
Chapter 3 (Part 3)
Mimpi
Shumi hari itu mengubah seluruh jadwal yang biasanya ia lakukan di hari itu dan mengubahnya untuk bertemu dengan guru spiritualnya yang ia panggil Ibu Monata. Ia memerintahkan Shukoi untuk memberitahu Monata bahwa ia akan menemuinya, kemudian ia bersiap-siap.
Ia seorang nenek berumur 65 tahun yang mulai keriput, tapi namanya sangat tersohor di seluruh negri. Postur tubuhnya sekitar 170 cm dan berambut coklat gelap selalu ia uraikan sepanjang bahunya. Kulitnya yang putih dan bola mata yang hitam membuatnya masih cantik untuk seorang nenek. Dia adalah ahli di bidang psikologi kerajaan dan menjadi penasehat kerajaan.
Sekitar dua jam sejak Shumi memerintahkan Shukoi untuk bertemu Monata lebih dahulu, ia akhirnya tiba di gedung meditasi kerajaan yang biasa digunakan oleh Monata sehari-harinya. Lokasinya tidak menyatu dengan bangunan istana, tapi masih di dalam komplek istana bagian pojok sisi selatan. Butuh beberapa menit berjalan kaki untuk tiba disana.
“Hormat saya, Tuan Putri Shumi, sehat dan bahagia selalu,” sambut Monata sembari sedikit membungkuk di depan bangkunya.
Shumi mengangguk, “Terima kasih, Ibu Monata yang terhormat,” kemudian dia segera duduk di bangku yang telah disediakan, tepat di seberang posisi Monata berada saat ini. Di belakang Shumi, Shukoi yang tadi menarik bangku untuk memberi celah agar Shumi bisa duduk, kini juga ikut membungkuk. “Silahkan duduk, Ibu Monata dan Shukoi, dan aku ingin hanya kita bertiga di ruangan ini,” perintah Shumi lembut.
Semua langsung mengikuti perintah Shumi. Shukoi dan Monata duduk, sedangkan tiga orang prajurit yang ada di dalam ruangan itu bersama Monata berjalan pergi setelah memberikan penghormatan.
“Kau tampak sehat, Bu,” sapa Shumi sembari tersenyum memandang wajah Monata.
Monata tersenyum, “berkat doa Tuan Putri yang selalu memanggil nenek tua ini dengan sebutan Ibu,” balasnya. “Ada apa Tuan Putri? Sudah sebulan lebih Anda tidak berkunjung secara resmi seperti ini,” tanyanya.
“Ayah belum bicara padamu, Bu?” Shumi berbalik bertanya, “tentang mimpiku,” lanjutnya.
Monata sedikit tertawa. “Anda memang sangat tajam membaca situasi, Tuan Putri!” ujarnya, “ya, Yang Mulia Raja tadi pagi menemuiku sebentar sebelum pergi ke barak prajurit. Ia juga menduga Tuan Putri akan kemari, jadi saya tidak begitu kaget saat Shukoi menemui saya tadi,” jelasnya.
__ADS_1
“Ayah yang lebih pintar dariku, dia sudah tahu aku akan kesini ya?” sambut Shumi sedikit kecewa, “berarti aku tidak perlu menceritakan mimpiku ya?” tanyanya.
“Yang Mulia tidak mengatakan itu, Beliau hanya berpesan bahwa anda mengalami mimpi buruk yang sangat nyata dan sudah ketiga kalinya, sepertinya Tuan Putri akan membutuhkan saya. Begitu kira-kira perkataan Beliau, Tuan Putri,” jelas Monata.
“Baiklah,” jawab Shumi, kemudian ia menceritakan semua mimpi yang ia alami, baik dari mimpi yang pertama hingga mimpi yang baru saja ia alami semalam. Monata selalu terkejut setelah mendengar apa yang diceritakan olehnya, cerita demi cerita, bagian demi bagian, hingga ia terbangun setelah melihat seorang pria terbunuh dan menyisakan kengerian di dalam benaknya.
“Sihir yang orang itu gunakan adalah sihir hitam tingkat Atas, Tuan Putri,” ujar Monata.
“Dan Tuan Putri belum pernah mengetahui hal itu sebelumnya, Madam Monata,” jelas Shukoi.
“Ya, aku sama sekali belum pernah melihatnya sebelumnya,” tambah Shumi, “tapi, ada hal lain yang aku baru sadari, yakni pada mimpi pertama dan kedua, aku hanya seakan diperlihatkan sesuatu dan aku hanya seperti penonton pada sebuah pertunjukkan drama di atas panggung. Aku tidak merasakan perasaan dan pikiranku ikut bersama. Akan tetapi, di mimpi semalam, aku merasakan sesuatu. Aku merasakan kesedihan, ketakjuban dan ketakutan di saat bersamaan. Dan itu terbawa hingga aku terbangun.”
“Baik, kemudian, info apalagi yang dapat saya ketahui, Tuan Putri?” tanya Modena, “hal-hal seperti kegiatan yang sedang Anda lakukan dan menjadi sebuah yang membebani pikiran Tuan Putri?”
