
" Aku sudah mencoba won shik a...tapi jika kali ini gagal aku yang akan menjaga Hana selama sisa Hidup ku " jelas Pak Park seraya menatap Pak Jang dengan sayu, yah tentu saja mengapa ia tidak berfikir seperti itu sejak awal tak perlu ada Hoon diantara mereka , jika ia saja bisa menghabiskan waktu yang lama untuk melayani pak Jang mengapa ia tidak melanjutkannya untuk melayani Hana putrinya .Dua orang tua dengan rasa putus asa yang sama, pak Jang menghela nafas matanya berkaca kaca begitu pun dengan pak park , ia lekas berdiri dan membelakangi sahabatnya mendongak keatas menatap langit langit berusaha menahan bulir yang hendak tumpah.
" Kapan kau akan ke swiss? "
Pak Kang tersentak, ia menoleh bagaimana pria tua ini bisa tahu ?
Mereka berdua saling berpandangan, yah rasanya sudah terlalu lama hingga mereka menua bersama, bagai teriris sembilu pak Jang menyadari jika darah memang selalu lebih kental dari pada air. Persahabatan akan selalu kalah dengan keluarga, ada masa dimana usia menuntut untuk kita memilih salah satunya, ini alasan mengapa ia sudah enggan merepotkan pak Park lebih lama lagi.
" Jang won shik " parau Pak Kang menyebut nama sahabatnya , matanya memerah berusaha menahan bulir yang hendak jatuh. Kini Pria berkaca mata itu duduk tepat disamping ranjang pak Jang, ia meraih tangan pak Jang dan mencium punggung tangannya, dua tangan yang dipenuhi kerutan saling menggenggam erat.
" Sudah terlalu lama kau menjagaku hingga melalaikan keluargamu Aku tau kau melewatkan kelahiran cucu pertamamu demi aku " ujar pak Jang sembari menatap palvon putih diatasnya, air matanya jatuh membasahi kedua sudut mata sayunya
" pulanglah kawan tugasmu sudah selesai " lanjut pak Jang ia menyadari tuhan sudah sangat menyayanginya bahkan dekapan malaikat maut samar samar dirasakannya. Yah seperti ini rasanya ! Pikir pak Jang saat raga sudah tak mampu menopang Jiwa.
Pak Kang terisak dalam,, ia menegadah keatas sambil menghembuskan nafas kuat.
" yoo chun aaa" lirih Pak Jang memanggil nama Pak kang sudah sangat lama ia tidak memanggilnya seperti masa sekolah dahulu.
", pulanglah nikmati masa tuamu jangan pedulikan Hana ia akan baik baik saja " ujar Pak Jang dengan suara parau
__ADS_1
" i..yaa aku akan pulang , aku harus menggendong cucuku segera, aku harus menghadiri wisuda putri kedua ku di swis , aku akan menikmati masa tuaku dirumah pegunungan yang beli bersama istriku disana . Akhhh....." erangan Pak Jang tak tertahankan. sekali lagi tekadnya bulat Hoon harus berada disini sebelum semuanya terlambat.
Di ruangan Dokter Yoon Taek Il
" Kemoterapinya berhasil tapi mengapa keadaan pak Jang justru semakin memburuk ? " Pak Park mengusap kasar wajahnya, menelisik setiap gambar tumor dilayar monitor dokter Yoon yang tak akan pernah dimengertinya.
Dokter Yoon menghela nafas berat pria tua itu adalah salah satu pasiennya yang paling keras kepala jika saja ia melakukan kemoterapi sejak lama mungkin raganya masih bisa dengan mudah memcerna obat obatan yang dimasukkan.
" Kemoterapinya berhasil tapi tak ada gunanya jika pak Jang tidak memiliki semangat hidup yang kuat " ucap dokter Yoon seraya menyodorkan selembar kertas yang diberikan oleh dokter spesialis mata yang menangani Hana.
