
Chapter 4 (Part 2)
Berita Lama
“Mereka kaum Quartz?” tanya Shumi memotong.
“Ya, mereka adalah pengelana keturunan kaum putih. Rupanya mereka adalah utusan untuk Raja dan mereka menceritakan hal itu yang membuat Sang Ratu direncanakan untuk dihukum mati seminggu setelahnya. Sang Raja sangat marah padanya walau ia adalah istrinya sendiri. Akan tetapi, karena hal itu juga lah, bencana terjadi. Sang Ratu itu melakukan perjanjian dengan dunia bawah dan mendatangkan seorang iblis tepat saat ia akan dihukum mati. Saat itu, para petinggi kerajaan hadir dan kebetulan eksekusi dilakukan di dalam istana dan hanya disaksikan oleh petinggi kerajaan, ditambah juga disaksikan oleh wanita serta anak perempuan tadi. Ada beberapa petinggi kerajaan dan pengawal yang terbunuh. Beruntung, sang Raja yang memang ksatria hebat berhasil mengalahkan iblis itu,” Ratu Stephanie melanjutkan, “sayangnya, sebelum iblis itu lenyap, semua orang disana terkena sihir yang sangat kuat dan membunuh mereka semua pada akhirnya, kecuali anak perempuan itu.”
Shumi masih terdiam mendengarkan kisah itu. Ia menunggu lanjutan ceritanya, namun Ibunya tak kunjung meneruskan. Ia menatap Ibunya yang seperti masih terbawa di dalam ceritanya sendiri. “Kemudian?” tanya Shumi.
Ratu Stephanie kemudian menoleh dan menengok ke arah Shumi, “wanita yang membesarkan anak perempuan itu sebenarnya adalah pemilik tahta kerajaan yang sebenarnya. Ia bercerai dengan sang Raja yang selalu ingin berperang demi mempersatukan negara dan menikahi Ratu yang dihukum mati tadi karena adanya sebuah perjanjian damai pada suatu daerah yang ingin ia taklukan.
“dan tepat sebelum mantan istri raja itu tewas, ia meminta agar anak perempuan itu mau menjadi penerus tahta kerajaannya itu. Dan oleh karena kejadian itu, anak perempuan tadi dinobatkan sebagai ratu negri karena juga tidak ada satupun pewaris kerajaan, sama seperti mu.”
Shumi sedikit terkejut dan sedikit bingung untuk memahami apa maksud kalimat terakhir yang diucapkan Ibunya. Ia memang satu-satunya pewaris tahta saat ini, tapi ia adalah keturunan Sang Raja yang sedang berkuasa saat ini. Tapi, ia berfikir lebih positif dan meyakini yang dimaksudkan sama dengannya itu adalah sama-sama pewaris tunggal kerajaan suatu saat nanti.
“Apa anak perempuan itu menerimanya?” tanya Shumi mencoba memberikan tanggapan.
__ADS_1
“Awalnya tidak. Ia masih berusia sekitar 14 tahun dan tidak mengerti apapun soal kerajaan. Tapi seluruh pelosok negri menobatkannya. Mungkin karena ia dianggap terpilih oleh dewa karena bisa menjadi satu-satunya yang selamat dari insiden itu dan mengira bahwa ia adalah anak dari wanita yang membesarkannya itu. Akhirnya baginya semua itu adalah amanah dan ia menerimanya, kemudian ia menjadi seorang ratu,” jawab Ratu Stephanie.
“Tapi, ia berusaha keras untuk menjadi seorang pemimpin yang cakap. Demi janjinya pada orang yang ia anggap Ibunya itu, ia pun berhasil sedikit demi sedikit membawa kemakmuran. Tapi, ia tidak sendiri. Ia berteman baik dengan kawan ataupun lawan. Bahkan ia menikahi seorang ksatria yang dulunya adalah keturunan yang menyebabkan peperangan terjadi dan secara tidak langsung membuat orang tua kandungnya terbunuh. Ia bermimpi untuk menciptakan kedamaian di seluruh Arez ini, bahkan ia memulai hubungan dengan negara lain yang menurut sejarah, jauh di masa lalu, hubungan antara kerajaan itu terpecah dan tidak bersatu. Walau rencana baik itu kembali gagal.”
Shumi terkagum-kagum dengan sosok anak perempuan itu. “Hebat sekali wanita itu ya, Bu? Ia punya bakat yang hebat,” komentarnya. Kalimat tentang mimpi wanita itu untuk mewujudkan kedamaian di seluruh dunia tertanam dalam di benaknya.