“Ya, a..a..aku seperti biasa, selalu melakukan rutinitasku yang telah ku jadwal sebelumnya, kecuali hari ini tentunya,” jawab Shumi pada akhirnya setelah terdiam beberapa detik, “aku berlatih panahan, teknik pernafasan, membaca di perpustakaan, bertemu beberapa orang di kota, dan ya memang, yang saat ini sedang membebani pikiranku adalah ramuan untuk Ibuku.”
“Bukankah setiap hari Yang Mulia sudah meminum ramuan buatan Anda, Tuan Putri?” tanya Modena.
“Iya, itu adalah ramuan yang ku ciptakan bersama Kepala Divisi Ramuan Militer dan tim terbaiknya, namun selama kita belum tahu apa penyakit Ibu, akan sulit menemukan ramuan yang benar-benar cocok," jawab Shumi, “kami selalu bekerja keras agar Ibu bisa sembuh.” Tanpa sadar, pikiran Shumi seakan mulai memutih dari kelamnya mimpinya semalam.
“Tapi, Yang Mulia Ratu terlihat semakin membaik, kan?” sahut Modena, “dua hari yang lalu saya ke kamar beliau karena ingin mendiskusikan tentang peraturan terkait prajurit wanita yang ingin menikah. Beliau sangat memperhatikan rakyatnya walau sedang lemah seperti itu. Hidup dan sehat selalu Yang Mulia Ratu Stephanie.”
“Terima kasih, Bu Modena," ujar Shumi, “ya, aku sangat mencemaskan kesehatan Ibu belakangan ini."
__ADS_1
“Baik, Tuan Putri," sahut Modena, “menurut saya, mungkin juga salah, tapi dari segi dunia psikologi, yang anda alami adalah masalah psikosis, dimana anda lebih tepatnya mengalami delusi yang seakan-akan tersampaikan pada mimpi anda, Tuan Putri," jelasnya lagi.
Shumi mulai makin goyah. Ia merasa apa yang dibicarakan mengenai kekuatan dan hadiah dari dewa adalah sebuah halusinasi belaka. “Tapi, bagaiman jika ini adalah suatu hadiah? Bagaimana jika aku adalah seorang indigo?” pungkas Shumi sembari sedikit melirik Shukoi, “Shukoi sudah sedikit menjelaskan tentang itu dan aku cukup percaya karena mimpi yang aku alami sangat nyata.”
Modena agak terkejut, ia diam sebentar. Kemudian, ia tersenyum dan berkata, “saya rasa tidak, Tuan Putri. Jika anda adalah seorang indigo, tanda-tanda mengenai itu akan sudah ada sejak anda masih kecil. Tapi, setahu saya, anda baru mengalami ini sejak malam setelah anda berulang tahun, bukan?”
Shumi kali ini terdiam lagi. Ia melirik Shukoi lagi dan ia tetap tidak berekspresi apapun. “Mungkin saja,” ujarnya lirih.
“Saran saya, Tuan Putri,” ujar Modena, “Anda mengurangi kesibukan anda dan perbanyak mengistirahatkan pikiran anda. Anda bisa jadi cukup bosan untuk tinggal dibalik tembok benteng ini, sehingga delusi anda mulai menguasai anda. Saya akan membantu bicara pada Paduka Raja agar anda bisa keluar setidaknya untuk berjalan-jalan ke kota lain.”
Shumi seakan-akan terlepas semua bebannya. Apa yang dibicarakan Modena sangat masuk logikanya dan melepas semua beban yang ia rasakan akhir-akhir ini. Ia memang sangat ingin pergi keluar kota dan mengetahu dunia secara langsung. Dia berfikir bahwa ia sudah dewasa dan cukup kuat, jika dikawal dengan prajurit elit kerajaan tentu, untuk berkeliling kerajaan. Sebagai pewaris tahta, ia sangat membutuhkan hal itu.
“Saya sudah berpuluh-puluh tahun mengatasi masalah ini, Tuan Putri, jadi tolong jangan meragukan saya,” ujar Modena memecahkan keheningan Shumi dan memotong pikirannya yang hampir dihinggapi kekuatan mimpinya lagi.
“Sepertinya begitu, Bu Modena,” sahut Shumi, “aku cukup baik sekarang, penjelasan anda sangat berguna.”
“Terima kasih, Tuanku!” balas Modena, “jangan hilangkan pikiran itu dengan meminum ramuan tertentu, Tuan Putri. Hal itu hanya bersifat sementara saja,” jelasnya menganjurkan.
“Hampir juga aku mengambil opsi itu, Bu,” ujar Shumi, “tapi memang, ramuan penenang itu hanya sementara saja.”
Tak lama setelah itu, mereka tak banyak melanjutkan perbincangan. Shumi yang gagal mendapatkan apa yang sebenarnya ia ingin tahu, kini merasa pikirannya kini jauh lebih jernih. Ia merasa hal ini lebih baik daripada ia harus berkutik pada sesuatu yang memang belum tentu kebenarannya. Walau jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, ada yang menolak apa yang telah disampaikan Modena itu. Tapi, logikanya dan jiwanya yang sangat positif membuatnya harus terus melangkah.
(Bersambung ke part akhir dari chapter ini…)
__ADS_1