Pak Park membetulkan letak kacamatanya mengamati satu persatu kata yang tertera disana, dipojok paling kiri bawah ia menemukan goresan tanda tangan yang begitu dikenalinya, deg..jantungnya seakan berhenti berdetak ia tak menyangka sahabatnya itu akan melakukan tindakan sebesar ini bagi putrinya. Pak Park menatap dokter Yoon dengan mulut yang tergagap tak tahu harus berkata apa.
" Ini adalah rahasia medis! pak Jang sendiri yang ingin merahasiakannya namun Dokter Kim yang menangani Hana harus berkonsuktasi denganku sebelumnya, karena menghawatirkan efek kemoterapi yang kemungkinan bisa merusak jaringan dimatanya. dan sebagai seorang manusia aku harus mengatakan ini " tutur dokter Yoon .
" Lantas apa yang harus saya lakukan dokter? sebagai orang terdekatnya? " Tanya pak Park bingung ia tak tahu lagi harus melakukan apa jika semua sudah terlanjur seperti ini.
" Saya tidak meminta anda melakukan apapun karena ini murni kehendak Pak Jang, saya hanya berfikir sebagai orang terdekat harus tahu mengenai hal ini !"
Flashback.......
__ADS_1
" Bagaimana dokter? " pengawal Lee yang duduk disamping Hana memulai pembicaraan sesaat setelah Dokter Kim selesai memeriksa Mata Hana dengan Autorefractor .
" Matanya masih dalam keadaan yang sama pupil matanya masih bereaksi ketika ada cahaya yang berlebih, bukan begitu Hana? " Dokter menoleh sejenak kearah Hana , hingga gadis cantik itu mengangguk pelan membenarkan.
Pengawal Lee juga mangut mangut, menatap Hana lekat seraya tersenyum lembut membayangkan semoga masih ada Harapan bagi gadis malang itu itu bisa segera melihat.
setelah beberapa menit penjelasan singkat dokter Kim pada pengawal Lee dan Hana....
" Ah terima kasih dokter sepertinya Hana harus segera pulang" pengawal Lee mengulurkan tangan menjabat tangan dokter Kim, mereka bertiga bangkit dari peraduan, pengawal Lee menuntun Hana keluar dan diikuti Dokter Kim yang hendak mengantar mereka sampai di depan pintu. namun begitu hendak keluar Hana seketika menghentikan langkahnya.
Beberapa hari yang lalu ayahnya menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan guna mengetahui apakah kondisi matanya siap menerima donor mata kali ini, saat itu Hana begitu gembira karena secwrca harapan untuk melihat ayahnya kembali muncul.
" Dokter apakah pendonor kali ini cocok untuk ku? apa ia tidak menderita penyakit menular lagi ? " tanya Hana polos, sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin menanyakannya karena dokter Kim tak pernah menyinggung soal donor mata selama pemeriksaan.
Dokter Kim tersentak, bibirnya terasa kelu untuk harus memulai dari mana, ia memasukkan kedua tangannya di saku jas dokternya dan menghela nafas panjang, selain dokter ia juga seorang manusia ada rasa sedih yang menyeruak dari dalam, ia sudah menangani Hana sejak usia gadis itu sepuluh tahun setiap kali ditanya hal paling ingin dilihatnya adalah sang ayah namun ironi, kini yang menjadi pendonornya adalah ayahnya sendiri.
Pengawal Lee menatap heran kearah dokter Kim yang terdiam selama beberapa detik dengan ekspresi yang tidak wajar.
" Hana sshi..." Dokter Kim memegang kedua pundak Hana dan menatap lekat wajahnya ada pancaran bahagia disana yang tidak bisa ditutupinya.
__ADS_1
" Kau... harus bersabar , karena calon pendonor itu masih dalam tahap observasi.." tutur dokter Kim pelan.
" Baik dokter...! " sahut Hana mantap meski ia tidak paham maksud dari kata observasi yang diucapkan dokter Kim, dibenaknya kini hanya ada harapan tinggi tentang dirinya yang secepatnya akan bisa kembali melihat.