebenarnya sama sekali tak tahu kemana Hana dan Hoon pergi.
"PENGAWAL LEE!" Pekik pak Park kuat
"Pengawal Lee"Ahjumma juga ikut memanggil
"Jadi tuan muda Jang sama sekali tidak tahu Hana adalah saudaranya? Lantas bagaimana bisa ia bisa membawa Hana dan pengawal Lee mengijinkannya?Pengawal Lee benar benar ceroboh" Ahjumma berjalan mondar mandir sambil menggigit jarinya gugup, ia takut Hana kenapa-napa tapi yang membawanya adalah saudaranya sendiri?
Ahjumma nampak menengok kearah pak park yang terlihat sedang berfikir kerasa mengenai tingkah pengawal Lee barusan.
"Tuan apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya ahjumma bingung
"Tenanglah Ahjumma, Hana akan baik baik saja Hoon tidak punya alasan menyakiti Hana, Ini sesuatu yang wajar karena Hoon mengenal Hana sebagai gadis buta yang ia tolong saat Hana tersesat" Tutur pak Park berusaha menenangkan.
"Tersesat tuan? Maksud anda Hoon yang biasa diceritakan Hana padaku sebagai malaikat penolongnya adalah...."
"Jang Hoon!" sela pak Park
Ahjumma seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya, mengapa ada hal kebetulan seperti ini?padahal selama ini jika menceritakan mengenai Hoon, Hana terdengar sangat kasmaran.
"Ini harus segera diluruskan tuan, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi diantara dua orang itu, saya berharap mereka bisa saling menerima dan menyayangi begitu mengetahui hal yang sebenarnya"
"Saya juga berharap yang sama Ahjumma" sahut park mengangguki ucapan Ahjumma.
__ADS_1