“Tidak, Shumi. Ia hanya seorang pekerja keras dan bersyukur atas apa yang telah ia terima selama ini. Itu saja. Dan Shumi..” ujar Ratu Stephanie yang kemudian menggapai dan menggenggam tangan Shumi yang awalnya berada di atas paha memiliknya. “Aku rasa, kamu memiliki semangat dan kehebatan yang sama bahkan melebihi wanita itu, Shumi! Jika kamu dalam kondisi yang sama dengan anak itu, maukah kamu melakukan hal yang sama?” tanyanya.
Shumi kembali terkejut. Ia sedikit bingung harus bereaksi apa. Ia menatap mata Ibunya beberapa saat dan ia tahu betul bahwa Ibunya sedang bertanya serius. “A..aku mungkin saja melakukan hal yang sama, Bu,” jawab Shumi terbata-bata, “Shumi akan bekerja keras agar menjadi seperti perempuan itu, Ibu."
“Jika memang semua orang memberikan amanah seperti itu, mungkin Shumi akan seperti dia, Bu," jawab Shumi tersenyum membalas menggenggam tangan Ibunya, “wanita itu juga pasti ingin membalas budi atas apa yang telah menimpanya, kan? Jika itu permintaan orang yang membesarkannya dan seluruh warga negara itu, maka menurut Shumi itu adalah takdir, Bu.”
Ratu Stephanie tersenyum dan bibirnya sedikit bergetar. “Terima kasih, Nak!” ujarnya, “lalu, maukah kamu berjanji untuk menjalankan negri ini menjadi negri yang makmur saat waktunya tiba?”
Shumi berfikir dan sangat yakin bahwa Ibunya ingin ia sehebat wanita yang ada dalam ceritanya itu. “Ia Bu, Shumi berjanji,” jawabnya.
Ratu Stephanie kemudian memeluk Shumi. “Bagaimanapun, kamu adalah seseorang yang sangat Ibu sayangi,” ujarnya. Shumi membalas pelukannya sembari mengelus punggungnya.
__ADS_1
“Shumi juga sangat menyayangi Ibu,” jawab Shumi.
Beberapa saat mereka berpelukan, kemudian Ratu Stephanie melepaskannya perlahan. Ia mengambil sesuatu di balik bantal di sisi lain dari tempat ia duduk saat ini. Ia memberikan suatu benda kepada Shumi. “Ini adalah sebuah perkamen lama sekali. Ibu ingin kamu berjanji hanya akan membukanya jika Ibu atau Ayah sudah ada yang meninggal,” ujarnya.
Shumi terkejut dan menerimanya. “Ini bukan berarti Ibu mau menyerah kan?” tanya Shumi mulai khawatir.
“Tidak, anakku,” jawab Ratu Stephanie, “ibu yakin ramuan mu bisa menyembuhkan Ibu. Jadi, kamu akan membuka perkamen itu dalam waktu yang masih lama, mungkin, dan Ibu ingin kamu menyimpannya baik-baik.”
Shumi sedikit lega. “Baik, Bu!” jawab Shumi. “Shumi berjanji,” ujarnya
Hari bergulir dengan sangat cepat saat itu. Shumi menghabiskan waktu dengan Ibunya. Ia benar-benar merawatnya dengan penuh kasih sayang bahkan ia menemani ibunya yang sudah tertidur setelah meminum ramuannya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasa sangat ingin terus bersama dengan Ibunya hingga di ujung hari itu, Ayahnya pulang.
Shumi akhirnya berpamitan dan menuju kamarnya setelah berbincang sedikit mengenai pertemuan yang dilakukan Ayahnya. Kerajaan Hutan Putih memimta bantuan militer pada Kerajaan Bumi karena akan menghadapi perang melawan Kerajaan Hutan Hitam. Perang saudara yang terus terjadi lebih dari 100 tahun. Shumi merasa sedang tidak nyaman mendengarkan isu peperangan lagi setelah mendengarkan cerita pilu dari Ibunya, yang mengisahkan bagaimana nasib yang sangat menyedihkan untuk seorang korban perang. Setidaknya malam itu ia tidak ingin kepalanya diisi lagi dengan peperangan yang memuakkan.
Shumi mengakhiri hari itu tepat ketika sang waktu akan melompat ke hari berikutnya. Ia masih ternyiang akan bayangan cerita dari Ibunya tadi. Ia merasa apakah ia sanggup menjadi seorang pemimpin yang cakap? Ia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Ia hanya tahu hingga batas ujung dari sebuah teori dan zona yang sangat nyaman. Ia ingin memiliki pengalaman agar ia bisa mengetahui bagaimana keadaan dunia luar, hingga akhirnya ia tak sadar matanya telah terpejam.
(Bersambung ke part 3)
__ADS_1